Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!


Author Detail

Slamet Widodo

Web Page: http://slametwidodo.com

Registered Since: 2008-01-23 19:35:13

Posts by agriwidodo:

    Ketika mertego dan gendeng terjepit rimba Ja(ncu)karta…

    Walau tinggal di Bogor, saya termasuk jarang pergi ke Jakarta. Paling banter hanya menjelajah rel dari stasiun Bogor hingga Gambir, untuk kemudian berlanjut dengan Gajayana menuju Malang. Terkadang pula saya menyusuri tol dalam kota dari Bogor hingga Cengkareng, kemudian berlanjut mengangkasa dengan tiket murah. Jadi selama dua tahun di Bogor, saya gak mudheng blas Jakarta kecuali Mangga Besar Gambir. Lha di Bogor saja saya jarang jalan-jalan.

    Sebuah kabar kunam a.k.a burung berhembus dari ranah blog nusantara, sang kolonel hendak membuka sebuah usaha warung angkringan khas Djogja yang memadukan nuansa ndeso dan canggihnya dunia IT, Warung Wedang Wifi. Peresmian angkringan ini dibarengkan dengan istighotsah kubro sekaligus muktamar dalam rangka hari blogger nasional. Sebagai seorang blogger, saya terpanggil untuk meramaikan acara tersebut. Maka jauh-jauh hari saya sudah mencari informasi tentang tips dan trik mencapai lokasi perhelatan. Beruntung, saya mempunyai santri yang asli Jakarta namun bukan anggota FBR. Bersama dua santri tersebut (ah santri satunya belum punya blog; persis kayak pakar ituh!), saya harus meliuk-liuk di padatnya jalan dari Bogor hingga Jakarta. Sayang tidak melewati Parung! :D

    Akhirnya sampai juga kami di rumah blogger Indonesia sekaligus kantor dagdigdug dan wetiga berada. Tumpeng sudah terpotong. Dari jauh saya lihat sang manusia kotak kursi PB 2008. Beberapa saat kemudian saya tertegun ketika melihat sesuatu yang menyilaukan mata. Wah benar, bukan hoax! Paman Tyo adalah dewan pembina Perbakin! Paman langsung menyambut saya dan dengan takzimnya mencium menyalami tangan saya. Sempat pula saya didaulat untuk menyampaikan tausiah beberapa detik :D

    Jahe susu hangat atau jahe hangat susu atau susu jahe hangat menyambut kedatangan kami. Tak tanggung-tanggung minuman itu diracik langsung oleh sang kolonel. Entah berapa banyak bumbu rahasia didalamnya. Saya pun berkeliling untuk menyapa umat yang ada di situ, banyak sekali!

    Malam semakin dingin (ngawur! Jakarta itu panas!), saya pun bergabung dengan umat BHI. Seorang  tokoh BHI dengan wajah mesumnya datang. Asap rokok dan derai tawa bersatu padu. Ndilalah tanpa diduga tanpa disangka, meluncur sebuah kata dari bibir sang tokoh, “mertego“!

    Mertego, 15 tahun saya tidak mendengar kata itu! Di kampung halaman saya saja sudah tidak ada lagi orang yang mengucap kata itu. Justru di JA(NCU)KARTA yang katanya kota metropolis, hedonis, kapitalis itu saya mendengar kata itu diucap dengan lafal dan tajwid yang sangat fasih. Ternyata ramalan Anang sang legenda dari timur itu tidak terbukti!!! Bahasa Jawa ndeso ternyata masih hidup, bahkan di kota metropolitan.

    Sebuah kata pun muncul lagi, gendeng (gen = gendang; deng = dendeng). Lagi-lagi kata ini begitu menusuk di telinga. Melemparkan saya pada masa kecil saya di ndeso sana. Ternyata masih ada orang yang menggunakan kata ini. :D

    Hmm… saya baru sadar bahwa Jakarta adalah ndeso yang sok kutho! Jakarta bukan big city tapi big village.

    Jadi mari kita ndesokan JAKARTA!

    NB : Yang kemarin sudah ketemu sama saya silahkan masang link sendiri dibawah ya!   :D

    NB lagi : Seperti biasa ketika blogger  berkumpul, dua ikon blogger Jawa Timur selalu jadi korban rasan-rasan. Siapa lagi kalau bukan Anang dan Ale. Banyak yang tanya Ale lagi sibuk apa? Skripsi, jawab saya! Bener kan Le. Bukankah judul skripsimu “Optimalisasi Mesin Diesel dengan Menggunakan Photoshop” dibawah bimbingan pakar dari Djogja! :D

    NB lagi ah : Sah, kowe yo ditakokke wong-wong!

