Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo adalah seorang warga negara Republik Indonesia


Archive for the ‘Edisi jalan-jalan’


Pesona kuliner rakyat jelata di Tuban…

Tuban, sebuah kota kecil di pinggiran Jawa Timur menyimpan berbagai warisan pusaka kuliner yang layak untuk dibanggakan. Sebagai panitia lomba, saya harus bisa memberikan suri tauladan yang baik bagi ummat. Suri tauladan tentang wisata kuliner rakyat jelata. Ya, rakyat jelata pun berhak untuk memanjakan lidahnya. Sekali waktu mereka pun harus berwisata kuliner. Tentu tidak restoran atau hotel mewah, cukup warung sederhana di ujung desa yang menjadi tujuannya. Justru disitulah kita bisa dapatkan banyak hal tentang hidup. Mulai rasan-rasan tentang melambungnya harga BBM hingga ketidakberesan penguasa lokal. Yang terbaru di Tuban, apalagi kalau bukan SPBU yang “diduga” milik suami Bupati Tuban yang seorang pengusaha ituh… menimbun solar. Hahahahaha….
Di warung ndeso itu pula kita akan melihat sosok-sosok pejuang tangguh yang sedang melepas penat, melepas kegelisahan hidup. Namun, di warung ndeso itu pulalah kita akan menyaksikan ketegaran dan semangat juang yang tinggi. Mereka lebih mulia daripada bupati para obligor dan legislator yang suka berpose mesum ituh…
Hari Minggu ini, saya dan beberapa rekan berkesempatan untuk bertandang pada sebuah warung ndeso. Warung yang terletak di Desa Nambangan Kecamatan Semanding ini menyajikan menu khas Tuban. Wong Tuban paling doyan yang hot-hot alias pedasss. Mbak Mendol pun mengakuinya. Menu apalagi yang disajikan warung ini? Belut, mentok, bekicot, kodok, puyuh, cingur sapi dan lele. Semua dijamin pedas. Lalu minumannya apa? Seperti biasa, toak dan aneka minuman halal dan haram lainnya. Ya blogger itu jujur! Tuban memang seperti ini. Toak merupakan sebuah sarana penjalin persatuan dan kesatuan bangsa.

Seperti biasa pula, kami pasti datang kesiangan, maklum pagi harinya kami mengikuti jalan sehat yang diadakan oleh sebuah operator telekomunikasi seluler. Kami datang selepas adzan dhuhur berkumandang. Hasilnya menu yang tersisa tinggal bekicot, kodok dan cingur sapi. Tak apalah, kami telah siap jiwa dan raga untuk mencicipinya. Hmmmm…

Bekicot diolah menjadi bekicot goreng basah pedas. Lagi-lagi saya harus memberikan nama versi saya sendiri. Paling tidak agar anda mampu membayangkan bagaimana wujud olahan bekicot dari warung ini. Wow.. porsinya benar-benar porsi kuli alias buanyuak buanget. Bagaimana rasanya? Hmmm…kenyal namun tak begitu liat dan yang paling heboh pedasnya terasa.
Cingur sapi alias mulut atau bibir sapi dimasak becek. Kuah santan kuning namun tidak terlalu kental diiringi oleh gigitan rasa pedas yang menggelora. Cingur sapi bukan lagi barang yang keras dan liat namun telah berubah menjadi sosok yang lembut dan empuk. Uhhh ahhhh ahhhh uhhhh pedasnya gak ketulungan.
Kodok juga diolah seperti halnya cingur sapi. Yang jelas yang diolah bukan kodok ternak namun kodok hasil penyuluhan. Penyuluhan berasal dari kata suluh alias obor. Bagi wong Tuban, kegiatan mencari kodok, bekicot atau welut di sawah disebut dengan nyuluh atau nyuloh. Mungkin di jaman dulu, para nenek dan kakek moyang melakukan kegiatan ini menggunakan suluh atau suloh alias obor. Penyuluhan kodok? Hahahaha…

Read More

Sate dan becek mentok sor sawo…

Becek dan sate mentok (Cairina moschata) merupakan sajian khas Tuban, selain aneka penganan hasil laut. Hari minggu lalu saya dan beberapa rekan berkesempatan untuk mencicipi masakan mentok di warung “Sor Sawo”. Sor sawo merupakan singkatan dari ngisor sawo alias dibawah pohon sawo. Ya, didepan warung ini terdapat sebuah pohon sawo yang lumayan besar, sehingga suasana teduh dan sejuk menambah kenyamanan bersantap di warung ini. Masyarakat Jawa sangat terbiasa untuk menyingkat beberapa kata yang dirasa panjang dan kurang praktis untuk diucapkan. Teko endi alias dari mana sering diucapkan menjadi kondi, gak ono (gak onok) menjadi genok.

