Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!



Agama dan diskriminasi…

Sebuah pabrik plat merah yang sedang merekrut pekerja baru memasang pengumuman dengan aneka persyaratan. Persyaratan yang paling atas sungguh lucu, soups 2017 bertakwa kepada http://www.gulsanpolimer.com/?hs=wikipedia-test-drive-unlimited Tuhan Yang Maha Esa. Entah bagaimana cara mengukur atau sekedar membuktikan ketakwaan ini. Apa hanya sekedar melongok isian agama di KTP? Atau bahkan hingga tes membaca kitab suci hingga hapalan aneka dalil yang sering diperdebatkan itu. Entahlah? Yang jelas saya dulu ketika tes di sebuah pabrik plat merah, tidak pernah disuruh mengaji, tidak pernah ditanya berapa kali saya sholat dalam sehari semalam.

Seorang rekan dari sebuah pabrik plat merah bercerita tentang pekerja barunya yang kurang cekatan. Sebenarnya ada kandidat lain yang kualitasnya teramat sangat mumpuni, namun terpaksa dihadang di tengah jalan. Agama sang kandidat, masalahnya. Sang kandidat beragama X, sedangkan pabrik tersebut mayoritas beragama Y.

Saya hanya bisa tertegun. Lha kalau begitu, kenapa di persyaratan ditulis BERTAKWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA. Apa tidak lebih baik ditulis BERAGAMA Y saja, sehingga orang selain beragama Y tidak perlu susah-susah membuang waktu, biaya dan tenaga untuk mengikuti seleksi yang berbau mesum diskriminatif itu.

Di pabrik lain yang bukan plat merah, cerita tentang diskriminasi juga sering saya dengar. Bukan saja masalah agama, etnis juga turut dijadikan bahan diskriminasi. Bahkan di negeri yang katanya demokratis, menjunjung tinggi HAM (namun tidak menjunjung tinggi KAM) pun diskriminasi sering kita dengar. Jadi wajarlah kalau hidup kita akan penuh dengan isu diskriminasi.

Bagaimana dengan anda? Selamat hari Senin Wage, sudahkah anda menjadi korban diskriminasi hari ini? Atau malahan anda telah memberlakukan orang lain secara diskrimiatif? Berbagilah!

Perbedaan adalah rahmat…

Maaf, agak panjang. Edisi Khutbah Jum’at ala Kyai Slamet nih…

Seperti tahun-tahun sebelumnya, penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal di negara kita pasti menimbulkan sedikit keguncangan. Perbedaan dalam penetapan tanggal nan penting bagi umat Islam ini seolah sudah menjadi pola yang akan terus berulang. Terkadang dengan sedikit bumbu yang ditambahkan oleh media massa, seolah perbedaan ini begitu dahsyat. Padahal perbedaan ini seharusnya dapat disikapi sebagai suatu hal yang biasa dan wajar dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Bukan sesuatu yang perlu dirisaukan. Terlepas dari masih pro kontranya status hadits Ikhtilaafu ummatii rahmah, saya masih berkeyakinan bahwa perbedaan memang sebuah rahmat. Namun bukan berarti sebaliknya, persatuan atau persamaan adalah adzab. Bukan, bukan sama sekali!

Perbedaan akan membawa kita untuk saling menghargai. Perbedaan pendapat menjadi suatu hal yang lumrah ketika tiap-tiap manusia berpikir. Bukankah kita diperintahkan untuk selalu berpikir. Sesuatu yang masih “samar” dalam Qur’an dan hadits merupakan sebuah perintah rahasia dari Allah kepada hambaNya untuk senantiasa memutar otak.

Ide penyatuan kalender Islam masih menjadi suatu cita-cita nan mustahil diwujudkan. Kenapa? Masing-masing pendapat, baik hisab maupun rukyat mempunyai dasar masing-masing. Pengertian rukyat pun masih dapat diperdebatkan. Apakah mata telanjang atau dengan alat bantu? Batas “mungkin terlihat” juga masih dapat diperdebatkan. Wajar! Di jaman Nabi Muhammad, belum ada teleskop yang berkemampuan prima. Dan yang utama, belum ada google dan kawan-kawannya!

Saya pribadi tetap memegang teguh “perbedaan adalah rahmat” dalam kehidupan beragama keluarga saya. Saya bukan NU atau Muhammadiyah, bukan pula HTI atau Triple C (Club Celana Cingkrang)! Saya muslim biasa!

Sedikit gambaran tentang indahnya perbedaan dalam keluarga saya. Saya terbiasa tidak membaca doa qunut  (do’a yang dibaca selepas bangkit dari rukuk pada rakaat terakhir) ketika sholat shubuh, sedangkan istri saya terbiasa melafalkannya. Lalu sebagai imam sholat, apakah saya dengan serta merta menghilangkan kesempatan istri saya untuk membaca qunut? Tidak. Selalu ada jalan menuju Surga. Selepas i’tidal (bangkit dari rukuk) terakhir, saya memberi waktu kepada istri untuk melafalkan doa qunut. Lalu saya ngapain? Ya diam saja! Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2009 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
26 queries. 0.091 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.