Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!


Archive for the ‘Tentang Kiai’


Meneladani Nabi…

Sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh kyai bernama Kyai Gemblung tengah mengadakan pengajian rutin dengan santri-santrinya.

Kyai Gemblung : “Santri-santriku semua… Kalian harus meneladani Nabi kita. Semua tindak-tanduknya harus kita teladani! Ya kayak Kyai ini yang selalu pakai baju gamis.”

Santri Mrosal : “Lho, kyai. Sampean ojo sakenak udhele sampean yen nyonthong!”

Kyai Gemblung : “Lha, ini contoh gak bener! Mbok sama kyai yang sopan!”

Santri Mrosal : “Lha kyai sendiri gak pernah meneladani Nabi. Nabi dulu kalau bepergian naik onta kok kyai malah dengan pongah naik New CRV pemberian calon gubernur itu!”

Santri Mbeling : “Ada lagi kyai. Nabi dulu juga gak pernah bikin partai. Lha sampean kok malah bentrok sama saudara sendiri gara-gara par tai itu!”

Santri Cerdas : ” Nabi dulu gak pernah pakai PDA, kok sampean malah punya PDA dan HP mahal hasil pemberian anggota DPR!”

Santri nDugal : “Nabi dulu gak pernah membangun rumah mewah berkedok pesantren!”

Santri Cerewet : “Sudahlah kyai! Saya sudah muak dengan sampean!”

Akhirnya santri-santri itu meninggalkan Kyai Gemblung. Kyai Gemblung hanya bisa merenung dan merenung. Seluruh santri pun sepakat untuk mencari kyai yang lain. Memang saat ini susah menemukan kyai yang sebenarnya. Banyak kyai yang hanya jadi foto model iklan ritual mbalon (maju bakal calon) saja!

Semoga mereka bisa bertemu dengan Kyai Slamet. Yah, paling banter mereka akan diajak ngombe toak bareng tukang becak!

Perbedaan adalah rahmat…

Maaf, agak panjang. Edisi Khutbah Jum’at ala Kyai Slamet nih…

Seperti tahun-tahun sebelumnya, penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal di negara kita pasti menimbulkan sedikit keguncangan. Perbedaan dalam penetapan tanggal nan penting bagi umat Islam ini seolah sudah menjadi pola yang akan terus berulang. Terkadang dengan sedikit bumbu yang ditambahkan oleh media massa, seolah perbedaan ini begitu dahsyat. Padahal perbedaan ini seharusnya dapat disikapi sebagai suatu hal yang biasa dan wajar dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Bukan sesuatu yang perlu dirisaukan. Terlepas dari masih pro kontranya status hadits Ikhtilaafu ummatii rahmah, saya masih berkeyakinan bahwa perbedaan memang sebuah rahmat. Namun bukan berarti sebaliknya, persatuan atau persamaan adalah adzab. Bukan, bukan sama sekali!

Perbedaan akan membawa kita untuk saling menghargai. Perbedaan pendapat menjadi suatu hal yang lumrah ketika tiap-tiap manusia berpikir. Bukankah kita diperintahkan untuk selalu berpikir. Sesuatu yang masih “samar” dalam Qur’an dan hadits merupakan sebuah perintah rahasia dari Allah kepada hambaNya untuk senantiasa memutar otak.

Ide penyatuan kalender Islam masih menjadi suatu cita-cita nan mustahil diwujudkan. Kenapa? Masing-masing pendapat, baik hisab maupun rukyat mempunyai dasar masing-masing. Pengertian rukyat pun masih dapat diperdebatkan. Apakah mata telanjang atau dengan alat bantu? Batas “mungkin terlihat” juga masih dapat diperdebatkan. Wajar! Di jaman Nabi Muhammad, belum ada teleskop yang berkemampuan prima. Dan yang utama, belum ada google dan kawan-kawannya!

Saya pribadi tetap memegang teguh “perbedaan adalah rahmat” dalam kehidupan beragama keluarga saya. Saya bukan NU atau Muhammadiyah, bukan pula HTI atau Triple C (Club Celana Cingkrang)! Saya muslim biasa!

Sedikit gambaran tentang indahnya perbedaan dalam keluarga saya. Saya terbiasa tidak membaca doa qunut  (do’a yang dibaca selepas bangkit dari rukuk pada rakaat terakhir) ketika sholat shubuh, sedangkan istri saya terbiasa melafalkannya. Lalu sebagai imam sholat, apakah saya dengan serta merta menghilangkan kesempatan istri saya untuk membaca qunut? Tidak. Selalu ada jalan menuju Surga. Selepas i’tidal (bangkit dari rukuk) terakhir, saya memberi waktu kepada istri untuk melafalkan doa qunut. Lalu saya ngapain? Ya diam saja! Read More

Fatwa haram rokok…

Sejak kemarin malam saya agak terperanjat ketika membaca detik. Sebuah berita baru dan saya prediksi bakal mengguncangkan Indonesia. Hayoo apa coba? Rekaman telepon, ah sudah lewat. Supriyadi muncul lagi, ah saya gak mau membahas itu. Lalu apa? itu lho soal rokok-merokok.

Kak Seto, ketua KPAI meminta kepada MUI untuk memberikan fatwa haram untuk rokok dan merokok. Alasan KPAI adalah untuk melindungi anak-anak dari dampak buruk rokok. Banyak data yang menyebutkan bahwa jumlah perokok anak [atau anak perokok ya?] semakin menunjukkan peningkatan. Salah satu upaya untuk mencegah hal itu adalah dengan memfatwakan haram terhadap rokok dan tentu saja aktivitas merokok sendiri.

Weh la da lah… MUI? Rokok? Masak sih fatwa MUI masih bisa diandalkan. Lha fatwa yang lain saja hanya dianggap angin lalu kok oleh umatnya. Sebelum membahas lebih jauh tentang rokok, saya mencoba membahas fatwa-fatwa MUI terlebih dahulu. Saya terkadang heran, kenapa terlalu sering MUI mengeluarkan fatwa atau dipaksa mengeluarkan fatwa hal-hal yang “aneh-aneh”, mulai sepele hingga sepolo. Coba anda pikirkan atau bayangkan saja deh….

1. Fatwa haram mencuri listrik.

2. Fatwa haram membajak… Coba yang gemar nonton VCD atau DVD, kalau beruntung pasti anda pernah menjumpai tulisan ini.

3. Fatwa haram golput. Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2009 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
33 queries. 0.355 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.