Frekuensi milik rakyat, bukan milik pemodal!
Malang kini benar-benar bernasib malang. Saya berani menjamin bahwa generasi muda Malang akan benar-benar menjadi generasi yang bodoh dan terbelakang. Terlebih bagi masyarakat yang hanya mengandalkan televisi sebagai satu-satunya media hiburan dan pengetahuan. Kita semua tahu, hanya sebagian kecil masyarakat Malang dan Indonesia yang dapat mengakses media internet. Konon seorang pakar foto bugil telah menghitungnya, hanya 68 persen saja!
Bayangkan sebuah rumah tangga yang kemampuan ekonominya terbatas. Tidak mungkin mereka bisa berlangganan majalah atau koran nan cerdas, membeli buku bermutu atau berlangganan akses internet. Mereka hanya mengandalkan kotak ajaib bernama televisi untuk sekedar mengetahui dunia yang luas ini. Namun apa yang terjadi jika stasiun televisi yang menyajikan acara-acara cerdas harus dipaksa tidak mengudara atas nama penegakan hukum. Sejak Desember lalu, stasiun televisi yang belum memiliki ijin frekuensi atau apalah namanya dipaksa untuk berhenti siaran. Praktis yang tersisa adalah pemain lama yang ternyata hanya mau mengeruk uang dari pengiklan tanpa memperhatikan mutu tayangannya. Yang ada hanya jajaran sinetron, shitnetron dan shitnetron. Tak kalah juga acara bocah-bocah cilik yang bernyanyi ala orang dewasa dengan gaya tak beda dengan pemain JAV yang sedang orgasme. Menghilang sudah ragam acara alternatif yang jauh lebih bermutu dibandingkan dengan shitnetron dan kontes menyanyi bocah sok gedhe itu.
Jika benar frekuensi adalah milik rakyat, tentu rakyat bisa menentukan pilihan apa yang layak ditontonnya. Rakyat bukan hanya tinggal pasrah menerima berbagai stasiun televisi yang berseliweran menunggangi frekuensi milik rakyat itu. KPI, depkominfo beserta kroninya harus tidak berhenti pada aspek teknis semacam ijin frekuensi. Namun jauh dari itu, masalah isi tayangan (content) harus pula diperhatikan. Jangan hanya tutup mata, asal ada pemodal yang mampu membeli frekuensi maka sang pemodal bisa sebebas-bebasnya membodohkan masyarakat. Read More
Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!
Diiringi oleh rintik hujan dan dipantau oleh ribuah jamaah plurkiyah, tepat pukul 21.40 WIB tanggal 24 Desember 2008 lahirlah seorang bayi. Bayi perempuan dengan berat 3,5 kg dan panjang 51 cm ini menyeruak ke dunia melalui operasi caesar. Alhamdulillah, berkat do’a jamaah bloggeriyah dan plurkiyah semua operasi caesar tersebut berjalan dengan lancar tanpa kurang suatu apapun. Yah, bayi perempuan itu adalah anak saya, anak kedua tepatnya. Sungguh sangat produktif, ketika usia baru beranjak 28 tahun, saya sudah mempunyai dua orang anak. Bahkan seharusnya tiga! Kehamilan pertama istri saya sempat mengalami keguguran.





