Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!


Archive for the ‘Sok serius’


Fatwa haram Unas…

Setiap tahun, aroma busuk selalu tercium dari penyelenggaraan ujian nasional. Berbagai tindak kecurangan yang terorganisir dengan rapi dan sistematis seolah sudah menjadi ritual wajib demi suksesnya Unas. Kecurangan dan penyimpangan pelaksanaan Unas yang diulas oleh berbagai media cetak maupun elektronik ternyata tidak mampu membuka mata kepala dan mata hati para pengambil kebijakan pendidikan negeri ini. Desakan untuk menghapus Unas yang teramat sangat men-Tuhan-kan angka-angka itu dianggap sebagai angin lalu saja, Pastikan untuk memeriksa are review untuk informasi lebih lanjut.

Sebuah berita mesum baru-baru ini ramai dibicarakan. SMAN 2 Ngawi, sebuah sekolah yang konon katanya favorit dan bonafit, seluruh siswanya gagal dalam unas 2009 ini. Berita mencengangkan ini masih terus bergulir dengan aroma permainan terlarang yang dilakukan oleh siswa-siswi sekolah tersebut. Dugaan kecurangan massal, terorganisir dan sistematis pun diungkap oleh BNSP. Jawaban seluruh siswa hampir serupa bak paha eh pinang dibelah dua. Sungguh mengherankan bukan? Konon, jawaban yang serupa itu diperoleh dari bocoran kunci jawaban yang beredar melalui SMS.Lebih mengejutkan lagi, ternyata BNSP melakukan tindakan yang teramat memalukan. BNSP memberikan belas kasihan pada SMAN 2 Ngawi untuk melakukan unas ulang. Oh yes… Apa ini?…

Para pejabat yang mengaku pintar itu beranggapan bahwa telah terjadi kecurangan sehingga sebagai bentuk sanksi, Unas di sekolah yang bersangkutan harus diulang. Hahahahaha… Kecurangan? Mana kecurangan itu? Bukankah berita acara pelaksanaan Unas yang telah ditandatangani pengawas, tim pemantau independen dan panitia tidak mengungkapkan hal itu. Sudah menjadi rahasia umum, catatan yang ada di berita acara pelaksanaan Unas adalah “lancar”, “lancar, aman, terkendali”, “aman, sejahtera, lanjutkan :D “.

Artinya apa? Dari berita acara tersebut tidak terbukti terjadi kecurangan sehingga pelaksanaan unas di SMAN 2 Ngawi sah dan tidak perlu dilakukan pengulangan, apapun hasilnya. Walau seluruh siswa tidak lulus pun tidak masalah! Lha berita acara tidak menyebut kecurangan tapi kok BNSP mengatakan ada kecurangan. Bagaimana ini om/tante?… Bahkan, ikatan alumni SMAN 2 Ngawi dengan tegas menolak Unas ulang yang memalukan itu.

Mana keadilan? Jika SMAN 2 Ngawi dan mungkin sekolah lain yang mengalami kasus serupa diberikan BELAS KASIHAN berupa Unas ulang, bagaimana nasib sekolah lainnya? Bagaimana nasib seorang siswa SMA antah berantah di pelosok desa yang telah berjuang sungguh-sungguh mengerjakan Unas dengan kemampuannya sendiri, namun gagal dan tidak lulus Unas? Sangat tidak adil kan?

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Unas harus DISUKSESKAN oleh SEMUA PIHAK. Berbagai cara licik pun ditempuh oleh guru, siswa dan juga orang tua. Unas juga sarat dengan aroma ancaman. Bupati atau walikota mengancam kepala dinas, kepala dinas mengancam kepala sekolah. Siapa yang rela kehilangan jabatan? Kepala sekolah pun berkoordinasi untuk saling bekerjasama mensukseskan Unas. Tim pengawas yang dibuat saling silang pun percuma tak berguna. Tim pengawas telah mendapatkan amanah untuk mensukseskan Unas di sekolah yang mereka awasi. Bagaimana modusnya? Ada yang membantu mengerjakan soal. Ada yang membantu kemudahan distribusi jawaban. Ada yang terang-terangan menyalahi prosedur. LJK harus dimasukkan dalam amplop dan disegel di ruang ujian! Ah itu cuma prosedur! Kenyataan di lapang adalah LJK bisa dikoreksi lagi oleh guru atau panitia. Alasannya untuk mencek isian biodata peserta. Mungkin bukan hanya biodata peserta, guru yang kreatif bisa juga membantu mengoreksi isian jawaban. Yakinlah, bahwa itu semua sudah dicatat oleh tim pengawas independen. Yakinlah pula bahwa itu semua sia-sia jika semua pihak telah diberikan amanah untuk MENSUKSESKAN UNAS. Read More