    Meneladani Nabi…

    Sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh kyai bernama Kyai Gemblung tengah mengadakan pengajian rutin dengan santri-santrinya.

    Kyai Gemblung : “Santri-santriku semua… Kalian harus meneladani Nabi kita. Semua tindak-tanduknya harus kita teladani! Ya kayak Kyai ini yang selalu pakai baju gamis.”

    Santri Mrosal : “Lho, kyai. Sampean ojo sakenak udhele sampean yen nyonthong!”

    Kyai Gemblung : “Lha, ini contoh gak bener! Mbok sama kyai yang sopan!”

    Santri Mrosal : “Lha kyai sendiri gak pernah meneladani Nabi. Nabi dulu kalau bepergian naik onta kok kyai malah dengan pongah naik New CRV pemberian calon gubernur itu!”

    Santri Mbeling : “Ada lagi kyai. Nabi dulu juga gak pernah bikin partai. Lha sampean kok malah bentrok sama saudara sendiri gara-gara par tai itu!”

    Santri Cerdas : ” Nabi dulu gak pernah pakai PDA, kok sampean malah punya PDA dan HP mahal hasil pemberian anggota DPR!”

    Santri nDugal : “Nabi dulu gak pernah membangun rumah mewah berkedok pesantren!”

    Santri Cerewet : “Sudahlah kyai! Saya sudah muak dengan sampean!”

    Akhirnya santri-santri itu meninggalkan Kyai Gemblung. Kyai Gemblung hanya bisa merenung dan merenung. Seluruh santri pun sepakat untuk mencari kyai yang lain. Memang saat ini susah menemukan kyai yang sebenarnya. Banyak kyai yang hanya jadi foto model iklan ritual mbalon (maju bakal calon) saja!

    Semoga mereka bisa bertemu dengan Kyai Slamet. Yah, paling banter mereka akan diajak ngombe toak bareng tukang becak!

    Agama dan diskriminasi…

    Sebuah pabrik plat merah yang sedang merekrut pekerja baru memasang pengumuman dengan aneka persyaratan. Persyaratan yang paling atas sungguh lucu, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Entah bagaimana cara mengukur atau sekedar membuktikan ketakwaan ini. Apa hanya sekedar melongok isian agama di KTP? Atau bahkan hingga tes membaca kitab suci hingga hapalan aneka dalil yang sering diperdebatkan itu. Entahlah? Yang jelas saya dulu ketika tes di sebuah pabrik plat merah, tidak pernah disuruh mengaji, tidak pernah ditanya berapa kali saya sholat dalam sehari semalam.

    Seorang rekan dari sebuah pabrik plat merah bercerita tentang pekerja barunya yang kurang cekatan. Sebenarnya ada kandidat lain yang kualitasnya teramat sangat mumpuni, namun terpaksa dihadang di tengah jalan. Agama sang kandidat, masalahnya. Sang kandidat beragama X, sedangkan pabrik tersebut mayoritas beragama Y.

    Saya hanya bisa tertegun. Lha kalau begitu, kenapa di persyaratan ditulis BERTAKWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA. Apa tidak lebih baik ditulis BERAGAMA Y saja, sehingga orang selain beragama Y tidak perlu susah-susah membuang waktu, biaya dan tenaga untuk mengikuti seleksi yang berbau mesum diskriminatif itu.

    Di pabrik lain yang bukan plat merah, cerita tentang diskriminasi juga sering saya dengar. Bukan saja masalah agama, etnis juga turut dijadikan bahan diskriminasi. Bahkan di negeri yang katanya demokratis, menjunjung tinggi HAM (namun tidak menjunjung tinggi KAM) pun diskriminasi sering kita dengar. Jadi wajarlah kalau hidup kita akan penuh dengan isu diskriminasi.

    Bagaimana dengan anda? Selamat hari Senin Wage, sudahkah anda menjadi korban diskriminasi hari ini? Atau malahan anda telah memberlakukan orang lain secara diskrimiatif? Berbagilah!

