Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!


Archive for the ‘Tentang Kiai’


Fatwa Golput, surga dunia atau surga akhirat?

Golput kembali menjadi bahan pembicaraan. Terlebih setelah Pilkada Jawa Barat dan Jawa Tengah yang dimenangkan oleh Golput alias golongan putih. Pilkada Jawa Barat yang menghasilkan pasangan Hade (Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf) berhasil meraup 7,3 juta suara, sedangkan golput mencapai 10 juta suara. Paling baru dan heboh di Jawa Tengah. Lagi-lagi Golput meraih kemenangannya.

Pertanda apakah ini? Apakah rakyat Indonesia sudah tidak lagi tertarik untuk menentukan nasib masa depan bangsanya sendiri? Ataukah rakyat sudah jengah oleh ulah sebagian besar [oknum] pejabat baik eksekutif, legislatif dan yudikatif? Apalagi dengan terbongkarnya berbagai rekaman video porno percakapan telepon yang memalukan itu.

Golput sendiri bukanlah barang baru. Sejak masa pemerintahan Soeharto pun sudah menjadi momok bagi pemerintah. Golput merupakan wujud protes atas ketidakberesan sistem pemerintahan yang telah ada. Juga merupakan suatu bentuk pilihan ketika dihadapkan pada pilihan calon-calon pemimpin yang dianggap kurang pantas. Golput oleh pemerintah Soeharto dianggap sebagai musuh bebuyutan.

Bukan hanya pejabat pemerintahan maupun [poli]TIKUS yang resah akan fenomena Golput. Orang-orang yang biasanya memakai sarung kini sibuk berkumpul untuk mengeluarkan fatwa tentang Golput. Terbaru, MUI se-Madura telah mengeluarkan fatwa bahwa Golput adalah haram. Golput sama dengan menyantap babi. Golput sama dengan meminum arak. Golput tidak ada bedanya dengan berzina. Golput tidak ada bedanya dengan nonton Maria Ozawa :D

Read More

Susah masuk surga…

Di sebuah warung toak, beberapa toakers sedang berdiskusi tentang masalah akhirat. Kucluk, seorang pemuda yang sedang kebingungan tentang nasibnya mencoba untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Paling tidak, walau hidup sengsara di dunia, dia ingin kelak akan masuk surga dengan ditemani miyabi ribuan bidadari yang virgin. Dia mencoba ngangsu kawruh dengan Mbah Gebleg, sosok yang disegani di kalangan toakers.

Kucluk : “Gimana ya mbah biar bisa masuk surga nan katanya nyaman ituh?”

Mbah Gebleg : “Yo mbok kamu belajar ngaji sana dengan mbah kyai di pondok ujung desa ituh.”

Kucluk : “Ogah, mbah. Mbah kyai-nya sudah jarang ngajari ngaji. Dia sibuk sekarang. Banyak tamu penjahat pejabat sowan minta restu.”

Mbah Gebeleg : “Ah, kan dia masih banyak waktu luang toh le… Ya mbok matur sana. Minta diajarin ngaji, kalau perlu total nyantri disana.”

Kucluk : “Gak ah mbah. Dia sekarang sibuk banget. Dia kan sudah jadi anggota DPR, belum lagi kalau lagi ngurusi pundi receh partainya ituh.”

Mbah Gebleg : “Ah masak sih… Tapi bener kok, sekarang dia jarang ke mushola desa. Beda sama waktu mau coblosan dulu. Yah.. coba sama pak ustadz yang ada di kota sana!”

Kucluk : “Wah gak mau, mbah. Saya masih suka pakai celana jeans. Kalau sama pak ustadz ituh pasti saya dipaksa jadi anggota triple C.”

Mbah Gebeleg : “Oalah, apa itu triple C?”

Kucluk : “Itu lho mbah, CCC, Club Celana Cingkrang! Belum lagi pasti saya nanti dilarang ndengerin lagunya Slank, Jamrud dan campursari. Susah mbah!”

Mbah Gebleg : “Hmmm… Kamu ke Jakarta saja sekalian, berguru sama habib yang terkenal ituh.”

Kucluk : “Wah, saya gak bakalan diterima mbah.”

Mbah Gebleg : “Lho emangnya kenapa?”

Kucluk : “Saya gak bisa berkelahi mbah. Padahal habib ituh suka berkelahi. Bukannya dia sih, tapi anak buahnya. Saya juga gak tegaan kalau harus mukuli kepala orang, mbacok atau menthung.”

Mbah Gebleg : “Oalah le… baru tahu kalau sekarang susah masuk surga, beda sama dulu. Sekarang banyak jalan menuju surga yang dibilang sesat. Aku juga bingung le, entah nanti masuk surga apa enggak.”

Read More

Petuah dari sang bapak…

Di salah satu sudut Kota Tuban, malam itu saya, Heri Tasman (blogger pemula) dan seorang sesepuh yang biasa dipanggil “bapak” mencoba berdiskusi tentang bangsa ini.

Bapak : “Sekarang repot, pemimpin tidak bisa diharapkan lagi. Korupsi merajalela dimana-mana. Semua bermain politik, kiai yang harusnya menjadi penjaga moral bangsa kini lebih senang menjadi poli tikus. Hanya klunak-klunuk sarungan menunggu tamu pejabat minta restu.”

Saya : “Apalagi menjelang Pilkada. Kiai tambah laris. Semua didoakan menang, lha umatnya sendiri malah dilupakan.”

Heri Tasman : “Do’anya tergantung siapa yang menyumbang paling banyak!”

Bapak : “Lha saiki akeh mbah yai sing mbahayai!

Saya : “Maksudnya?”

Bapak : “Ya tahu sendiri lah. Banyak kiai yang tidak bermoral selayaknya kiai. Kalau mau jadi kiai sh gampang, pergi ke pasar saja sudah dapat sarung, baju koko dan songkok putih. Tapi moralnya itu yang susah untuk dicari!”

Semua terdiam dan menghela nafas…

Read More

PKI, kau selalu ada di hatiku….

Ada komentar menarik pada tulisan saya yang ini. Ketika kiai menjadi rebutan oleh politisi. Ketika kiai beramai-ramai berkumpul mendeklarasikan sebuah partai. Ketika sebuah partai nasionalis sekuler mencoba mencumbu sosok kiai melalui organisasi underbow-nya. Ketika ….

Kenapa kiai tidak bersatu dan mendirikan -atau membentuk atau melahirkan atau membidani atau apalah namanya- sebuah partai politik baru yang bernama Partai Kiai Indonesia (PKI) saja. Tentu perjuangan kiai akan semakin solid tidak tercerai berai yang seringkali menimbulkan konflik diantara mereka. Read More

Kembalikan kiai ke pesantren….

Sejak reformasi bergulir, sosok kiai semakin mesra dengan politik. Berbagai partai politik pun berdiri dengan mengusung nama besar kiai. Sebuah ormas Islam yang katanya terbesar di Indonesia juga tidak ketinggalan membentuk melahirkan partai politik. Entah istilah apa yang dipakai namun semua orang akan tahu bahwa ormas ini punya partai itu, ormas itu punya partai anu, dan seterusnya. Kiai pun dengan mudah diseret-seret untuk terjun ke ranah politik praktis. Bukan hanya sekedar disowani untuk mendapatkan restu, namun juga dijadikan sarana mendulang suara.

Banyak yang berkata bahwa ini adalah bagian dari jihad…….

Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2008 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress.
27 queries. 0.449 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.