Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!



Stop Press; Nggilani dan memuakkan…

Saya terhenyak dan kaget bukan kepalang siang ini. Saat baru saja merebahkan diri di kasur yang kumal di kos-kosan sembari mengupdate RSS detik.com di HP. Sebuah berita yang menurut saya NGGILANI, MEMUAKKAN dan MEMALUKAN datang dari gedung bundar, sebuah gedung yang konon teramat mesum.

tvnow apk following up Jakarta – Kejagung memberi tugas baru pada mantan Jampidsus Kemas Yahya Rahman dan eks Direktur Penyidikan pada Pidana Khusus Kejagung M. Salim. Dua jaksa yang terkait suap Artalyta Suryani itu dijadikan pemantau kasus korupsi yang nilainya di bawah Rp 10 miliar.

“Jadi bukan diaktifkan sebab tidak pernah dinonaktifkan. Mereka ditugaskan sebagai pemantau kasus-kasus korupsi di Kejari maupun di Kejati. Bukan pengendali kasus korupsi,” kata Kapuspenkum Kejagung M Jasman Panjaitan kepada detikcom, Senin (23/2/2009).

Kemas dan Salim, sebelumnya, dipindahkan menjadi staf ahli Kejagung sebagai sanksi administratif karena terlibat kasus suap Artalyta.

Jasman menjelaskan, pemberian tugas baru bagi Kemas dan Salim terkait dengan perubahan kebijakan penanganan korupsi di Kejagung. Kejagung membagi penanganan korupsi berdasarkan jumlah kerugian negara. Baca selengkapnya…

Bagaimana? Nggilani bukan?

Saya jadi teringat cerita Balada tante girang dengan Jamput, Jancuk dan Jembut di negeri Melasnesia. Oh yes…

Kecakot Andy bukan Kick Andy…

Hujan badai ternyata tidak menyurutkan langkah saya untuk menuju kota laknat berjuluk Ja[ncu]karta. Sore itu, saya meninggalkan Bogor diiringi oleh hawa dingin dan guyuran air hujan. Menumpang kereta listrik jelata, saya membawa rasa penasaran yang teramat besar. Rasa penasaran terhadap sosok blogger tanah Jawi yang telah tertulis dalam kitab babad blogger Jawi.

Perjalanan tak semulus yang saya harap. Kereta listrik jelata harus dengan sabar berjalan tertatih-tatih. Sudah menjadi kebiasaan perusahaan jasa kereta api yang sering merugi itu, entah signal rusak, entah wesel rusak, entah bantalan rel rusak, entah masinis masuk angin, entah kondektur menerima suap, entah berhubungan intim dengan calo, entahlah…

Ketika adzan Isya’ berkumandang, kereta masih berada di antara stasiun Juanda dan Mangga Besar. Yah di tengah-tengah rel itu kereta jelata harus berhenti dan mengantri. Sang blogger tanah Jawi pun tak sabar sehingga seringkali menghubungi HP saya. Rupanya dia khawatir saya tersesat di belantara beton.

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan di tengah rintik hujan saya sampai juga di wetiga. Disana sang blogger tanah Jawi yang legendaris itu tengah ndrenges tertawa bersama Bang Riyogarta dan istrinya. Juga tampak beberapa mahkluk lain disana. Kami mengobrol aneka topik, mulai dari merajut, masa kelam sang blogger tanah Jawi, kisah hidup mas Riyogarta hingga tentang RS[?]. Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2009 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
26 queries. 0.095 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.