Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!


Archive for the ‘Sok ngerti’


Abdul Hadi Jamal; Korupsi bukan masalah Jawa-luar Jawa…

Ir. H. Abdul Hadi Jamal, SH. MM. anggota DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional ini baru saja tertangkap basah oleh KPK. Saya tidak akan mengulas panjang lebar tentang bagaimana kisah penangkapan anggota dewan yang terhormat ini. Yang jelas Ir. H. Abdul Hadi Jamal, SH. MM. juga mempunyai blog. Silahkan simak blognya yang baru saja direnovasi oleh tim suksesnya itu. Dulu, sebelum pemilik blog ini tertangkap basah oleh KPK, pengunjung bisa meninggalkan pesan dengan mudah melalui shout box yang entah mengapa kini tidak terpampang lagi di blog kerennya itu. Tapi jangan khawatir, silahkan kunjungi shout box itu langsung disini. Semoga pesan anda akan dibaca oleh Ir. H. Abdul Hadi Jamal, SH. MM.

Korupsi bisa dilakukan oleh siapa saja. Korupsi tidak pandang agama atau keyakinan, bisa saja seorang haji bangkotan yang sudah tujuh puluh kali naik turun haji melakukannya. Bisa juga dilakukan oleh seorang pendeta bandotan, bhiksu tengik hingga seorang kejawen deles. Korupsi bisa juga dilakukan oleh etnis manapun mulai Jawa, Bugis, Madura, Sunda, Dayak, Betawi, Minang, Makian, Bali, Tenggr, China dan lain sebagainya. Sekali lagi semua orang bisa melakukannya asal ada kesempatan. Tentu saja kesempatan bisa dicari, bukankah dalam kesempitan pun akan terbuka kesempatan.

Sebuah komentar lucu disampaikan oleh seorang pakar pengamat politik dari Universitas Hasanuddin, Dr. Armin Arsyad, MSi :

… Menurutnya apa yang dilakukan KPK adalah bukti keseriusan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-HM Jusuf Kalla, dalam melakukan pemberantasan korupsi di negeri ini.
“Jadi memang saatnya semua berhenti melakukan KKN supaya bangsa ini bisa maju,” tegasnya saat dihubungi Upeks, Selasa (3/3) malam. Ketika ditanya seputar aksi penangkapan KPK yang kebanyakan targetnya adalah pejabat yang berasal dari luar Jawa, sebutlah anggota DPR RI Hamka Yandhu dan Hadi Jamal asal Sulsel, Alamin Nasution dari Riau, Armin menuturkan hal itu semata-mata karena kemampuan orang-orang dari kalangan Jawa untuk menutupi aksi mereka.
“Mereka mampu membedakan yang mana perangkap yang mana bukan perangkap, dan mereka itu tidak akan mengambil kalau itu perangkap,” katanya sambil tertawa.
Lebih lanjut ditanya apakah kasus yang menimpa Hadi Jamal salah satu contoh dari yang dia ungkapkan bahwa ada kemungkinan dijebak, Ketua Jurusan Fisip Unhas itu menegaskan bahwa KPK tidak akan melakukan penangkan, jika tidak memiliki bukti awal yang meyakinkan. “Saya kira ini perangkap atau jebakan, karena KPK tidak mungkin menangkap tanpa ada bukti yang kuat dan saya kira KPK sudah lama mengincar,” terangnya. Kendati demikian kembali Armin meminta KPK tetap menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah dan tidak terburu-buru menuduh. …

Saya tidak tahu, apakah Pak Doktor tersebut tidak pernah mengikuti berita. Bukankah sudah banyak pula orang-orang dari kalangan Jawa yang ditangkap oleh KPK? Apakah Pak Doktor yang juga MSi itu tidak mengetahui Ismunarno, H. Agus Supriadi dan kawan-kawannya…

Pak Doktor seharusnya mengerti, sejak otonomi daerah ruang korupsi bukan lagi [hanya] di Jakarta atau Jawa. Namun jauh hingga pelosok NKRI. Pundi-pundi uang yang mengalir sejak era otonomi daerah begitu melimpah. Aneka dana dengan aneka istilah mengalir dengan deras ke seantero negeri, terutama luar Jawa. Tak jarang isu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dijadikan topeng untuk meraih kekuasaan melalui pemekaran daerah.

Jadi sekali lagi, Pak Doktor… Korupsi itu bisa dilakukan siapa saja. Janganlah Pak Doktor yang juga MSi mengeluarkan pernyataan yang lebih mengedepankan sentimen Jawa-luar Jawa. Jangan lah pak…

Jangan alihkan isu pemberantasan korupsi dengan isu SARA!!!