Warung sor sawo terletak di Desa Karang, Kecamatan Semanding. Warung ini merupakan jujugan bagi para penggila mentok. Olahan mentok yang disajikan di warung sederhana ini berupa sate dan becek. Saya kesulitan untuk mencari padanan kata becek ini. Kalau dilihat dari kuahnya, saya bisa menebak kalau becek ini menggunakan santan namun tidak terlalu kental. Mirip-mirip gule lah…

Dari luar tidak yang menonjol dari bangunan warung ini. Sangat sederhana, tidak ubahnya warung atau rumah di daerah pedesaan Jawa. Warung ini masih berpegang teguh dengan model bangunan lama, dinding tidak ditembok dan juga lantai tetap tanah. Namun dibalik kesederhanaan bangunannya, warung ini menyimpan sebuah kemewahan rasa.

Sayang, kami terpaksa harus merelakan becek mentok-nya. Hebat, baru jam 11 saja, becek mentoknya sudah ludes. Akhirnya kuah becek saja yang dapat kami nikmati. Beruntung sate mentok masih tersedia. Hmmmm….

Untuk minuman, warung ini menyediakan aneka minuman halal dan haram. Jangan kaget, saya telah ulas pada tulisan yang ini dan yang itu. Minuman halal mulai dari yang tradisional sampai minuman kapitalis tersedia disini, pun demikian dengan minuman haramnya. Ahh.. sudahlah, saya tidak akan memperpanjang halal dan haram ini, inilah kearifan lokal.

Bagaimana dengan kami? Toak dalam wadah centhak menjadi teman menyantap sate mentok ini. Toak adalah minuman tradisional khas Tuban. Minuman ini berasal dari sadapan pohon siwalan alias bogor (Borassus flabellifer). Penyajiannya juga khas, dengan menggunakan batang bambu sebagai pengganti gelas. Rasanya pahit manis asem segar…

Sate mentok pun telah matang. Woww..ini sate beneran! Bukan sate lalat alias sate-satean ituh… Irisan dagingnya lumayan besar, sehingga dijamin anda bakal puas. Soal rasa, jangan ditanya! Jauh berbeda dengan ayam! Suer!…

Bumbu yang disajikan dengan sate mentok ini adalah bumbu kecap, bukan bumbu kacang. Kecap cap “Laron”, pusaka kuliner Tuban menjadikan rasanya semakin menggigit. Uenake cah…

Mau pakai nasi putih, lontong atau nasi jagung? Anda bebas memilihnya. Tapi jangan heran, nasi jagung menjadi teman favorit sate maupun becek mentok. Beruntung kami masih mendapatkan lima bungkus nasi jagung, stok penghabisan.

Nasi jagung, kuah becek, sate mentok berpadu dalam buaian semilir angin dibawah pohon sawo….

Tak lupa harumnya kretek berpadu dengan pahitnya toak Tuban.

Hmmmmmm….

Warung Pak Bagong yang ndeso ituh…halah…:D

Warung Pak Bagong merupakan jujugan saya apabila sambang ke Tuban. Warung yang terletak di Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding ini menyajikan masakan khas ndeso yang menggugah selera. Belut goreng basah pedas dan nasi jagung menjadi menu andalannya. Selain itu ada pula menu bagi wong abangan Tuban, kodok goreng basah pedas. Oalah.. nama menunya kok mbulet. Lha yang ngasih nama juga saya sendiri. Pak Bagong hanya mengenalkan menunya dengan nama “Welut” dan “Kodok” saja.

