Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!



Darah itu merah, jenderal…

Dua jenderal kini sedang bersitegang. Lucu… Apa lagi kalau bukan berebut simpati rakyatnya untuk pesta blogger 2009 kelak. Jenderal yang satu kini sedang duduk manis di singgasana nan empuk, walau mengaku sering tidak bisa tidur memikirkan rakyat kenaikan harga minyak dunia. Sedangkan jenderal satunya lagi sedang bersiap untuk merebut singgasana nan empuk itu. Perang iklan pun terjadi dan tak ubahnya seperti iklan operator telepon seluler. Bagaimana dengan rakyatnya? Ya biarlah rakyat menikmati perang itu sambil meringis terhimpit beban hidup negeri ini.

Saya bukannya membela jenderal yang lagi duduk di singgasana itu, tapi… Saya yakin siapapun yang berada di singgasana saat ini pasti dibuat MUMET NDASE. Langkah untuk mengurangi subsidi BBM alias menaikkan harga BBM pasti akan diambil. Bagaimana lagi? Bukankah ini dosa warisan dari seorang jenderal yang telah tiada itu… Jadi masihkah kita percaya pada para jenderal?

Istiqomah…

Istiqomah atau konsistensi saat ini sedang menjadi sebuah kebutuhan wajib bagi para pejabat negeri ini. Istiqomah dalam menjalankan amanat rakyat haruslah menjadi kewajiban yang tak bisa dielakkan bagi para pemegang amanat ituh. Pemerintah SBY yang berjanji akan memberantas korupsi di awal masa pemerintahannya dulu, kini sedang diuji konsistensinya. Berbagai desakan dan ancaman untuk membubarkan KPK telah bergulir. Dari mana lagi, kalau bukan dari lembaga sarang koruptor.
Para pejabat yang kini banyak mendekam di bui ternyata mempunyai masa lalu yang manis. Mereka kebanyakan adalah seorang aktivis pergerakan di kala mudanya, di kala masih menjadi mahasiswa, mahasiswa S0 hingga S1, tepatnya. Mereka dulu berteriak-teriak akan ketidakadilan. Mereka dulu berbusa-busa berorasi menuntut kesejahteraan rakyat. Mereka dulu seorang raja singa podium. Mereka dulu sangat lihai membawa palu ketika memimpin sidang tahunan organisasi.
Tapi ketika istiqomah tidak lagi menjadi tambatan hati, ketika jabatan telah menanti. Hilang semua kepedulian mereka pada rakyat kecil. Sejarah membuktikan betapa busuknya (oknum) bekas aktivis mahasiswa itu. Yah, istiqomah telah hilang dari hati mereka…
Saya salut pada seorang Kawan yang sampai detik ini pantang untuk masuk sebuah mall di depan tugu kujang Bogor. Dia beralasan, dulu dialah yang berada di baris depan menentang rencana pembangunannya. Sikap itu ternyata dijaga hingga detik ini. Tak salah pula dia bekerja di sebuah NGO lingkungan. Dia pun tak sudi mengajukan beasiswa dari sebuah lembaga yang dinilainya perusak lingkungan. Itu tuh yang sedang menggugat Koran Tempo.
Kawan lainnya aneh lagi. Seorang aktivis NGO kawakan dari Jogjakarta. Dia sangat anti kapitalisme, sampai-sampai belum pernah sekali pun sudi masuk di gerai makanan cepat saji ala Amerika semacam MacTi, KaePCe dan lain sebagainya. Namun ke-istiqomah-annya berhasil saya goyahkan ketika berada di Bandara Sultan Hasanuddin. Saya rayu dia untuk makan siang di KaePCe. Alasan saya simpel, kalau berada di keramaian semacam bandara, jangan coba-coba daripada menyesal seumur hidup. Mending kita makan yang jelas-jelas ajah, bujuk saya. Kawan saya pun menurut sembari merengut. Ah sekali ini saja! Hahahaha…
Saya sangat beruntung mempunyai dua kawan tersebut. Mereka mencoba untuk tetap istiqomah dalam berjuang. Seandainya seluruh aktivis dan bekas aktivis seperti mereka. Seandainya semua blogger yang katanya “blogger itu jujur” juga tetap istiqomah dalam kejujuran.
Bagi anda para aktivis, sanggupkah anda untuk tetap istiqomah?
Kemarin saya lihat anda turun ke jalan menolak pembangunan mall di sebelah TMP Kota Malang, malamnya saya lihat anda sedang duduk berduaan di gerai Pijjat Hot mall tersebut!
Tetap Merdeka!



Berpikir Merdeka © 2007-2009 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
26 queries. 0.090 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.