Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!


Archive for the ‘Ngakak’


Densus 69 Anti Celeng…

Jenderal : “Pak Icang, ini ada kasus!”

Pak Icang : “So?…”

Jenderal : “Ada majalah memuat gambar saya dengan celeng eh celengan!”

Pak Icang : “Ada hubungannya dengan saya?”

Jenderal : “Ya, ada lah pak. Nanti kalau celengan saya dibongkar, bapak bisa kena!”

Pak Icang : “Butuh ransum berapa? Saya kirim cash pakai koin saja biar aman, 3 M ya?”

Jenderal : “Maaf, pak. Istri muda saya minta jalan-jalan ke Antartika nih!”

Pak Icang : “Oke, saya kirim 6 M!”

Jenderal : “Baik, pak! terimakasih!”

***

Jenderal : “Segera amankan majalah dengan gambar saya dengan celengan itu!”

Kombes : “Siap Ndan!”

Jenderal : “Dana oprasi 4 M saya kirim!”

Kombes : Siap! 86!”

***

Kombes : “Siapkan pasukan untuk mengeksekusi majalah celeng!”

AKP : “Siap, laksanakan!”

Kombes : “Ransum saya kirim 2 M!”

AKP : “Siap! Segera saya laksanakan. 86!”

***

AKP : “Segera diatasi majalah dengan gambar Jenderal celeng!”

Iptu : “Siap! Dananya bagaimana Ndan?”

AKP : “Saya kirim 0,5 M. Jika kurang atasi sendiri. Kamu kan pegang kasus pajak dan pembalakan liar!”

Iptu : “Siap!” Read More

Abdul Hadi Jamal; Korupsi bukan masalah Jawa-luar Jawa…

Ir. H. Abdul Hadi Jamal, SH. MM. anggota DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional ini baru saja tertangkap basah oleh KPK. Saya tidak akan mengulas panjang lebar tentang bagaimana kisah penangkapan anggota dewan yang terhormat ini. Yang jelas Ir. H. Abdul Hadi Jamal, SH. MM. juga mempunyai blog. Silahkan simak blognya yang baru saja direnovasi oleh tim suksesnya itu. Dulu, sebelum pemilik blog ini tertangkap basah oleh KPK, pengunjung bisa meninggalkan pesan dengan mudah melalui shout box yang entah mengapa kini tidak terpampang lagi di blog kerennya itu. Tapi jangan khawatir, silahkan kunjungi shout box itu langsung disini. Semoga pesan anda akan dibaca oleh Ir. H. Abdul Hadi Jamal, SH. MM.

Korupsi bisa dilakukan oleh siapa saja. Korupsi tidak pandang agama atau keyakinan, bisa saja seorang haji bangkotan yang sudah tujuh puluh kali naik turun haji melakukannya. Bisa juga dilakukan oleh seorang pendeta bandotan, bhiksu tengik hingga seorang kejawen deles. Korupsi bisa juga dilakukan oleh etnis manapun mulai Jawa, Bugis, Madura, Sunda, Dayak, Betawi, Minang, Makian, Bali, Tenggr, China dan lain sebagainya. Sekali lagi semua orang bisa melakukannya asal ada kesempatan. Tentu saja kesempatan bisa dicari, bukankah dalam kesempitan pun akan terbuka kesempatan.

Sebuah komentar lucu disampaikan oleh seorang pakar pengamat politik dari Universitas Hasanuddin, Dr. Armin Arsyad, MSi :

… Menurutnya apa yang dilakukan KPK adalah bukti keseriusan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-HM Jusuf Kalla, dalam melakukan pemberantasan korupsi di negeri ini.
“Jadi memang saatnya semua berhenti melakukan KKN supaya bangsa ini bisa maju,” tegasnya saat dihubungi Upeks, Selasa (3/3) malam. Ketika ditanya seputar aksi penangkapan KPK yang kebanyakan targetnya adalah pejabat yang berasal dari luar Jawa, sebutlah anggota DPR RI Hamka Yandhu dan Hadi Jamal asal Sulsel, Alamin Nasution dari Riau, Armin menuturkan hal itu semata-mata karena kemampuan orang-orang dari kalangan Jawa untuk menutupi aksi mereka.
“Mereka mampu membedakan yang mana perangkap yang mana bukan perangkap, dan mereka itu tidak akan mengambil kalau itu perangkap,” katanya sambil tertawa.
Lebih lanjut ditanya apakah kasus yang menimpa Hadi Jamal salah satu contoh dari yang dia ungkapkan bahwa ada kemungkinan dijebak, Ketua Jurusan Fisip Unhas itu menegaskan bahwa KPK tidak akan melakukan penangkan, jika tidak memiliki bukti awal yang meyakinkan. “Saya kira ini perangkap atau jebakan, karena KPK tidak mungkin menangkap tanpa ada bukti yang kuat dan saya kira KPK sudah lama mengincar,” terangnya. Kendati demikian kembali Armin meminta KPK tetap menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah dan tidak terburu-buru menuduh. …

Saya tidak tahu, apakah Pak Doktor tersebut tidak pernah mengikuti berita. Bukankah sudah banyak pula orang-orang dari kalangan Jawa yang ditangkap oleh KPK? Apakah Pak Doktor yang juga MSi itu tidak mengetahui Ismunarno, H. Agus Supriadi dan kawan-kawannya…

Pak Doktor seharusnya mengerti, sejak otonomi daerah ruang korupsi bukan lagi [hanya] di Jakarta atau Jawa. Namun jauh hingga pelosok NKRI. Pundi-pundi uang yang mengalir sejak era otonomi daerah begitu melimpah. Aneka dana dengan aneka istilah mengalir dengan deras ke seantero negeri, terutama luar Jawa. Tak jarang isu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dijadikan topeng untuk meraih kekuasaan melalui pemekaran daerah.

Jadi sekali lagi, Pak Doktor… Korupsi itu bisa dilakukan siapa saja. Janganlah Pak Doktor yang juga MSi mengeluarkan pernyataan yang lebih mengedepankan sentimen Jawa-luar Jawa. Jangan lah pak…

Jangan alihkan isu pemberantasan korupsi dengan isu SARA!!!



Berpikir Merdeka © 2007-2009 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
27 queries. 0.112 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.