    Fatwa haram rokok…

    Sejak kemarin malam saya agak terperanjat ketika membaca detik. Sebuah berita baru dan saya prediksi bakal mengguncangkan Indonesia. Hayoo apa coba? Rekaman telepon, ah sudah lewat. Supriyadi muncul lagi, ah saya gak mau membahas itu. Lalu apa? itu lho soal rokok-merokok.

    Kak Seto, ketua KPAI meminta kepada MUI untuk memberikan fatwa haram untuk rokok dan merokok. Alasan KPAI adalah untuk melindungi anak-anak dari dampak buruk rokok. Banyak data yang menyebutkan bahwa jumlah perokok anak [atau anak perokok ya?] semakin menunjukkan peningkatan. Salah satu upaya untuk mencegah hal itu adalah dengan memfatwakan haram terhadap rokok dan tentu saja aktivitas merokok sendiri.

    Weh la da lah… MUI? Rokok? Masak sih fatwa MUI masih bisa diandalkan. Lha fatwa yang lain saja hanya dianggap angin lalu kok oleh umatnya. Sebelum membahas lebih jauh tentang rokok, saya mencoba membahas fatwa-fatwa MUI terlebih dahulu. Saya terkadang heran, kenapa terlalu sering MUI mengeluarkan fatwa atau dipaksa mengeluarkan fatwa hal-hal yang “aneh-aneh”, mulai sepele hingga sepolo. Coba anda pikirkan atau bayangkan saja deh….

    1. Fatwa haram mencuri listrik.

    2. Fatwa haram membajak… Coba yang gemar nonton VCD atau DVD, kalau beruntung pasti anda pernah menjumpai tulisan ini.

    3. Fatwa haram golput.

    Read More

    Surat terbuka untuk Tuhan, dari maling ayam…

    Kepada : Yth. Tuhan Yang Maha Esa lagi Berkuasa

    di mana saja berada.

    Tuhan, aku adalah hambaMu. Hamba yang sangat hina lagi tercela. Aku tak pernah melakukan perintahMu, bahkan terlalu sering aku melanggar laranganMu. Terlalu sering aku melakukan kemaksiatan, Tuhan. Sudah berpuluh kali aku mencopet, mencuri hingga mengadu nasib dengan dadu. Aku sungguh hina, Tuhan.

    Tuhan… Tapi aku juga hambaMu bukan? Berarti aku berhak untuk mendapatkan keadilanMu juga. Berulangkali aku dianiaya oleh hambaMu yang lain. Sering aku menerima pukulan, tendangan bahkan sundutan rokok yang panas. Sering aku disorot oleh kamera wartawan. Entah mengapa, wartawan itu begitu bernafsu melihat penderitaanku. Ketika aku dihakimi massa, para wartawan dengan tersenyum bengis puas mengabadikan gambarku. Darah dan ratapan ampun seolah menjadi penyedap dan hiburan bagi hambaMu yang lainnya. Tidak adil, Tuhan!

    Padahal aku mencuri, mencopet bukan untuk menumpuk-numpuk kekayaan. Aku hanya sekedar ingin bertahan hidup dan menghidupi keluargaku. Aku hanya ingin anakku tetap makan, tetap sekolah dan kelak tak akan mengalami nasib sepertiku. Aku melakukan kejahatan ini bukan untuk bermewah-mewah, bukan untuk tinggal di Singapura atau membeli pulau di lautan sana. Bukan! Sekali lagi bukan! Aku yakin Kau tidak buta dan tuli seperti banyak hambaMu.

    Memang, aku tidak pernah singgah di gedung bundar seperti hambaMu yang lain. Aku tidak pernah bertelepon mesra hingga basah dengan jaksa Remas Sahya Sahman. Jangankan meneleponnya, kenal pun aku tidak. Aku juga tidak pernah berfoto dengan Jenderal Polisi Sukanto. Aku tak mampu membayar Ocret Kalinggis, Eliza Sarip dan pengacara mahal lainnya. Aku tidak kenal dengan Al Aming, Buliyan, Yahya Jaini dan para anggota DPR yang terhormat itu, Tuhan.

    Tapi aku tetap hambaMu, bukan? Lalu kenapa aku selalu diperlakukan tidak adil. Aku selalu disiksa, kepalaku digunduli, punggungku disundut rokok, wajahku lebam karena pukulan. Kenapa, Tuhan? Jawab Tuhan… Please….

    Read More




Berpikir Merdeka © 2007-2008 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress.
29 queries. 0.355 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.