Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!


Archive for the ‘Macak pinter’


KIVA, sedekah cara cerdas…

Bu Jawiyah warga Leuwiliang-Bogor ini mungkin tidak tahu apabila nama dan fotonya akan bisa diakses dari seantero jagad. Perempuan 45 tahun ini terlalu disibukkan oleh pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Suaminya tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga mau tidak mau Bu Jawiyah harus bekerja keras guna mencukupi kebutuhan hidup serta biaya sekolah kedua anaknya. Sebuah warung kecil yang menjual aneka makanan menjadi penopang hidup keluarganya. Modal yang terbatas menyebabkan warung Bu Jawiyah kurang berkembang. Beruntung Bu Jawiyah mendapatkan pinjaman dari tiga orang warga Amerika Serikat senilai 75 dollar AS.  Bu Jawiyah berjanji akan melunasi pinjaman tersebut dengan cara diangsur selama 18 bulan.

Mbok Vera Oreyie warga Nigeria ini adalah pedagang kecil. Dia berjualan aneka hasil pertanian di pasar. Mbok Vera harus bekerja keras untuk menghidupi 7 orang anaknya. Tentu saja Mbok Vera membutuhkan modal untuk kelangsungan usahanya. Sungguh beruntung seorang bule asal Swiss bersedia meminjamkan modal kepadanya. Mbok Vera mendapatkan pinjaman modal sebesar 875 dollar AS. Pinjaman ini akan diangsurnya selama 8 bulan.

Anda pasti terperanjat, Bu Jawiyah yang berada di pelosoknya Bogor dan Mbok Vera yang berada di Nigeria bisa berkenalan dengan bule-bule Amrik dan Swiss. Dunia memang hanya selebar daun kelor (Moringa oliefera). Bu Jawiyah dan Mbok Vera tentu tidak menerima pinjaman itu langsung dari tangan si bule. Namun yang jelas si bule telah memilih Bu Jawiyah dan Mbok Vera untuk menerima pinjaman modal tersebut. Melalui KIVA-lah mereka dipertemukan. Read More

Gebyah uyah…

NaCl
Saya tertawa ketika seorang teman perempuan bercerita tentang keengganannya didekati oleh seorang cowok tetangga desa. Bukan karena si cowok kurang tampan atau kurang kaya, bukan pula masalah keyakinan, tapi hanya karena si cowok adalah pegawai DLLAJ (Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan). Lho memangnya ada apa dengan status kepegawaian si cowok tadi? “Ah pegawai DLLAJ kan jagonya mungli (kata kerja dari pungli)”, jawab teman cewek tadi. Hmmmm… sebegitu yakinnya si cewek mengambil kesimpulan. Terlalu digebyah uyah kata Wong Jawa. Gebyah uyah berarti melakukan generalisasi secara asal-asalan atau lebih gampangnya menyamaratakan suatu keadaan.

Bukan hanya teman cewek tadi, kita pun sering melakukan gebyah uyah ini. Kendati hanya oknum, namun kita selalu menarik menjadi sebuah kesimpulan umum yang mengarah pada profesi bahkan institusi dimana si oknum bernaung. Yang tentu saja berdampak pada rekan si oknum tadi. Tak heran sering kita mendengar olok-olok mengenai pekerjaan tertentu semacam polisi, tukang pegawai pajak, anggota DPR dan lain sebagainya. Seolah setiap profesi telah mempunyai citra tersendiri di tengah masyarakat. Anehnya hal ini tidak saja dilakukan oleh orang awam, seorang pakar pun sering meng-gebyah uyah suatu hobi (mungkin pekerjaan) sebagai penipu. Sungguh keterlaluan.

Kita sering meng-gebyah uyah pejabat selalu mementingkan perutnya sendiri ketimbang rakyat. Pejabat pasti koruptor. PNS pasti Pengangguran Nyaman Sejahtera. Polantas pasti suka per”damai”an. Tukang pegawai pajak pasti suka berhohohehe dengan wajib pajak. Anggota DPR pasti suka pelesir dengan biaya negara.

Apakah hanya gara-gara nila setitik, rusaklah susu sekeranjang? Apakah gara-gara seorang dosen tertangkap mencabuli mahasiswinya lalu kita menyimpulkan bahwa semua dosen adalah cabul :D

Bagaimana dengan anda, seringkah anda meng-gebyah uyah ?

Gambar diambil dari sini!



Berpikir Merdeka © 2007-2009 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
27 queries. 0.210 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.