Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!


Archive for the ‘Sok serius’


Lowongan CPNS Dosen dan Karyawan Universitas Trunojoyo (Unijoyo) Tahun 2008…

Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Universitas Trunojoyo (UNIJOYO) Tahun 2008

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor : 44085/A4/KP/2008, tanggal 3 September 2008 dan hasil rapat pimpinan di lingkungan Universitas Trunojoyo, tanggal 12 September 2008, Universitas Trunojoyo akan menerima Calon Pegawai Negeri Sipil sejumlah 60 orang, dengan rincian sebagai berikut :

No Tingkat Pendidikan Kualifikasi Akademik Jumlah Formasi Jabatan
1 S2 Akuntansi 1 Dosen
2 S2 Ekonomi Pembangunan 3 Dosen
3 S2 Ekonomi Pertanian 1 Dosen
4 S2 Ilmu Kelautan 1 Dosen
5 S2 Manajemen Agribisnis 2 Dosen
6 S2 Manajemen Sumberdaya Perairan 1 Dosen
7 S2 Sosial Ekonomi Perikanan 1 Dosen
8 S2 Apoteker (Biologi Farmasi) 1 Dosen
9 S2 Komunikasi 3 Dosen
10 S2 Psikologi 5 Dosen
11 S2 Sosiologi 6 Dosen
12 S2 Mu’amalah Syariah (Ekonomi Islam) 3 Dosen
13 S2 Sastra Inggris 2 Dosen
14 S2 Sistem Informasi 2 Dosen
15 S2 Teknik Elektro Jaringan Cerdas 3 Dosen
16 S2 Ilmu Komputer 3 Dosen
17 S2 Teknik Informatika 6 Dosen
18 S2 Teknik Industri 3 Dosen
19 S2 Teknik Komputer 2 Dosen
20 S2 Teknik Mesin Produksi 2 Dosen
21 S2 Teknik Manufaktur 1 Dosen
22 S2 Biologi 1 Dosen
22 S2 Fisika 1 Dosen
24 S2 Dokter Umum 1 Dosen
25 S2 Kependidikan Sains 1 Dosen
26 S2 Kimia 1 Dosen
27 S2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 1 Dosen
28 S1 Ilmu Komputer 1 Teknisi
29 DIII Akuntansi 1 Akuntan

Read More

Perbedaan adalah rahmat…

Maaf, agak panjang. Edisi Khutbah Jum’at ala Kyai Slamet nih…

Seperti tahun-tahun sebelumnya, penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal di negara kita pasti menimbulkan sedikit keguncangan. Perbedaan dalam penetapan tanggal nan penting bagi umat Islam ini seolah sudah menjadi pola yang akan terus berulang. Terkadang dengan sedikit bumbu yang ditambahkan oleh media massa, seolah perbedaan ini begitu dahsyat. Padahal perbedaan ini seharusnya dapat disikapi sebagai suatu hal yang biasa dan wajar dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Bukan sesuatu yang perlu dirisaukan. Terlepas dari masih pro kontranya status hadits Ikhtilaafu ummatii rahmah, saya masih berkeyakinan bahwa perbedaan memang sebuah rahmat. Namun bukan berarti sebaliknya, persatuan atau persamaan adalah adzab. Bukan, bukan sama sekali!

Perbedaan akan membawa kita untuk saling menghargai. Perbedaan pendapat menjadi suatu hal yang lumrah ketika tiap-tiap manusia berpikir. Bukankah kita diperintahkan untuk selalu berpikir. Sesuatu yang masih “samar” dalam Qur’an dan hadits merupakan sebuah perintah rahasia dari Allah kepada hambaNya untuk senantiasa memutar otak.

Ide penyatuan kalender Islam masih menjadi suatu cita-cita nan mustahil diwujudkan. Kenapa? Masing-masing pendapat, baik hisab maupun rukyat mempunyai dasar masing-masing. Pengertian rukyat pun masih dapat diperdebatkan. Apakah mata telanjang atau dengan alat bantu? Batas “mungkin terlihat” juga masih dapat diperdebatkan. Wajar! Di jaman Nabi Muhammad, belum ada teleskop yang berkemampuan prima. Dan yang utama, belum ada google dan kawan-kawannya!

Saya pribadi tetap memegang teguh “perbedaan adalah rahmat” dalam kehidupan beragama keluarga saya. Saya bukan NU atau Muhammadiyah, bukan pula HTI atau Triple C (Club Celana Cingkrang)! Saya muslim biasa!

