Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo adalah seorang warga negara Republik Indonesia


Archive for the ‘Ngakak’


Sarah Azhari, Rahma Azhari, Ayu Azhari dan Dewi Persik maju menjadi capres?

Fenomena baru di Indonesia. Setelah beberapa waktu lalu para kyai terjun ke arena politik praktis, kini giliran para artis. Kalau pada masa orde baru hingga awal reformasi, para artis “hanya” tampil sebagai penggaet massa dan beberapa oknum yang beruntung dapat duduk manis di gedung DPR. Kini mereka mulai memasuki kancah jabatan eksekutif.

Sebut saja Rano Karno, artis pertama yang berhasil memenangi pemilihan bupati Tangerang. Tak berselang lama, giliran Dede Yusuf yang berhasil memenangi pemilihan gubernur Jawa Barat. Langkah sukses kedua tokoh ini kemudian diikuti oleh beberapa aris lainnya. Primus, misalnya. Dia melenggang menjadi calon independen pada pemilihan bupati Subang, serta masih banyak artis lainnya.

Saya tidak akan mengupas tentang fenomena ini secara muluk-muluk. Namun ada yang mengganjal di benak saya. Kalau tim sukses Bang Foke dan Pakde Karwo dengan lantang berteriak “COBLOS KUMISNYA”. Lalu seandainya Sarah Azhari maju sebagai capres atau ca-apalah, kira-kira apa yang ditawarkan untuk DICOBLOS?

Ketika saat ini sering kita dengar rangkaian kata, “PILIH YANG BAJU PUTIH, JANGAN LUPA COBLOS JENGGOTNYA, PILIH YANG BERPECI DORENG, apakah kelak akan kita dengar, “COBLOS DADA MONTOKNYA, PILIH YANG BERDADA MONTOK, COBLOS YANG BERBOKONG GEDHE”?

Read More

Pembicaraan bisnis tingkat tinggi…

Seorang anggota DPR dan pejabat daerah sedang terlibat dalam pembicaraan mesum bisnis.

Pejabat : “Pak, bagaimana barang segera akan saya kirim?”

Anggota DPR : “Ahh.. barang yang mana? Yang putih itu kan sudah pernah saya pakai. Yang lain dong!”

Pejabat : “Emang kenapa pak dengan yang putih?”

Anggota DPR : “Ah gak mau… Sudah bocor semua, dalemannya kendor, gak mencengkeram.”

Pejabat : “Lalu bapak maunya yang kayak gimana?”

Anggota DPR : “Saya pingin yang bisa dangdutan!”

Pejabat : “Oh, kalau yang bisa dangdutan, saya ada stok. Tapi sudah pernah dipakai sama teman bapak.”

Anggota DPR : “Teman saya? Teman yang mana?”

Pejabat : “Itu yang kemaren ketangkep basah pas lagi naikin… si Yahya Jonet.”

Anggota DPR : “Ah.. yang itu. Gak mau! Dalemannya sudah bau, jorok! Warnanya item lagi! Gak menarik! Saya cari yang dalemannya masih kenceng, bersih, harum dan warnanya merah!”

Pejabat : “Lho bapak pernah makai juga yang itu? Kok bapak tahu!”

Anggota DPR : “Ah, kamu ini macam gak tahu aja! Kami sering makai rame-rame! Terakhir saya naikin pas di Puncak Bogor.” Read More

Mendadak pindah agama…

Sebelum membaca lebih jauh, hendaknya anda memahami bahwa tulisan ini adalah kisah nyata. Tulisan ini tidak ditujukan untuk membangkitkan gairah sentimen sarah azhari. Selamat menikmati…

Suatu pagi menjelang Subuh, kami berempat yang kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang beristirahat di sebuah masjid. Rasa lelah, kantuk dan dingin bercampur menjadi satu. Kami pun bergelimpangan untuk sedikit memejamkan mata mengobati rasa lelah dan kantuk itu.

Lantai masjid yang terbuat dari keramik tanpa lapisan karpet membuat dinginnya pagi semakin menusuk kulit. Suatu langkah cerdas dilakukan oleh seorang teman kami, Sah. Sah dengan sigap menuju tempat wudhu dan dengan mantap melenggang ke dalam masjid. Dia tahu, hanya bagian depan mimbar saja yang berlapis karpet. Maka dengan khusyu’ Sah melakukan aksi i’tikafnya. Entah apa yang dilakukan sebenarnya. Tidur, mungkin.

