Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!



Ziarah Blogger Timur Tengah; Datang tak diundang, pulang tak diantar…

Bagi anda blogger di tanah Jawi, silahkan bergabung pada acara Ziarah Blogger. Acara yang diadakan oleh Blogger Timur Tengah ini akan dilaksanakan pada tanggal 23 hingga 25 Januari 2009. Ide awal acara ini cukup sepele. Berawal dari plurk goblok, namun entah mengapa ternyata ditanggapi dengan serius oleh para jamaah blogger Jawi Wetan dan Jawi Tengah, utamanya komunitas blogger Surabaya (TPC). Tujuan acara ziarah ini hanyalah sekedar menyambung tali silaturahmi demi tetap tegaknya ukhuwah plurkiyah dan bloggeriyah. Jadi kami terbuka bagi siapa saja yang merasa blogger atau plurker untuk bergabung.

Prinsip acara ziarah ini adalah “datang tak diundang, pulang tak diantar”. Sebuah semboyan yang juga berasal dari ide goblok saya. Semboyan yang semakin menguatkan filosofi “Hidup adalah pringisan”. “Datang tak diundang, pulang tak diantar” menurut saya mempunyai makna yang begitu dalam. Kami terbuka bagi siapa saja, siapa saja yang akan datang kami persilahkan, semua swadaya-swakelola menuju swasembada. :D

Berikut rangkaian acara Ziarah Blogger : Read More

Frekuensi milik rakyat, bukan milik pemodal!

Malang kini benar-benar bernasib malang. Saya berani menjamin bahwa generasi muda Malang akan benar-benar menjadi generasi yang bodoh dan terbelakang. Terlebih bagi masyarakat yang hanya mengandalkan televisi sebagai satu-satunya media hiburan dan pengetahuan. Kita semua tahu, hanya sebagian kecil masyarakat Malang dan Indonesia yang dapat mengakses media internet. Konon seorang pakar foto bugil telah menghitungnya, hanya 68 persen saja! :D

Bayangkan sebuah rumah tangga yang kemampuan ekonominya terbatas. Tidak mungkin mereka bisa berlangganan majalah atau koran nan cerdas, membeli buku bermutu atau berlangganan akses internet. Mereka hanya mengandalkan kotak ajaib bernama televisi untuk sekedar mengetahui dunia yang luas ini. Namun apa yang terjadi jika stasiun televisi yang menyajikan acara-acara cerdas harus dipaksa tidak mengudara atas nama penegakan hukum. Sejak Desember lalu, stasiun televisi yang belum memiliki ijin frekuensi atau apalah namanya dipaksa untuk berhenti siaran. Praktis yang tersisa adalah pemain lama yang ternyata hanya mau mengeruk uang dari pengiklan tanpa memperhatikan mutu tayangannya. Yang ada hanya jajaran sinetron, shitnetron dan shitnetron. Tak kalah juga acara bocah-bocah cilik yang bernyanyi ala orang dewasa dengan gaya tak beda dengan pemain JAV yang sedang orgasme. Menghilang sudah ragam acara alternatif yang jauh lebih bermutu dibandingkan dengan shitnetron dan kontes menyanyi bocah sok gedhe itu.

Jika benar frekuensi adalah milik rakyat, tentu rakyat bisa menentukan pilihan apa yang layak ditontonnya. Rakyat bukan hanya tinggal pasrah menerima berbagai stasiun televisi yang berseliweran menunggangi frekuensi milik rakyat itu. KPI, depkominfo beserta kroninya harus tidak berhenti pada aspek teknis semacam ijin frekuensi. Namun jauh dari itu, masalah isi tayangan (content) harus pula diperhatikan. Jangan hanya tutup mata, asal ada pemodal yang mampu membeli frekuensi maka sang pemodal bisa sebebas-bebasnya membodohkan masyarakat. Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2009 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
26 queries. 0.096 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.