Abdul Hadi Jamal; Korupsi bukan masalah Jawa-luar Jawa…

Ir. H. Abdul Hadi Jamal, SH. MM. anggota DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional ini baru saja tertangkap basah oleh KPK. Saya tidak akan mengulas panjang lebar tentang bagaimana kisah penangkapan anggota dewan yang terhormat ini. Yang jelas Ir. H. Abdul Hadi Jamal, SH. MM. juga mempunyai blog. Silahkan simak blognya yang baru saja direnovasi oleh tim suksesnya itu. Dulu, sebelum pemilik blog ini tertangkap basah oleh KPK, pengunjung bisa meninggalkan pesan dengan mudah melalui shout box yang entah mengapa kini tidak terpampang lagi di blog kerennya itu. Tapi jangan khawatir, silahkan kunjungi shout box itu langsung disini. Semoga pesan anda akan dibaca oleh Ir. H. Abdul Hadi Jamal, SH. MM.

Korupsi bisa dilakukan oleh siapa saja. Korupsi tidak pandang agama atau keyakinan, bisa saja seorang haji bangkotan yang sudah tujuh puluh kali naik turun haji melakukannya. Bisa juga dilakukan oleh seorang pendeta bandotan, bhiksu tengik hingga seorang kejawen deles. Korupsi bisa juga dilakukan oleh etnis manapun mulai Jawa, Bugis, Madura, Sunda, Dayak, Betawi, Minang, Makian, Bali, Tenggr, China dan lain sebagainya. Sekali lagi semua orang bisa melakukannya asal ada kesempatan. Tentu saja kesempatan bisa dicari, bukankah dalam kesempitan pun akan terbuka kesempatan.

Sebuah komentar lucu disampaikan oleh seorang pakar pengamat politik dari Universitas Hasanuddin, Dr. Armin Arsyad, MSi :

… Menurutnya apa yang dilakukan KPK adalah bukti keseriusan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-HM Jusuf Kalla, dalam melakukan pemberantasan korupsi di negeri ini.
“Jadi memang saatnya semua berhenti melakukan KKN supaya bangsa ini bisa maju,” tegasnya saat dihubungi Upeks, Selasa (3/3) malam. Ketika ditanya seputar aksi penangkapan KPK yang kebanyakan targetnya adalah pejabat yang berasal dari luar Jawa, sebutlah anggota DPR RI Hamka Yandhu dan Hadi Jamal asal Sulsel, Alamin Nasution dari Riau, Armin menuturkan hal itu semata-mata karena kemampuan orang-orang dari kalangan Jawa untuk menutupi aksi mereka.
“Mereka mampu membedakan yang mana perangkap yang mana bukan perangkap, dan mereka itu tidak akan mengambil kalau itu perangkap,” katanya sambil tertawa.
Lebih lanjut ditanya apakah kasus yang menimpa Hadi Jamal salah satu contoh dari yang dia ungkapkan bahwa ada kemungkinan dijebak, Ketua Jurusan Fisip Unhas itu menegaskan bahwa KPK tidak akan melakukan penangkan, jika tidak memiliki bukti awal yang meyakinkan. “Saya kira ini perangkap atau jebakan, karena KPK tidak mungkin menangkap tanpa ada bukti yang kuat dan saya kira KPK sudah lama mengincar,” terangnya. Kendati demikian kembali Armin meminta KPK tetap menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah dan tidak terburu-buru menuduh. …

Saya tidak tahu, apakah Pak Doktor tersebut tidak pernah mengikuti berita. Bukankah sudah banyak pula orang-orang dari kalangan Jawa yang ditangkap oleh KPK? Apakah Pak Doktor yang juga MSi itu tidak mengetahui Ismunarno, H. Agus Supriadi dan kawan-kawannya…

Pak Doktor seharusnya mengerti, sejak otonomi daerah ruang korupsi bukan lagi [hanya] di Jakarta atau Jawa. Namun jauh hingga pelosok NKRI. Pundi-pundi uang yang mengalir sejak era otonomi daerah begitu melimpah. Aneka dana dengan aneka istilah mengalir dengan deras ke seantero negeri, terutama luar Jawa. Tak jarang isu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dijadikan topeng untuk meraih kekuasaan melalui pemekaran daerah.

Jadi sekali lagi, Pak Doktor… Korupsi itu bisa dilakukan siapa saja. Janganlah Pak Doktor yang juga MSi mengeluarkan pernyataan yang lebih mengedepankan sentimen Jawa-luar Jawa. Jangan lah pak…

Jangan alihkan isu pemberantasan korupsi dengan isu SARA!!!



Berpikir Merdeka © 2007-2009 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
27 queries. 0.131 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.