Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!


Archive for the ‘Ah...entahlah’


Final Fight dan Street Fighter, nostalgia masa SD…

Street Fighter...Tak terasa sudah 12 tahun lalu saya mengenakan seragam putih merah. Kini memori saya serasa segar kembali untuk mengenang masa-masa itu. Masa dimana saya menjadi murid yang baik lagi berprestasi. Berprestasi? Ya, dari kelas satu sampai enam SD, saya selalu meraih peringkat satu. Hanya di kelas empat saja, saya meraih peringkat dua. Tapi bukan hanya prestasi yang saya ingat. Kenakalan saya di masa itu pun masih teringat. Bagaimana saya mencuri mangga di sekolah, bagaimana saya kecanduan game ding dong. Ah masa yang indah.

Final Fighter...Saya memang maniak game pada waktu itu. Bahkan hingga akhir SMP, hobi ngegame itu saya tekuni. Jangan harap saya bisa melakukannya di rumah, dengan nintendo atau macam-macam game jadul waktu itu. Saya selalu menjadi pengunjung setia persewaan game ding dong. Bermodalkan koin recehan seratus rupiah tentunya.

Namun entahlah, bakat terpendam itu kian lama kian terpendam. Kini saya tidak terlalu suka game, apalagi game-game berat. Paling hanya Zuma! Hebatnya lagi saya berhasil menyelesaikan game ini. Sebenarnya banyak juga koleksi game mini di laptop dan kompie, namun teramat jarang saya mainkan.

Minggu ini ketika saya sedang berada di Tuban, kota dimana saya lahir dan bertumbuhkembang. Saya kembali bernostalgia di masa SD, ketika saya bermain Final Fight dan Street Fighter II. Seorang teman seperjuangan bercerita tentang sebuah tempat game ding dong di Tuban yang masih menyediakan kedua game tersebut. Gila, saat ini pun masih seharga seratus rupiah. Seandainya dulu sudah ada KPPU, pasti pengelola game ding dong terkena sangsi karena melakukan kartel.

Read More

Makan enak dan “mewah” ala rakyat jelata…

Makan adalah kebutuhan pokok manusia, makanya anda tentu sering mendengar istilah sandang, pangan dan papan bukan. Bahkan beberapa model pengukuran kemiskinan juga menggunakan “pendekatan makanan” sebagai salah satu indikator.  Sebut saja Sajogyo yang menyatakan apabila seseorang yang tinggal di daerah pedesaan mengkonsumsi ekuivalen beras kurang dari 240 kg per orang per tahun, maka yang bersangkutan digolongkan sangat miskin. Sedangkan untuk daerah perkotaan ditentukan sebesar ekuivalen 360 kg beras per orang per tahun.

Kedudukan warga negara pun sama di dalam hukum dan pemerintahan. Bahkan hakikat manusia di hadapan Tuhan adalah sama kedudukannya, hanya amal ibadah semata yang menjadi pembeda. Sehingga rakyat kaya atau miskin, bangsawan atau jelata, mempunyai hak dan kesempatan yang sama di segala bidang kehidupan. Bagaimana dengan wisata kuliner? Ya, rakyat jelata juga mempunyai kesempatan yang sama dalam berwisata kuliner. Mereka tetap dapat menikmati kemewahan rasa dan suasana dalam bersantap. Bukan restoran mewah, bukan kafe mahal, bukan hotel berbintang. Mungkin warung di ujung desa, mungkin warung di pinggir sawah, mungkin tenda biru di tengah pinggir jalan. Disanalah saksi kehidupan. Saksi kerja keras, keluh kesah, caci maki dan semua tentang kehidupan. Oh, indahnya!

Rasa rindu kampung halaman bagi para jelata perantau dapat diobati dengan menikmati kuliner khas daerah asalnya. Jangan heran apabila anda akan menjumpai aneka makanan khas dari berbagai daerah di kota-kota besar. Tidak hanya di kota besar, nun jauh di timur sana, ketika kerinduan akan kampung halaman memuncak, jajanan khas daerah mampu mengobati rasa rindu itu. Anda tidak percaya? Cobalah bertanya kepada tukang pajek nan dermawan ini!

Read More

Kapan lagi dapat duwit lima juta…

Sejak BBM resmi disesuaikan harganya oleh SBY dan kawan-kawan, geliat kenaikan harga barang kebutuhan pokok semakin menggelora. Bahkan harga elpiji yang konon merupakan “bahan bakar alternatif” juga turut merangsek naik. Lha, minyak tanah naik, elpiji naik… maksudnya?