Walaupun di Tuban banyak mbah yai, tapi budaya abangan juga sangat kental disini. Jangan heran apabila minuman keras tradisional Tuban, toak dapat dengan mudah ditemui di setiap sudut perempatan. Menjalin persatuan dan kesatuan, istilahnya…hahahaha… Liputan tentang toak plus tambul iwak nyambik-nya akan saya sajikan nanti, sekali lagi kalau sempat dan ingat. :D

Kembali ke welut Pak Bagong, warung ini begitu terkenal, bahkan apabila datangs edikit terlambat saja sudah pasti akan kehabisan. Jangan coba-coba datang setelah jam 12 siang! Pasti akan gigit jari…

Jangan heran apabila warung sederhana ini akan dipenuhi oleh banyak pengunjung dari luar kota. Paling tidak dari plat nomor mobil yang berjajar rapi di depan warung, kita akan tahu darimana saja mereka berasal. Terlebih ketika hari libur, banyak warga Tuban yang Welut Pak Bagong…berstatus sebagai buruh migran akan sambang ke Tuban.

Belut digoreng basah dengan bumbu pedas. Lain dari yang sering kita jumpai yaitu lalapan belut yang cederung goreng kering. Rasa pedas begitu terasa dan merasuk hingga ke tulang-tulang belut. Nuansa ndeso semakin kental dengan nasi jagungnya. Benar-benar nikmat….

Read More

Shalawat dan semerbak hio dari Kota Tuban…

Tuban adalah sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa Timur dan berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Sebagaimana daerah pesisir Jawa lainnya, udara panas menusuk kulit menjadi sebuah keseharian di Tuban. Nama Tuban sempat menyeruak di seantero pelosok nusantara. Pilkada beberapa tahun lalu yang berakhir ricuh menjadikan Tuban begitu terkenal. Aksi anarkhis massa yang begitu beringas menjadi liputan utama hampir seluruh media massa, baik cetak maupun elektronik.

Masjid Agung Tuban…Ada dua ikon Tuban, yang sudah berkibar tenar sejak lama, yaitu Makam Sunan Bonang dan Kelenteng Kwan Sing Bio. Tentu saja dua “petilasan” ini mempunyai “pengunjung setia” yang berbeda. Makam Sunan Bonang menjadi tempat ziarah bagi umat Islam, khususnya “kaum Islam tradisional”, sedangkan Kwan Sing Bio begitu ramai dikunjungi saudara-saudara kita dari etnis Tionghoa.

Gerbang menuju makam…Makam Sunan Bonang terletak di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban. Lokasinya dekat dengan alun-alun Tuban, sehingga begitu mudah dijangkau oleh beragam sarana transportasi. Seperti halnya makam wali songo lainnya, makam Sunan Bonang begitu ramai dikunjungi para peziarah. Praktis hanya selama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri saja, makam ini sepi dari pengunjung luar kota.

Makam Sunan Bonang sendiri mempunyai misteri yang belum terpecahkan. Saat ini terdapat empat lokasi yang diduga atau diklaim sebagai makam Sunan Bonang.

Read More

Siapkan mata, lidah dan hati anda untuk menyimak liputan jeng-jeng Bumi Ronggolawe…

Ya, siapkan mata anda untuk melihat indahnya Masjid Agung Tuban, Kelenteng Kwan Sing Bio, Goa Akbar dan beberapa tempat erotis eksotik lainnya di Tuban.

Siapkan lidah anda untuk mencicipi rajungan, ulas-ulas welut, sambelan wader, sate menthok, becek menthok dan juga pahitnya toak Tuban.

Juga siapkan hati anda dengan getar dakwah Sunan Bonang.

Ya, hari senin, 31 Maret 2008 lalu saya telah menempuh perjalanan selama 4 jam dari Landungsari Malang menuju Tuban menggunakan Yamaha Mio Sporty lansiran tahun 2007 dan BPKB-nya sudah keluar alias sudah lunas serta tanpa masalah seperti yang dialami oleh orang ini.

Saya akan tinggal di Tuban untuk waktu yang agak lama, halah kok tinggal sih, pulang kampung maksudnya. Memang Tuban merupakan tempat kelahiran para blogger berkualitas, seperti saya, orang ini dan orang itu. Hahahahaha….

Tanggal 7 April saya akan menyempatkan menjenguk kamar kos saya yang ada di Bogor. Mudah-mudahan pula saya bisa memenuhi undangan mas mBambang untuk melakukan kunjungan kedaerahan di BHI.

Oh, ya. Saya ngapain sih di Tuban? Ya, demi menggapai sebuah mimpi! Itu saja jawabnya!

NB: Yang penting disiapkan dulu, lahir bathin. Masalah liputannya, saya gak janji, kalau sempat dan ingat saja ya! Heheheheh….



Berpikir Merdeka © 2007-2008 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress.
36 queries. 0.370 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.