05.09.2008
by Slamet Widodo
Category Ngakak
56 Comments →
Viewed 1337 times.
Sex toy alias mainan seks merupakan alat atau benda yang digunakan untuk membantu penggunanya mencapai kepuasan seks. Mainan seks sebagian besar berbentuk mirip alat kelamin baik penis maupun vagina. Banyak sekali jenis sex toy baik yang ditujukan untuk kaum lelaki maupun perempuan. Di Indonesia sendiri sudah banyak toko yang menyediakannya. Bahkan jika anda sering membeli koran sekelas lampu merah, anda akan menemukan iklannya. Istilah yang sering digunakan dalam bahasa Indonesia adalah alat bantu baik alat bantu (untuk) pria maupun wanita. Jadi kalau coba kita pahami dari sisi istilah, alat ini hanya sekedar membantu saja.
Super toy HL-2 adalah nama benih galur padi yang merupakan persilangan antara Rojolele dan Pandan Wangi. Karakteristik padi ini adalah mempunyai tinggi batang yang lebih tinggi dibandingkan padi jenis lainnya. Keunggulannya adalah pada kemampuan berproduksi yang mampu mencapai 10 ton/hektar. Kemampuan produksi super toy ini dapat dikatakan dua kali lipat dibandingkan dengan padi jenis IR 64.
Keunggulan lain dari super toy adalah kemampuannya untuk dipanen hingga 3 kali tanpa perlu perbaruan tanaman. Jadi setelah panen pertama, batang padi disisakan setinggi 3 cm dan dibiarkan untuk tumbuh seperti halnya tanaman padi pada umumnya. Tentu saja keunggulan super toy ini menjadi daya tarik tersendiri bagi petani. Bisa dibayangkan berapa biaya produksi yang mampu ditekan terutama untuk keperluan pembelian benih.
Read More
04.09.2008
by Slamet Widodo
Category Ah...entahlah, Nampang
35 Comments →
Viewed 828 times.
Sah-sah saja gambar tempel alias stiker ditempelkan di atas tunggangan kita. Ada yang menjadikannya kebanggan, apalagi jika stikernya terkesan eksklusif (atau kelihatan eksklusif). Mahasiswa (lebih-lebih mahasiswa baru) akan bangga jika motor atau mobilnya ada stiker “resmi” universitasnya. Tak mengherankan jika sering kita jumpai motor atau mobil dengan stiker Airlangga University, ITS CUK, Universitas Brawijaya atau bahkan Monash University. Untuk yang terakhir, biasanya menempel di kaca belakang mobil mewah, jangan harap ada di spatbor belakang sebuah Honda C-70.
Stiker juga dapat menunjang status sosial pemiliknya. Anak muda akan bangga jika kaca belakang mobilnya ada stiker Huro’s Cape, Planet Kemliwood atau Karley Dapidson Club. Stiker juga menunjukan komunitas dimana si pemilik berhimpun, entah klub motor atau bahkan koperasi simpan pinjam.
Banyak cara menempelkan stiker. Banyak yang memikirkan segi estetika bahkan kesimetrisan bentuk dan ruang. Jadi bukan asal tempel. Tapi beda dengan saya. Saya justru menempelkan stiker secara asal, asal nempel tentunya. Lihat saja spatbor belakang dan cover depan motor saya. Semua mak plek tanpa pikir panjang. Lalu apa tujuan saya menempel stiker itu?
Yang jelas saya tidak pernah mengeluarkan uang untuk mendapatkan stiker itu, semua saya dapatkan cuma-cuma sebagai hadiah. Lihatlah stiker Eiger itu… Itu saya dapatkan ketika saya berbelanja produk Eiger. Sedangkan stiker dagdigdug, saya dapatkan beberapa hari lalu ketika mengikuti seminar bloggerub. Sedangkan stiker Intisari saya dapatkan karena saya pelanggan majalah mungil nan mencerdaskan itu.
Norak? Mungkin? Kenapa asal tempel? Ah tujuan saya cuma memberikan sesuatu yang beda terhadap motor. Agar ketika berada di rimba pelataran parkir saya dengan mudah menemukannya. Stiker yang besar dan mencolok membuat saya dengan mudah menemukan motor ini, terlebih di pelataran parkir yang luas dan masih asing bagi saya.
Read More
01.09.2008
by Slamet Widodo
Category Ah...entahlah
60 Comments →
Viewed 509 times.
Hari ini, 1 Ramadhan 1429 H saya melantik diri saya sendiri menjadi Kyai. Yup, mulai saat ini nama saya ketika berkomentar di berbagai blog di seantero jagad menjadi KYAI SLAMET. Kenapa? Ah, entahlah. Mungkin saya hanya latah untuk menggantikan posisi seorang rekan yang telah memproklamirkan dirinya sebagai mantan kyai. Sehingga jabatan kyai menjadi kosong, sebagai sosok yang oportunis, saya mendapatkan kesempatan untuk mengisi kekosongan jabatan tersebut. Kyai Slamet, sebuah nama nan apik bukan? Tapi jangan anda bandingkan dengan sosok Kyai Slamet dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Menggunakan embel-embel kyai bukannya tanpa beban. Sungguh lucu ketika sesosok kyai justru cangkruk di warung toak sambil memegang centak. Namun di negeri ini masih banyak lelucon lain yang dimainkan oleh para kyai. Jadi kyai hanyalah kyai, gelar yang tak ada bedanya dengan Drs, MM, MBA, MMA, PhD dan seabreg gelar lainnya.