Masih beruntung bagi para PNS, TNI dan Polri. Kini satu tahun dalam buku pintar mereka bukan 12 bulan lagi. Satu tahun bagi para abdi negara dan abdi masyarakat (HALAHHH BANGET!!!) ini sama dengan 13 bulan. Ya, saya dan istri yang kebetulan sebagai abdi negara dan abdi masyarakat baru saja mendapatkan gaji 13. Bersyukur… Alhamduliilah…

Tapi ingat juga! Saya bukan hanya abdi negara dan abdi masyarakat, saya juga seorang blogger. Blogger yang (juga) mencoba mengais sedikit rejeki dari dunia maya ini. Maka berbagai cara telah saya lakukan. Ups… sebenarnya sih baru satu cara, masang iklan. Hasilnya? Dari dua blog yang saya daftarkan pada program SKDTMSLPMWOL (Sak Klik Dibayar Tapi Mung Sithik, Lha Piye Meneh Wong Ora Ono Liyane) sampai detik ini baru menghasilkan 16.350 USD rupiah saja.

Lha apa tujuan saya ngeblog itu untuk cari uang? Bukan saudara! Sekali lagi bukan. Saya ngeblog hanyalah untuk mengisi waktu luang saya yang banyak ini. Hehehehe… Lalu kenapa kok harus masang iklan segala. Ahhh… cuma sebagai kosmetik yang mempercantik blog ini saja. Dan juga ketika mahasiswi (I bukan A) saya membuka blog ini akan berujar : ” Weeikkk… blog-nya Pak Dosen Slamet, banyak iklannya lho!”

Milik negara!!!

Ikut lomba blog? Ya, itu salah satu cara mengais rejeki berupa duwit dan (mungkin) kepopuleran. Malah saya bikin lomba blog. Mau ikut lomba blog yang diselenggarakan oleh Kijang juga gak mungkin. Masak perjalanan atas biaya negara dengan kijang plat merah kok dibanggakan dan diikutkan lomba blog. Masih banyak lomba blog lainnya,

Read More

Ternyata kekerasan itu (masih) sangat dibutuhkan…

Hingar bingar kompetisi sepak bola piala eropa ternyata masih mampu digoyahkan oleh aneka berita kekerasan. Juni ini diawali dengan tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan sebagai pembela Islam. Entah sejak kapan kelompok ini diangkat sebagai pembela Islam? Belum lama berselang aksi FPI menjadi bahan pergunjingan masyarakat, giliran daerah peisisr utara Jawa dikejutkan oleh kehadiran geng cewek bau kencur. Ya masih bau kencur, soalnya belum pernah pakai sabun sirih sih!

Masih di bulan Juni, tepatnya dua hari lalu. Aksi kekerasan yang dilakukan oleh para calon sarjana menyeruak diantara sorak sorai piala Eropa. Bukan main tangkasnya para mahasiswa ini memainkan api, batu, bambu. Bahkan sebuah mobil rakyat pun dibakarnya hingga matang. Entah apa yang ada di benak mereka? Padahal mereka selalu berkoar anti kekerasan, mereka mengecam aksi kekerasan (oknum) aparat, mereka mengecam aksi kawan-kawan Munarman, tapi…

Kekerasan juga telah melembaga dan membudaya di dunia pendidikan. Kita semua masih ingat tindak kekerasan calon abdi negara dan abdi masyarakat yang sekolah gratisan tanpa membayar di STPDN. Beberapa waktu lalu beredar video porno amatir berisi kekerasan di STIP. Bahkan kekerasan diduga terjadi pula di “kampus Islami” yang ada di Bogor, IPB. Seorang blogger menjadi korban kekerasan pula gara-gara tulisannya mengungkap aksi kekerasan dalam kampusnya.

Pilkada juga seringkali diwarnai dengan kekerasan. Paling baru, kasus pemilihan gubernur Maluku Utara. Aksi kekerasan antar pendukung calon gubernur sudah menjadi tontonan rutin di televisi, bahkan sepasang blogger menjadi saksi mata berbagai aksi kekerasan di sana. Lucu… Ternyata banyak pejabat yang bodoh. Hanya berhitung saja mereka tak mampu!

Kekerasan selalu ada dimana-mana. Pertanyaannya adalah kenapa harus ada kekerasan? Seorang pakar telematika memberikan jawaban yang mengejutkan.

Kekerasan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Tanpa kekerasan tidak mungkin masyarakat bisa mencapai tujuannya!

Siapakah pakar metadata foto porno tersebut?

Read More

Telkomsel Flash unlimited telah datang…

Selama ini saya selalu melakukan ritual online menggunakan fasilitas kantor, kampus, warnet dan terkadang menggunakan layanan telkomnet instant. Beberapa waktu lalu saya terprovokasi oleh si agen themes tentang telkomselflash. Berhubung HP 3,5G HSDPA yang baru ituh sudah ada di tangan maka dengan senang hati namun berat di kantong saya pun ikutan ngeflash…

Kenapa saya belum berlangganan internet sendiri di rumah? Karena saya masih harus sering mondar-mandir. Jadi tanggung kalau harus berlangganan internet semacam speedy itu. Isu mengenai turunnya tarif internet sudah sering kita dengar. Bahkan ada guyonan, ketika tarif internet turun kelak, google sudah diblok oleh pakar pemerintah. Heheheheh…

Kemarin, ketika saya online dengan makelar komputer ini, saya mendapatkan informasi mengenai paket telkomselflash unlimited. Langsung saja saya meluncur ke TKP. Benar! Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-13, telkomsel meluncurkan paket telkomselflash unlimited. Paket ini hanya bisa dinikamti bagi mereka pelanggan kartu halo alias pasca bayarnya telkomsel. Semua varian kartu halo dapat menikmati layanan baru ini, kecuali halo hybrid. Terdapat dua paket yang disediakan, yaitu :

1. Paket unlimited tanpa modem.

No.

