Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!


Archive for the ‘Tentang Kiai’


Ayat-ayat kampanye…

Di sebuah kampung yang bernama Gunung Kembar, terdapat seorang kyai yang cukup disegani. Kyai ini menjadi panutan dalam segala bidang oleh penduduk kampung. Bahkan untuk urusan politik, sang kyai mendapat tempat yang sangat strategis. Segala omongan kyai entah benar atau salah selalu menjadi acuan semua warga kampung. Tidak ada protes, tidak ada ruang diskusi.

Menjelang Pilkada, sang kyai menjadi tokoh paling dicari. Bukan sebagai calon pesakitan, bukan sebagai target operasi. Namun menjadi keharusan bagi semua kandidat untuk meminta restu dari sang kyai. Jangan heran apabila televisi, koran hingga blog menyajikan tulisan dan tentu foto para kandidat sedang berpose mesra dengan sang kyai.

Pilkada kali ini diikuti oleh 4 pasang calon, yaitu :

1. ASU – Artalita dan Sukat

2. ANCUK – Andi dan Cucuk

3. ADIL – Adi dan Kunyil

4. MELU – Memed dan Luki

Sang kyai pun telah memutuskan untuk memberi restu kepada pasangan ADIL. Entah mengapa sang kyai begitu suka dengan pasangan ini. Konon jumlah sumbangan pasangan ADIL jauh lebih besar dibandingkan pasangan lainnya. Bukan saja uang tunai, batu bata, semen dan pasir telah disumbangkan untuk sang kyai. Bukan hanya sumbangan biasa, namun sumbangan dengan banyak harapan. Termasuk do’a dan dukungan, mungkin juga fatwa. Read More

Fatwa Golput, surga dunia atau surga akhirat?

Golput kembali menjadi bahan pembicaraan. Terlebih setelah Pilkada Jawa Barat dan Jawa Tengah yang dimenangkan oleh Golput alias golongan putih. Pilkada Jawa Barat yang menghasilkan pasangan Hade (Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf) berhasil meraup 7,3 juta suara, sedangkan golput mencapai 10 juta suara. Paling baru dan heboh di Jawa Tengah. Lagi-lagi Golput meraih kemenangannya.

Pertanda apakah ini? Apakah rakyat Indonesia sudah tidak lagi tertarik untuk menentukan nasib masa depan bangsanya sendiri? Ataukah rakyat sudah jengah oleh ulah sebagian besar [oknum] pejabat baik eksekutif, legislatif dan yudikatif? Apalagi dengan terbongkarnya berbagai rekaman video porno percakapan telepon yang memalukan itu.

Golput sendiri bukanlah barang baru. Sejak masa pemerintahan Soeharto pun sudah menjadi momok bagi pemerintah. Golput merupakan wujud protes atas ketidakberesan sistem pemerintahan yang telah ada. Juga merupakan suatu bentuk pilihan ketika dihadapkan pada pilihan calon-calon pemimpin yang dianggap kurang pantas. Golput oleh pemerintah Soeharto dianggap sebagai musuh bebuyutan.

Bukan hanya pejabat pemerintahan maupun [poli]TIKUS yang resah akan fenomena Golput. Orang-orang yang biasanya memakai sarung kini sibuk berkumpul untuk mengeluarkan fatwa tentang Golput. Terbaru, MUI se-Madura telah mengeluarkan fatwa bahwa Golput adalah haram. Golput sama dengan menyantap babi. Golput sama dengan meminum arak. Golput tidak ada bedanya dengan berzina. Golput tidak ada bedanya dengan nonton Maria Ozawa :D Read More

Susah masuk surga…

Di sebuah warung toak, beberapa toakers sedang berdiskusi tentang masalah akhirat. Kucluk, seorang pemuda yang sedang kebingungan tentang nasibnya mencoba untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Paling tidak, walau hidup sengsara di dunia, dia ingin kelak akan masuk surga dengan ditemani miyabi ribuan bidadari yang virgin. Dia mencoba ngangsu kawruh dengan Mbah Gebleg, sosok yang disegani di kalangan toakers.

Kucluk : “Gimana ya mbah biar bisa masuk surga nan katanya nyaman ituh?”

Mbah Gebleg : “Yo mbok kamu belajar ngaji sana dengan mbah kyai di pondok ujung desa ituh.”

Kucluk : “Ogah, mbah. Mbah kyai-nya sudah jarang ngajari ngaji. Dia sibuk sekarang. Banyak tamu penjahat pejabat sowan minta restu.”

Mbah Gebeleg : “Ah, kan dia masih banyak waktu luang toh le… Ya mbok matur sana. Minta diajarin ngaji, kalau perlu total nyantri disana.”

Kucluk : “Gak ah mbah. Dia sekarang sibuk banget. Dia kan sudah jadi anggota DPR, belum lagi kalau lagi ngurusi pundi receh partainya ituh.”

Mbah Gebleg : “Ah masak sih… Tapi bener kok, sekarang dia jarang ke mushola desa. Beda sama waktu mau coblosan dulu. Yah.. coba sama pak ustadz yang ada di kota sana!”

Kucluk : “Wah gak mau, mbah. Saya masih suka pakai celana jeans. Kalau sama pak ustadz ituh pasti saya dipaksa jadi anggota triple C.”

Mbah Gebeleg : “Oalah, apa itu triple C?”

Kucluk : “Itu lho mbah, CCC, Club Celana Cingkrang! Belum lagi pasti saya nanti dilarang ndengerin lagunya Slank, Jamrud dan campursari. Susah mbah!”

Mbah Gebleg : “Hmmm… Kamu ke Jakarta saja sekalian, berguru sama habib yang terkenal ituh.”

Kucluk : “Wah, saya gak bakalan diterima mbah.”

Mbah Gebleg : “Lho emangnya kenapa?”

Kucluk : “Saya gak bisa berkelahi mbah. Padahal habib ituh suka berkelahi. Bukannya dia sih, tapi anak buahnya. Saya juga gak tegaan kalau harus mukuli kepala orang, mbacok atau menthung.”

Mbah Gebleg : “Oalah le… baru tahu kalau sekarang susah masuk surga, beda sama dulu. Sekarang banyak jalan menuju surga yang dibilang sesat. Aku juga bingung le, entah nanti masuk surga apa enggak.” Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2009 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
32 queries. 0.370 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.