Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!



Halal haram tidak seperti hitam putih…

Di sebuah pemondokan mahasiswa, tengah hadir seorang mahasiswa anggota triple C (Club Celana Cingkrang). Seperti biasa obrolan pun berlangsung dengan hangatnya hingga sampai pada topik asuransi dan bank. Kebetulan ada seorang rekan yang baru saja bergabung menjadi tim marketing sebuah perusahaan asu ransi. Iseng-iseng dia membuka obrolan dengan menawarkan produk asuransinya. Ah, namanya juga usaha.

Si triple C langsung menolak mentah-mentah tawaran itu. Bukan itu saja, berbagai dalil diungkapkannya tentang keharaman asuransi dan juga perbankan. Dengan berapi-api si triple C berusaha menyadarkan teman-temannya. Perdebatan pun berlangsung dengan seru dan menjadi debat kusir. Topik pun berkembang pada rokok. Kebetulan penghuni pemondokan mayoritas adalah ahli hisap bin perokok hebat. Lagi-lagi dalil berkumandang!

Setelah bosan memperdebatkan asuransi dan perbankan, topik pun beralih. Giliran si triple C yang membuat topik baru, kebetulan dia belum punya SIM dan ingin mengurus kepemilikan SIM. Usut punya usut si triple C ingin mengurus SIM secara instan saja. Katanya biar lebih mudah dan gampang.

Giliran si triple C diberondong berbagai dalil tentang korupsi, suap, kolusi dan berbagai kebusukan lain. Setelah diinterogasi, KTP si triple C juga hasil suap menyuap. Interogasi bahkan berlanjut sampai pada OS yang digunakan pada komputer si triple C yang ternyata juga jelas mengandung lemak babi alias haram! Lha si triple C memakai Windows bajakan. Karena dikerjakan dengan menggunakan Windows bajakan, maka skripsi si triple C bisa dikategorikan haram! Ijazahnya juga haram! Ketika bekerja maka uang gajinya juga haram!

Jadi menurut sampean apa makna tersembunyi dibalik cerita itu?

Meneladani Nabi…

Sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh kyai bernama Kyai Gemblung tengah mengadakan pengajian rutin dengan santri-santrinya.

Kyai Gemblung : “Santri-santriku semua… Kalian harus meneladani Nabi kita. Semua tindak-tanduknya harus kita teladani! Ya kayak Kyai ini yang selalu pakai baju gamis.”

Santri Mrosal : “Lho, kyai. Sampean ojo sakenak udhele sampean yen nyonthong!”

Kyai Gemblung : “Lha, ini contoh gak bener! Mbok sama kyai yang sopan!”

Santri Mrosal : “Lha kyai sendiri gak pernah meneladani Nabi. Nabi dulu kalau bepergian naik onta kok kyai malah dengan pongah naik New CRV pemberian calon gubernur itu!”

Santri Mbeling : “Ada lagi kyai. Nabi dulu juga gak pernah bikin partai. Lha sampean kok malah bentrok sama saudara sendiri gara-gara par tai itu!”

Santri Cerdas : ” Nabi dulu gak pernah pakai PDA, kok sampean malah punya PDA dan HP mahal hasil pemberian anggota DPR!”

Santri nDugal : “Nabi dulu gak pernah membangun rumah mewah berkedok pesantren!”

Santri Cerewet : “Sudahlah kyai! Saya sudah muak dengan sampean!”

Akhirnya santri-santri itu meninggalkan Kyai Gemblung. Kyai Gemblung hanya bisa merenung dan merenung. Seluruh santri pun sepakat untuk mencari kyai yang lain. Memang saat ini susah menemukan kyai yang sebenarnya. Banyak kyai yang hanya jadi foto model iklan ritual mbalon (maju bakal calon) saja!

Semoga mereka bisa bertemu dengan Kyai Slamet. Yah, paling banter mereka akan diajak ngombe toak bareng tukang becak!



Berpikir Merdeka © 2007-2009 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
26 queries. 0.101 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.