Package

Monthly Fee

Speed

1

Basic

Rp125,000

up to 256 kbps

2

Advance

Rp225,000

up to 512 kbps

3

Pro

Rp400,000

up to 3,6 Mbps

Paket ini tidak menyertakan modem sebagai bonus langganan dan tanpa harus kontrak langganan. Jadi anda bisa berlangganan sebulan, dua bulan, tiga bulan dan berbulan-bulan. Kecepatan maksimal berlaku sampai batas pemakaian internet secara wajar sebesar 3GB. Setelah 3GB, kecepatan akses akan diturunkan menjadi up to 64 kbps (untuk paket Basic dan Advance) dan up to 128 kbps (untuk paket Pro).

2. Paket unlimited gratis modem.

Paket ini memberikan menyertakan bonus modem, namun pelanggan harus terikat kontrak selama satu tahun. Pelanggan yang berhenti kontrak sebelum satu tahun akan dikenakan denda nan maha mahal. Kecepatan maksimal berlaku sampai batas pemakaian internet secara wajar sebesar 3GB. Setelah 3GB, kecepatan akses akan diturunkan menjadi up to 64 kbps (untuk paket Basic dan Advance) dan up to 128 kbps (untuk paket Pro).

No.

Package

Monthly Fee

Seed

1

Basic

Rp250,000

up to 256 kbps

2

Advance

Rp350,000

up to 512 kbps

3

Pro

Rp525,000

up to 3,6 Mbps

Anda berminat? Silahkan download formulir berlangganan satu tahun untuk paket telkomselflash gratis modem disini!

HOT NEWS

Akhirnya saya pun memutuskan untuk menggunakan Telkomsel Flash Unlimited ini. Saya melakukan pasang baru ke Grapari Telkomsel Malang yang terletak di Jalan Bandung. Saya memutuskan untuk melakukan pasang baru daripada migrasi dari simpati ke kartu halo karena beberapa pertimbangan, yaitu :

1. Saya tidak mau terganggu ketika sedang menggunakan layanan Telkomsel Flash oleh SMS atau telepon, karena sampai saat ini saya masih menggunakan SE K660i sebagai modem.

2. Saya merasa tarif kartu halo untuk keperluan SMS dan telepon lebih mahal daripada simpati.

3. Kalau saya berhenti berlangganan sewaktu-waktu, saya tetap bisa tenang karena nomor HP saya masih bisa digunakan, kan masih simpati.

Oh, ya saya mengambil paket Telkomsel Flash Unlimited tanpa modem basic. Saya sarankan bagi anda yang ingin menggunakan modem, lebih baik anda beli modem sendiri baik melalui Grapari atau toko lain, mengapa? Kita semua harus waspada oleh gebrakan pemasaran ala operator seluler. Anda masih ingat atau mungkin masih merasakan dampak perang tarif SMS dan telepon kan? Jadi sewaktu-waktu Telkomsel bikin ulah, langsung saja berhenti berlangganan tanpa harus terkena penalti kontrak. Betul tidak?

Puaskah saya dengan Telkomsel Flash ini? Puas. Jawaban ini berlaku sampai hari ini, semoga saja sampai ke depan. Kebetulan daerah saya masih terjangkau 3G, namun ketika saya mencoba berpindah daerah yang hanya terjangkau GPRS saya merasakan perbedaan yang cukup drastis. Namun bagi anda yang sering mobile, layanan Telkomsel Flash Unlimited ini layak untuk dipertimbangkan. Apalagi cakupan area 3G maupun HSDPA sudah banyak menjangkau beberapa kota besar.

Berikut peta area jaringan HSDPA dan 3G untuk beberapa kota di Jawa Timur. Warna hijau menandakan daerah tersebut tersedia jaringan HSDPA, sedangkan warna kuning tua menandakan daerah tersebut terlayani jaringan 3G. Lalu warna putih apa artinya? Yah sementara masih GPRS saja. Sabar aja dulu deh!

Malang

BTS yang telah dilengkapi dengan HSDPA di Malang terletak di Plasa Dieng, Matos, Universitas Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta, Alun-alun dan Plasa Telkom Blimbing. Radius coverage dari tiap BTS kurang lebih satu kilometer. Bersyukurlah anda yang tinggal di sekitar daerah tersebut.

Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2008 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress.
27 queries. 0.404 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.