Sedikit gambaran tentang indahnya perbedaan dalam keluarga saya. Saya terbiasa tidak membaca doa qunut  (do’a yang dibaca selepas bangkit dari rukuk pada rakaat terakhir) ketika sholat shubuh, sedangkan istri saya terbiasa melafalkannya. Lalu sebagai imam sholat, apakah saya dengan serta merta menghilangkan kesempatan istri saya untuk membaca qunut? Tidak. Selalu ada jalan menuju Surga. Selepas i’tidal (bangkit dari rukuk) terakhir, saya memberi waktu kepada istri untuk melafalkan doa qunut. Lalu saya ngapain? Ya diam saja!

Read More

Fatwa haram rokok…

Sejak kemarin malam saya agak terperanjat ketika membaca detik. Sebuah berita baru dan saya prediksi bakal mengguncangkan Indonesia. Hayoo apa coba? Rekaman telepon, ah sudah lewat. Supriyadi muncul lagi, ah saya gak mau membahas itu. Lalu apa? itu lho soal rokok-merokok.

Kak Seto, ketua KPAI meminta kepada MUI untuk memberikan fatwa haram untuk rokok dan merokok. Alasan KPAI adalah untuk melindungi anak-anak dari dampak buruk rokok. Banyak data yang menyebutkan bahwa jumlah perokok anak [atau anak perokok ya?] semakin menunjukkan peningkatan. Salah satu upaya untuk mencegah hal itu adalah dengan memfatwakan haram terhadap rokok dan tentu saja aktivitas merokok sendiri.

Weh la da lah… MUI? Rokok? Masak sih fatwa MUI masih bisa diandalkan. Lha fatwa yang lain saja hanya dianggap angin lalu kok oleh umatnya. Sebelum membahas lebih jauh tentang rokok, saya mencoba membahas fatwa-fatwa MUI terlebih dahulu. Saya terkadang heran, kenapa terlalu sering MUI mengeluarkan fatwa atau dipaksa mengeluarkan fatwa hal-hal yang “aneh-aneh”, mulai sepele hingga sepolo. Coba anda pikirkan atau bayangkan saja deh….

1. Fatwa haram mencuri listrik.

2. Fatwa haram membajak… Coba yang gemar nonton VCD atau DVD, kalau beruntung pasti anda pernah menjumpai tulisan ini.

3. Fatwa haram golput.

Read More

Mari perbesar kemaluan kita dengan semangat proklamasi…

Tanpa terasa kita telah memasuki bulan Agustus. Sebuah bulan yang dianggap keramat oleh Bangsa Indonesia. Pada bulan ini, Bangsa Indonesia lepas dari belenggu penjajahan. Seperti tahun-tahun lalu, bulan Agustus selalu diisi dengan ritual yang membosankan. Semoga saja kita tidak merasa bosan oleh peringatan itu-itu saja. Apalah arti gegap gempita acara peringatan kemerdekaan? Yang terpenting kita semua mampu dan mau memahami arti kemerdekaan.

Peringatan kemerdekaan RI yang ke-63, tahun ini diwarnai dengan berbagai peristiwa yang menghebohkan. Mulai dari skandal para jaksa yang kurang terhormat, tingkah mesum anggota dpr yang tak kalah hinanya hingga kebodohan anggota KPUD yang tak mampu berhitung. Serangkaian peristiwa memalukan dan memilukan itu harus kita renungkan bersama. Mengapa bisa terjadi. Apakah ini yang disebut dengan kemerdekaan. Merdeka untuk bertindak tanpa mempedulikan norma yang ada. Merdeka dalam memuaskan sahwat. Tentu bukan itu yang ada di benak Soekarno dan kawan-kawannya.

Kunci dari semua masalah itu adalah kemaluan. Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk memperbesar kemaluan masing-masing. Dengan kemaluan yang besar niscaya KPK tidak perlu membuat baju khusus untuk Nurdin Halid dan kawan-kawannya. Kini kita seolah tak punya kemaluan, toh kalaupun ada seolah kemaluan kita hanya bahan pajangan semata. Tak ada rasa malu untuk menyerobot lampu merah, tiada rasa malu untuk meminta upeti, tiada rasa malu untuk mengambil uang rakyat.

Mari secara bertahap kita perbesar kemaluan kita. Mulai dari yang sederhana. Mulai senin depan, kurangi penggunaan akses internet kantor untuk ngeblog! Ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang besar kemaluannya!

***kabur***

NB : Google reader saya numpuk sampai 784 biji, diapain ya? Maaf, seminggu ini saya banyak pekerjaan. Yah beginilah tanggung jawab sebagai abdi negara dan abdi masyarakat! ***kabur lagi***



Berpikir Merdeka © 2007-2008 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
32 queries. 0.390 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.