Kami bertiga yang tersisa di luar harus berjuang menghadapi rasa dingin. Tanpa terasa saatnya adzan dikumandangkan. Seorang bapak mengingatkan Sah untuk membangunkan kami bertiga yang masih terlelap. Saya, Agus dan Tasman pun bangun walau agak terpaksa. Dengan langkah masih gontai, saya dan Agus menuju tempat wudhu. Sedangkan Tasman dengan santai malah menyalakan rokoknya dan melenggang keluar masjid.

Bapak tadi pun menjadi bertanya-tanya, “Mas, teman satunya itu kok nggak sholat?”. Sah pun kebingungan harus menjawab apa. Tidak mungkin dia menjawab, “Dia lagi capek, pak” atau “Dia lagi mens, pak”. Jawaban seperti ini malah akan menimbulkan serangkaian pertanyaan dan mungkin pernyataan dari sang bapak. Beruntung Sah memiliki otak cerdas, dengan mantab menjawab, “Oh, teman saya itu Kristen, pak”.

Read More

Alat anti sadap telepon berkualitas…

Anda mencari:

ALAT ANTI SADAP TELEPON, TEKNOLOGI ANTI SADAP TELEPON, PERANGKAT ANTI SADAP HANDPHONE, ANTISADAP TELEPON, ANTISADAP HANDPHONE, ANTISADAP PEMBICARAAN, OBAT ANTISADAP, HANDPHONE ANTISADAP, HAND PHONE ANTI SADAP, TELEPON ANTISADAP, TELEPON ANTI SADAP, JAMU ANTI SADAP, PENANGKAL PENYADAPAN TELEPON, ALAT BEBAS SADAP, SUSUK ANTI SADAP, KONTRASEPSI ANTI SADAP, JIMAT ANTI SADAP, DO’A ANTI SADAP, RAJAH ANTI KPK, RAJAH ANTI SADAP, HANDPHONE ANTI SADAP, HAND PHONE ANTISADAP, TELPON ANTI SADAP, JAMU KUAT SADAP, RITUAL TOLAK SADAP, RITUAL ANTI SADAP, HANDPHONE ANTI SADAP, RUWATAN TOLAK KPK, ALAT PENANGKAL PENYADAPAN, BAJU PUTIH BEBAS SADAP, TELPON HANDPHONE TELEPON HAND PHONE ANTI SADAP ANTISADAP BEBAS SADAP, DUKUN AMPUH TOLAK SADAP, CREAM ANTI SADAP, LOTION ANTI SADAP, JAMU TOLAK KPK, ANTI SADAP ELEKTRONIK, ANTI SADAP GRATIS, BUBUR RASA SADAP.

Bukan disini tempatnya!

***

[Mungkin] 68 persen pembaca tulisan ini yang berasal dari mesin pencari adalah :

1. Anggota DPR.

2. Menteri, bupati, walikota, gubernur, kepala dinas, cukong.

3. Jaksa, hakim, pengacara, polisi, tentara.

4. Staf ahli, staf khusus, sekretaris pribadi, pesuruh, anak buah, kaki tangan.

5. Anak kandung, keponakan, simpanan, pemakai baju putih dari nomor 1 hingga 4.

6. Keponakan, anak, menantu, pembantu, pengawal pribadi, kroni, rekan bisnis Artalyta, Untung, Amin dan sebangsanya.

***

Lagi-lagi rekaman pembicaraan telepon! Sebuah tren baru di dunia hiburan. Bahkan [mungkin] kini para penikmat film porno banyak yang beralih menjadi penikmat rekaman telepon dengan bintang-bintang baru. Om Amin, Tante Artalyta, Om Untung dan beberapa orang lain. Ketenaran mereka sekarang hampir menyamai Maria Ozawa. Dimana-mana dibahas dan digunjingkan. Bahkan seringpula dicaci maki, dihina dan dilecehkan.

Terungkapnya pembicaraan telepon terbaru antara Tante Ayin dan Om Untung semakin memperjelas banyaknya orang yang terlibat dalam persekongkolan mesum ini. Polisi terlibat? Ah… kalau polisi cuma lalai saja dalam menjalankan tugasnya. Herannya kalau kita lalai membawa SIM atau STNK bisa berujung dengan uang rokok atau uang buku untuk anak [oknum] polisi. Benar, asu

Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2008 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress.
28 queries. 0.319 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.