Yah, posting tak penting ini hanyalah pemberitahuan kepada khalayak blogger dari aliran maupun partai manapun. Saya, Slamet Widodo yang sering berjuluk Sluman Slumun Slamet telah berganti julukan menjadi :
KYAI SLAMET
Bersama ini pula, saya ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga semua amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini diterima oleh Allah. Semoga Ramadhan kali ini tidak hanya kita isi dengan puasa namun puas…ah juga! Puas dalam berbuat kebajikan!
Maafkan, saya akhir-akhir ini benar-benar sibuk. Hari ini saja reader saya sudah numpuk sampai 748 biji.
27.08.2008
by Slamet Widodo
Category Ah...entahlah
50 Comments →
Viewed 389 times.
Di sebuah warung kopi, berkumpul beberapa warga kampung Gunung Kembar. Seperti biasa mereka berdiskusi aneka topik tentang kehidupan. Topik politik menjadi sebuah topik yang paling digemari oleh aktivis Gunung Kembar ini. Kebetulan malam ini ada si Paijo, petani gurem yang tetap istiqomah di jalur pekerjaannya. Kliwon, pedagang pasar dan Kardi, ketua ranting sebuah partai dengan lambang palu arit hewan memamah biak.
Paijo : Diamput, wong cilik kayak saya ini hanya dicatut saja oleh penggede-penggede itu!
Kardi : Apa sih Jo, kok kamu misuh-misuh. Mbok sing sareh!
Paijo : Itu lho, petani dicatut di iklannya seorang yang hobi mbalon.
Kardi : Mbalon? Hahahahaha… masak hobi mbalon kok diiklankan di tivi?
Paijo : Diamput… dasar otak ngeres kamu Di. Mbalon itu maju bakal calon, bukan mbalon di nDoli.
Kardi : Ooo… lha emang kenapa Jo? Catut mencatut itu hal yang biasa kok. Ingat itu kasus suster apung.
Paijo : Lha gimana… pupuk juga tetap jadi rebutan, pupuk jadi barang langka. Lha kok malah petani dibawa-bawa namanya…
Kliwon : Lha saya juga dicatut kok. Padahal banyak pasar DIBAKAR untuk dijadikan mall. Pedagang kecil kayak saya juga tetep serba sulit.
Kardi : Asyu… Aku juga dikhianati sama partaiku. Aku yang jungkir balik cari suara lha kok posisiku diganti sama artis bokep dangdut. Nasib…
Kardi, Paijo, Kliwon : ***kompak misuh bersamaan***
15.08.2008
by Slamet Widodo
Category Sok kyai, Sok ngerti, Sok serius, Tentang Kiai
67 Comments →
Viewed 657 times.
Maaf, agak panjang. Edisi Khutbah Jum’at ala Kyai Slamet nih…
Seperti tahun-tahun sebelumnya, penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal di negara kita pasti menimbulkan sedikit keguncangan. Perbedaan dalam penetapan tanggal nan penting bagi umat Islam ini seolah sudah menjadi pola yang akan terus berulang. Terkadang dengan sedikit bumbu yang ditambahkan oleh media massa, seolah perbedaan ini begitu dahsyat. Padahal perbedaan ini seharusnya dapat disikapi sebagai suatu hal yang biasa dan wajar dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Bukan sesuatu yang perlu dirisaukan. Terlepas dari masih pro kontranya status hadits Ikhtilaafu ummatii rahmah, saya masih berkeyakinan bahwa perbedaan memang sebuah rahmat. Namun bukan berarti sebaliknya, persatuan atau persamaan adalah adzab. Bukan, bukan sama sekali!
Perbedaan akan membawa kita untuk saling menghargai. Perbedaan pendapat menjadi suatu hal yang lumrah ketika tiap-tiap manusia berpikir. Bukankah kita diperintahkan untuk selalu berpikir. Sesuatu yang masih “samar” dalam Qur’an dan hadits merupakan sebuah perintah rahasia dari Allah kepada hambaNya untuk senantiasa memutar otak.
Ide penyatuan kalender Islam masih menjadi suatu cita-cita nan mustahil diwujudkan. Kenapa? Masing-masing pendapat, baik hisab maupun rukyat mempunyai dasar masing-masing. Pengertian rukyat pun masih dapat diperdebatkan. Apakah mata telanjang atau dengan alat bantu? Batas “mungkin terlihat” juga masih dapat diperdebatkan. Wajar! Di jaman Nabi Muhammad, belum ada teleskop yang berkemampuan prima. Dan yang utama, belum ada google dan kawan-kawannya!
Saya pribadi tetap memegang teguh “perbedaan adalah rahmat” dalam kehidupan beragama keluarga saya. Saya bukan NU atau Muhammadiyah, bukan pula HTI atau Triple C (Club Celana Cingkrang)! Saya muslim biasa!
Sedikit gambaran tentang indahnya perbedaan dalam keluarga saya. Saya terbiasa tidak membaca doa qunut (do’a yang dibaca selepas bangkit dari rukuk pada rakaat terakhir) ketika sholat shubuh, sedangkan istri saya terbiasa melafalkannya. Lalu sebagai imam sholat, apakah saya dengan serta merta menghilangkan kesempatan istri saya untuk membaca qunut? Tidak. Selalu ada jalan menuju Surga. Selepas i’tidal (bangkit dari rukuk) terakhir, saya memberi waktu kepada istri untuk melafalkan doa qunut. Lalu saya ngapain? Ya diam saja!
Read More