Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo adalah seorang warga negara Republik Indonesia


Archive for the ‘Nampang’


Warung Pak Bagong yang ndeso ituh…halah…:D

Warung Pak Bagong merupakan jujugan saya apabila sambang ke Tuban. Warung yang terletak di Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding ini menyajikan masakan khas ndeso yang menggugah selera. Belut goreng basah pedas dan nasi jagung menjadi menu andalannya. Selain itu ada pula menu bagi wong abangan Tuban, kodok goreng basah pedas. Oalah.. nama menunya kok mbulet. Lha yang ngasih nama juga saya sendiri. Pak Bagong hanya mengenalkan menunya dengan nama “Welut” dan “Kodok” saja.

Walaupun di Tuban banyak mbah yai, tapi budaya abangan juga sangat kental disini. Jangan heran apabila minuman keras tradisional Tuban, toak dapat dengan mudah ditemui di setiap sudut perempatan. Menjalin persatuan dan kesatuan, istilahnya…hahahaha… Liputan tentang toak plus tambul iwak nyambik-nya akan saya sajikan nanti, sekali lagi kalau sempat dan ingat. :D

Kembali ke welut Pak Bagong, warung ini begitu terkenal, bahkan apabila datangs edikit terlambat saja sudah pasti akan kehabisan. Jangan coba-coba datang setelah jam 12 siang! Pasti akan gigit jari…

Jangan heran apabila warung sederhana ini akan dipenuhi oleh banyak pengunjung dari luar kota. Paling tidak dari plat nomor mobil yang berjajar rapi di depan warung, kita akan tahu darimana saja mereka berasal. Terlebih ketika hari libur, banyak warga Tuban yang Welut Pak Bagong…berstatus sebagai buruh migran akan sambang ke Tuban.

Belut digoreng basah dengan bumbu pedas. Lain dari yang sering kita jumpai yaitu lalapan belut yang cederung goreng kering. Rasa pedas begitu terasa dan merasuk hingga ke tulang-tulang belut. Nuansa ndeso semakin kental dengan nasi jagungnya. Benar-benar nikmat….

Read More

Asam manisnya kedondong….

Kedondong atau Gedondong atau Dondong (Spondias dulcis Forst) merupakan buah remeh temeh yang tidak pernah dijumpai di supermarket dalam bentuk segar. Namun olahannya berupa manisan dapat kita jumpai disana. Buah yang identik dengan rujak dan manisan ini cukup mudah kita jumpai di pasar tradisional. Buah yang bijinya sering diplesetkan sebagai obat gatal-gatal di tenggorokan ini dapat tumbuh pada dataran rendah hingga ketinggian 700 mdpl.

Dondong…

Read More

Meraba dari bawah hingga atas…

Nama Maluku Utara semakin hari semakin melejit dan kian akrab di telinga kita. Setiap hari kita sering mendengar nama propinsi ini disebut. Ya, kisruh pilkada yang telah melambungkan nama propinsi baru, hasil pemekaran dari propinsi Maluku ini. Sampai tulisan ini dibuat pun belum jelas siapa yang bakal menjadi gubernur propinsi yang ibu kotanya terletak di Ternate ini.

Sebuah keberuntungan bagi saya, untuk dapat berjeng-jeng di Maluku Utara. Perjalanan saya awali dari Malang!

–Yah, sebenarnya saya sudah berada di Malang sejak 21 Februari lalu. Tetapi sesampai di Malang saya terkapar tak berdaya. Badan demam disertai batuk dan perut kembung! Kata dr Hartoyo yang mangkal di pertigaan daging Dinoyo, saya mengalami infeksi pencernaan! Ahhh… masak gara-gara ini ya! Setelah beristirahat dan mengurangi rokok sesuai anjuran Pak Dokter, berangsur-angsur kesadaran kesehatan saya pulih. Minggu, 14 Februari, saya meluncur menuju Tuban untuk menjenguk nenek yang sedang sakit. Ya, saya masih punya nenek. Rabu, 17 Februari kembali ke Malang dan Sabtu, 23 Februari mabur ke Ternate!-

Saya terbang ke Ternate menggunakan MNA dengan satu kali transit di Makassar Maros. Bandara Sultan Hassanudin terletak di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan, bukan di Kota Makassar! Di bandara sudah menunggu Him dan orang ini. Memang kami bertiga akan bersama-sama belajar di Halmahera Barat. Setelah ngeteh dan ngerokok sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju Ternate.

Sudut Kota Ternate…

Read More

Napak Tilas Perjuangan ….

Terprovokasi oleh Zam, saya mencoba untuk melakukan napak tilas perjalanannya ke kota hujan beberapa waktu lalu. Kebetulan, si gembel ngeblog sedang merayakan kebebasannya dari tahanan kampus Darmaga. Maka langsung meluncur ide saya untuk memperkosa merampoknya di sebuah warung sate yang sempat dimampiri oleh Zam dan Pakdhe. Sebenarnya sih ide awal kami akan melakukan wisata kuliner ke sebuah warung sate kambing yang ada di parung. Harapannya selain bisa makan sate, kita kami akan bisa menikmati para penjaja bebek (bindeng). Hehehehehe …………

Langsung meluncur menuju TKP. Yup, di taman kencana Bogor. Warung sate Madura “HAJI ISMAIL” namanya.

Waduh…, malem minggu dijamin pasti rame! Dan benar saja, deretan mobil mewah berjajar dengan tidak rapinya di depan warung. Menunya sangat tidak ramah bagi kaum herbivora vegetarian. Lha yo mesti namanya sajah warung sate! Sampean iki kok aneh!

Menu pertama yang saya coba adalah sop daging sapi. Kenapa sapi? Karena saya diharamkan makan babi! Lagi pula ya warungnya gak menyediakan menu daging babi tho. Hehehehe….

Sop dagingnya seger dan dagingnya bener-bener daging! Maksudnya ukurannya benar-benar mantheb! Dijamin deh…….

Sop daging sapi …..

Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2008 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress.
28 queries. 0.310 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.