Balada anak Indonesia…

Semakin lama anak-anak Indonesia semakin mengalami pergeseran budaya. Dulu mereka disibukkan oleh nyanyian lagu nasional dan lagu daerah, bergeser kemudian pada lagu pop anak. Kini semua telah sirna dan berganti menjadi aneka nyanyian orang dewasa, mulai dari buaya mesra, teman tapi buaya, mahkluk Tuhan yang paling nggilani hingga goyang sex toys ala penyanyi dangdut. Kini tidak pernah lagi terdengar nyanyian semacam abang tukang bakso, lumba-lumba, banyak nyamuk ataupun diobok-obok.

Parahnya komersialisasi anak didukung sepenuhnya oleh media. Aneka lomba untuk menjadi selebriti kagetan pun digelar. Menjadi lucu ketika ajang lomba itu tidak menyentuh ruh anak yang sesungguhnya. Kalaupun lomba menyanyi maka lagu yang dibawakan pun bukan lagu anak-anak, ada pula lomba berda’wah yang terkadang hanya mengundang tawa saja. Entah si anak paham betul apa yang diucapkan atau hanya sebatas dipaksa menghapal oleh bapak ibunya demi sebuah kata “popularitas”.

Menjadi semakin tergelak ketika semalam sebuah stasiun televisi yang sempat dituduh monopoli menggelar acara kids awards. Anak-anak pun bisa berteriak seperti bintang bokep Jepang yang lagi orgasme histeris ketika memandang sosok idolanya muncul. Jangan bayangkan sang idola adalah teman sepermainan, teman seumuran. Sang idola adalah artis-artis dewasa juga artis sinetron. Jadi anak adalah salah satu pangsa pasar yang patut dipertimbangkan oleh pembuat sinetron. Tapi bukan berarti akan bermunculan sinetron bermutu ala TVRI jaman dulu. Paling hanya sinetron yang berhias paha, dada dan seragam anak sekolah bak hentai Jepang.

Sebuah komentar cukup pedas dan mungkin terlalu kasar disampaikan oleh seorang kyai ketika melihat fenomena ini. “Arek jaman saiki, cilik-cilik jembute wis ngeruwel“. Mungkin sebuah komentar keputusasaan akan dunia anak Indonesia. Lalu masihkah kita menyalahkan syekh Puji? Mungkin saja anak-anak jaman sekarang yang terlalu gatal unuk menggoda orang dewasa.

KIVA, sedekah cara cerdas…

Bu Jawiyah warga Leuwiliang-Bogor ini mungkin tidak tahu apabila nama dan fotonya akan bisa diakses dari seantero jagad. Perempuan 45 tahun ini terlalu disibukkan oleh pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Suaminya tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga mau tidak mau Bu Jawiyah harus bekerja keras guna mencukupi kebutuhan hidup serta biaya sekolah kedua anaknya. Sebuah warung kecil yang menjual aneka makanan menjadi penopang hidup keluarganya. Modal yang terbatas menyebabkan warung Bu Jawiyah kurang berkembang. Beruntung Bu Jawiyah mendapatkan pinjaman dari tiga orang warga Amerika Serikat senilai 75 dollar AS.  Bu Jawiyah berjanji akan melunasi pinjaman tersebut dengan cara diangsur selama 18 bulan.

Mbok Vera Oreyie warga Nigeria ini adalah pedagang kecil. Dia berjualan aneka hasil pertanian di pasar. Mbok Vera harus bekerja keras untuk menghidupi 7 orang anaknya. Tentu saja Mbok Vera membutuhkan modal untuk kelangsungan usahanya. Sungguh beruntung seorang bule asal Swiss bersedia meminjamkan modal kepadanya. Mbok Vera mendapatkan pinjaman modal sebesar 875 dollar AS. Pinjaman ini akan diangsurnya selama 8 bulan.

Anda pasti terperanjat, Bu Jawiyah yang berada di pelosoknya Bogor dan Mbok Vera yang berada di Nigeria bisa berkenalan dengan bule-bule Amrik dan Swiss. Dunia memang hanya selebar daun kelor (Moringa oliefera). Bu Jawiyah dan Mbok Vera tentu tidak menerima pinjaman itu langsung dari tangan si bule. Namun yang jelas si bule telah memilih Bu Jawiyah dan Mbok Vera untuk menerima pinjaman modal tersebut. Melalui KIVA-lah mereka dipertemukan. Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2009 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
32 queries. 0.362 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.