Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!



Surat terbuka untuk Tuhan, dari maling ayam…

Kepada : Yth. Tuhan Yang Maha Esa lagi Berkuasa

di mana saja berada.

Tuhan, aku adalah hambaMu. Hamba yang sangat hina lagi tercela. Aku tak pernah melakukan perintahMu, bahkan terlalu sering aku melanggar laranganMu. Terlalu sering aku melakukan kemaksiatan, Tuhan. Sudah berpuluh kali aku mencopet, mencuri hingga mengadu nasib dengan dadu. Aku sungguh hina, Tuhan.

Tuhan… Tapi aku juga hambaMu bukan? Berarti aku berhak untuk mendapatkan keadilanMu juga. Berulangkali aku dianiaya oleh hambaMu yang lain. Sering aku menerima pukulan, tendangan bahkan sundutan rokok yang panas. Sering aku disorot oleh kamera wartawan. Entah mengapa, wartawan itu begitu bernafsu melihat penderitaanku. Ketika aku dihakimi massa, para wartawan dengan tersenyum bengis puas mengabadikan gambarku. Darah dan ratapan ampun seolah menjadi penyedap dan hiburan bagi hambaMu yang lainnya. Tidak adil, Tuhan!

Padahal aku mencuri, mencopet bukan untuk menumpuk-numpuk kekayaan. Aku hanya sekedar ingin bertahan hidup dan menghidupi keluargaku. Aku hanya ingin anakku tetap makan, tetap sekolah dan kelak tak akan mengalami nasib sepertiku. Aku melakukan kejahatan ini bukan untuk bermewah-mewah, bukan untuk tinggal di Singapura atau membeli pulau di lautan sana. Bukan! Sekali lagi bukan! Aku yakin Kau tidak buta dan tuli seperti banyak hambaMu.

Memang, aku tidak pernah singgah di gedung bundar seperti hambaMu yang lain. Aku tidak pernah bertelepon mesra hingga basah dengan jaksa Remas Sahya Sahman. Jangankan meneleponnya, kenal pun aku tidak. Aku juga tidak pernah berfoto dengan Jenderal Polisi Sukanto. Aku tak mampu membayar Ocret Kalinggis, Eliza Sarip dan pengacara mahal lainnya. Aku tidak kenal dengan Al Aming, Buliyan, Yahya Jaini dan para anggota DPR yang terhormat itu, Tuhan.

Tapi aku tetap hambaMu, bukan? Lalu kenapa aku selalu diperlakukan tidak adil. Aku selalu disiksa, kepalaku digunduli, punggungku disundut rokok, wajahku lebam karena pukulan. Kenapa, Tuhan? Jawab Tuhan… Please…. Read More

Mari perbesar kemaluan kita dengan semangat proklamasi…

Tanpa terasa kita telah memasuki bulan Agustus. Sebuah bulan yang dianggap keramat oleh Bangsa Indonesia. Pada bulan ini, Bangsa Indonesia lepas dari belenggu penjajahan. Seperti tahun-tahun lalu, bulan Agustus selalu diisi dengan ritual yang membosankan. Semoga saja kita tidak merasa bosan oleh peringatan itu-itu saja. Apalah arti gegap gempita acara peringatan kemerdekaan? Yang terpenting kita semua mampu dan mau memahami arti kemerdekaan.

Peringatan kemerdekaan RI yang ke-63, tahun ini diwarnai dengan berbagai peristiwa yang menghebohkan. Mulai dari skandal para jaksa yang kurang terhormat, tingkah mesum anggota dpr yang tak kalah hinanya hingga kebodohan anggota KPUD yang tak mampu berhitung. Serangkaian peristiwa memalukan dan memilukan itu harus kita renungkan bersama. Mengapa bisa terjadi. Apakah ini yang disebut dengan kemerdekaan. Merdeka untuk bertindak tanpa mempedulikan norma yang ada. Merdeka dalam memuaskan sahwat. Tentu bukan itu yang ada di benak Soekarno dan kawan-kawannya.

Kunci dari semua masalah itu adalah kemaluan. Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk memperbesar kemaluan masing-masing. Dengan kemaluan yang besar niscaya KPK tidak perlu membuat baju khusus untuk Nurdin Halid dan kawan-kawannya. Kini kita seolah tak punya kemaluan, toh kalaupun ada seolah kemaluan kita hanya bahan pajangan semata. Tak ada rasa malu untuk menyerobot lampu merah, tiada rasa malu untuk meminta upeti, tiada rasa malu untuk mengambil uang rakyat.

Mari secara bertahap kita perbesar kemaluan kita. Mulai dari yang sederhana. Mulai senin depan, kurangi penggunaan akses internet kantor untuk ngeblog! Ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang besar kemaluannya!

***kabur***

NB : Google reader saya numpuk sampai 784 biji, diapain ya? Maaf, seminggu ini saya banyak pekerjaan. Yah beginilah tanggung jawab sebagai abdi negara dan abdi masyarakat! ***kabur lagi***



Berpikir Merdeka © 2007-2009 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
26 queries. 0.105 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.