Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo adalah seorang warga negara Republik Indonesia


Archive for the ‘Ah...entahlah’


Ini lebih baik daripada membakar kantor PLN…

Umpatan terbuka untuk PLN

Gambar diatas adalah asli, hanya sedikit perubahan dengan menggunakan aplikasi pengolah gambar. Perubahan yang dilakukan hanyalah untuk mempersopan dan memperkecil ukuran gambar serta membubuhkan alamat blog ini saja. Gambar diambil dari sebuah pemondokan mahasiswa di daerah Cibanteng, Bogor.

Posting ini menggunakan sisa-sisa energi dari baterai laptop. Harap Harus maklum, saat ini saya jarang melakukan ritual “blogwalking secara tradisional” demi suksesnya hemat energi kebangetan ala PLN. Jangan khawatir, saya masih bisa membaca tulisan anda semua dari RSS reader. Terimakasih.

Lintas Beritakan tulisan ini!

Mafia selangkangan dari gedung DPR…

Lagi! Mafia selangkangan dari gedung DPR di Senayan terbongkar. Ternyata nama yang terdengar alim, partai yang terkesan alim tak ubahnya hanya jubah penutup semata.

Rekaman telepon seorang [oknum] anggota DPR dari sebuah partai berlabel agama terkuak. Dia ternyata gemar berganti-ganti selangkangan. Berbagai model selangkangan telah dinikmatinya. Satu lagi! Dia suka selangkangan gratisan. Selangkangan pemberian rekan “bisnis”nya. Dia juga mempunyai selera yang tinggi. Dia suka pilih-pilih selangkangan. Tidak asal selangkangan. Siapakah dia?

Kesimpulan :

1. [Mungkin] ada [banyak] mafia selangkangan di DPR.

2. Jangan mudah percaya dengan orang yang sok alim. Lebih baik percaya dengan peminum toak dan penikmat JAV namun jujur, daripada percaya dengan orang yang sok alim tapi penikmat selangkangan.

3. Jagalah selangkangan anda!

Gambar diambil dari sini!

Final Fight dan Street Fighter, nostalgia masa SD…

Street Fighter...Tak terasa sudah 12 tahun lalu saya mengenakan seragam putih merah. Kini memori saya serasa segar kembali untuk mengenang masa-masa itu. Masa dimana saya menjadi murid yang baik lagi berprestasi. Berprestasi? Ya, dari kelas satu sampai enam SD, saya selalu meraih peringkat satu. Hanya di kelas empat saja, saya meraih peringkat dua. Tapi bukan hanya prestasi yang saya ingat. Kenakalan saya di masa itu pun masih teringat. Bagaimana saya mencuri mangga di sekolah, bagaimana saya kecanduan game ding dong. Ah masa yang indah.

Final Fighter...Saya memang maniak game pada waktu itu. Bahkan hingga akhir SMP, hobi ngegame itu saya tekuni. Jangan harap saya bisa melakukannya di rumah, dengan nintendo atau macam-macam game jadul waktu itu. Saya selalu menjadi pengunjung setia persewaan game ding dong. Bermodalkan koin recehan seratus rupiah tentunya.

Namun entahlah, bakat terpendam itu kian lama kian terpendam. Kini saya tidak terlalu suka game, apalagi game-game berat. Paling hanya Zuma! Hebatnya lagi saya berhasil menyelesaikan game ini. Sebenarnya banyak juga koleksi game mini di laptop dan kompie, namun teramat jarang saya mainkan.

Minggu ini ketika saya sedang berada di Tuban, kota dimana saya lahir dan bertumbuhkembang. Saya kembali bernostalgia di masa SD, ketika saya bermain Final Fight dan Street Fighter II. Seorang teman seperjuangan bercerita tentang sebuah tempat game ding dong di Tuban yang masih menyediakan kedua game tersebut. Gila, saat ini pun masih seharga seratus rupiah. Seandainya dulu sudah ada KPPU, pasti pengelola game ding dong terkena sangsi karena melakukan kartel.

Read More

Makan enak dan “mewah” ala rakyat jelata…

Makan adalah kebutuhan pokok manusia, makanya anda tentu sering mendengar istilah sandang, pangan dan papan bukan. Bahkan beberapa model pengukuran kemiskinan juga menggunakan “pendekatan makanan” sebagai salah satu indikator.  Sebut saja Sajogyo yang menyatakan apabila seseorang yang tinggal di daerah pedesaan mengkonsumsi ekuivalen beras kurang dari 240 kg per orang per tahun, maka yang bersangkutan digolongkan sangat miskin. Sedangkan untuk daerah perkotaan ditentukan sebesar ekuivalen 360 kg beras per orang per tahun.

Kedudukan warga negara pun sama di dalam hukum dan pemerintahan. Bahkan hakikat manusia di hadapan Tuhan adalah sama kedudukannya, hanya amal ibadah semata yang menjadi pembeda. Sehingga rakyat kaya atau miskin, bangsawan atau jelata, mempunyai hak dan kesempatan yang sama di segala bidang kehidupan. Bagaimana dengan wisata kuliner? Ya, rakyat jelata juga mempunyai kesempatan yang sama dalam berwisata kuliner. Mereka tetap dapat menikmati kemewahan rasa dan suasana dalam bersantap. Bukan restoran mewah, bukan kafe mahal, bukan hotel berbintang. Mungkin warung di ujung desa, mungkin warung di pinggir sawah, mungkin tenda biru di tengah pinggir jalan. Disanalah saksi kehidupan. Saksi kerja keras, keluh kesah, caci maki dan semua tentang kehidupan. Oh, indahnya!

Rasa rindu kampung halaman bagi para jelata perantau dapat diobati dengan menikmati kuliner khas daerah asalnya. Jangan heran apabila anda akan menjumpai aneka makanan khas dari berbagai daerah di kota-kota besar. Tidak hanya di kota besar, nun jauh di timur sana, ketika kerinduan akan kampung halaman memuncak, jajanan khas daerah mampu mengobati rasa rindu itu. Anda tidak percaya? Cobalah bertanya kepada tukang pajek nan dermawan ini!

Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2008 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress.
28 queries. 0.314 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.