Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!


Meneladani Nabi…

Viewed 285 times.

Sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh kyai bernama Kyai Gemblung tengah mengadakan pengajian rutin dengan santri-santrinya.

Kyai Gemblung : “Santri-santriku semua… Kalian harus meneladani Nabi kita. Semua tindak-tanduknya harus kita teladani! Ya kayak Kyai ini yang selalu pakai baju gamis.”

Santri Mrosal : “Lho, kyai. Sampean ojo sakenak udhele sampean yen nyonthong!”

Kyai Gemblung : “Lha, ini contoh gak bener! Mbok sama kyai yang sopan!”

Santri Mrosal : “Lha kyai sendiri gak pernah meneladani Nabi. Nabi dulu kalau bepergian naik onta kok kyai malah dengan pongah naik New CRV pemberian calon gubernur itu!”

Santri Mbeling : “Ada lagi kyai. Nabi dulu juga gak pernah bikin partai. Lha sampean kok malah bentrok sama saudara sendiri gara-gara par tai itu!”

Santri Cerdas : ” Nabi dulu gak pernah pakai PDA, kok sampean malah punya PDA dan HP mahal hasil pemberian anggota DPR!”

Santri nDugal : “Nabi dulu gak pernah membangun rumah mewah berkedok pesantren!”

Santri Cerewet : “Sudahlah kyai! Saya sudah muak dengan sampean!”

Akhirnya santri-santri itu meninggalkan Kyai Gemblung. Kyai Gemblung hanya bisa merenung dan merenung. Seluruh santri pun sepakat untuk mencari kyai yang lain. Memang saat ini susah menemukan kyai yang sebenarnya. Banyak kyai yang hanya jadi foto model iklan ritual mbalon (maju bakal calon) saja!

Semoga mereka bisa bertemu dengan Kyai Slamet. Yah, paling banter mereka akan diajak ngombe toak bareng tukang becak!

Agama dan diskriminasi…

Viewed 648 times.

Sebuah pabrik plat merah yang sedang merekrut pekerja baru memasang pengumuman dengan aneka persyaratan. Persyaratan yang paling atas sungguh lucu, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Entah bagaimana cara mengukur atau sekedar membuktikan ketakwaan ini. Apa hanya sekedar melongok isian agama di KTP? Atau bahkan hingga tes membaca kitab suci hingga hapalan aneka dalil yang sering diperdebatkan itu. Entahlah? Yang jelas saya dulu ketika tes di sebuah pabrik plat merah, tidak pernah disuruh mengaji, tidak pernah ditanya berapa kali saya sholat dalam sehari semalam.

Seorang rekan dari sebuah pabrik plat merah bercerita tentang pekerja barunya yang kurang cekatan. Sebenarnya ada kandidat lain yang kualitasnya teramat sangat mumpuni, namun terpaksa dihadang di tengah jalan. Agama sang kandidat, masalahnya. Sang kandidat beragama X, sedangkan pabrik tersebut mayoritas beragama Y.

Saya hanya bisa tertegun. Lha kalau begitu, kenapa di persyaratan ditulis BERTAKWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA. Apa tidak lebih baik ditulis BERAGAMA Y saja, sehingga orang selain beragama Y tidak perlu susah-susah membuang waktu, biaya dan tenaga untuk mengikuti seleksi yang berbau mesum diskriminatif itu.

Di pabrik lain yang bukan plat merah, cerita tentang diskriminasi juga sering saya dengar. Bukan saja masalah agama, etnis juga turut dijadikan bahan diskriminasi. Bahkan di negeri yang katanya demokratis, menjunjung tinggi HAM (namun tidak menjunjung tinggi KAM) pun diskriminasi sering kita dengar. Jadi wajarlah kalau hidup kita akan penuh dengan isu diskriminasi.

Bagaimana dengan anda? Selamat hari Senin Wage, sudahkah anda menjadi korban diskriminasi hari ini? Atau malahan anda telah memberlakukan orang lain secara diskrimiatif? Berbagilah!

Gebyah uyah…

Viewed 376 times.

NaCl
Saya tertawa ketika seorang teman perempuan bercerita tentang keengganannya didekati oleh seorang cowok tetangga desa. Bukan karena si cowok kurang tampan atau kurang kaya, bukan pula masalah keyakinan, tapi hanya karena si cowok adalah pegawai DLLAJ (Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan). Lho memangnya ada apa dengan status kepegawaian si cowok tadi? “Ah pegawai DLLAJ kan jagonya mungli (kata kerja dari pungli)”, jawab teman cewek tadi. Hmmmm… sebegitu yakinnya si cewek mengambil kesimpulan. Terlalu digebyah uyah kata Wong Jawa. Gebyah uyah berarti melakukan generalisasi secara asal-asalan atau lebih gampangnya menyamaratakan suatu keadaan.

Bukan hanya teman cewek tadi, kita pun sering melakukan gebyah uyah ini. Kendati hanya oknum, namun kita selalu menarik menjadi sebuah kesimpulan umum yang mengarah pada profesi bahkan institusi dimana si oknum bernaung. Yang tentu saja berdampak pada rekan si oknum tadi. Tak heran sering kita mendengar olok-olok mengenai pekerjaan tertentu semacam polisi, tukang pegawai pajak, anggota DPR dan lain sebagainya. Seolah setiap profesi telah mempunyai citra tersendiri di tengah masyarakat. Anehnya hal ini tidak saja dilakukan oleh orang awam, seorang pakar pun sering meng-gebyah uyah suatu hobi (mungkin pekerjaan) sebagai penipu. Sungguh keterlaluan.

Kita sering meng-gebyah uyah pejabat selalu mementingkan perutnya sendiri ketimbang rakyat. Pejabat pasti koruptor. PNS pasti Pengangguran Nyaman Sejahtera. Polantas pasti suka per”damai”an. Tukang pegawai pajak pasti suka berhohohehe dengan wajib pajak. Anggota DPR pasti suka pelesir dengan biaya negara.

Apakah hanya gara-gara nila setitik, rusaklah susu sekeranjang? Apakah gara-gara seorang dosen tertangkap mencabuli mahasiswinya lalu kita menyimpulkan bahwa semua dosen adalah cabul :D

Bagaimana dengan anda, seringkah anda meng-gebyah uyah ?

Gambar diambil dari sini!

Menang!

Viewed 373 times.

Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2008 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
44 queries. 0.357 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.