Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!


Author Detail

Slamet Widodo

Web Page: http://

Registered Since: 2008-01-17 03:21:01

Description: Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!

Posts by slamet:

    Petani, pedagang pasar dan ketua ranting partai…

    Di sebuah warung kopi, berkumpul beberapa warga kampung Gunung Kembar. Seperti biasa mereka berdiskusi aneka topik tentang kehidupan. Topik politik menjadi sebuah topik yang paling digemari oleh aktivis Gunung Kembar ini. Kebetulan malam ini ada si Paijo, petani gurem yang tetap istiqomah di jalur pekerjaannya. Kliwon, pedagang pasar dan Kardi, ketua ranting sebuah partai dengan lambang palu arit hewan memamah biak.

    Paijo : Diamput, wong cilik kayak saya ini hanya dicatut saja oleh penggede-penggede itu!

    Kardi : Apa sih Jo, kok kamu misuh-misuh. Mbok sing sareh!

    Paijo : Itu lho, petani dicatut di iklannya seorang yang hobi mbalon.

    Kardi : Mbalon? Hahahahaha… masak hobi mbalon kok diiklankan di tivi?

    Paijo : Diamput… dasar otak ngeres kamu Di. Mbalon itu maju bakal calon, bukan mbalon di nDoli.

    Kardi : Ooo… lha emang kenapa Jo? Catut mencatut itu hal yang biasa kok. Ingat itu kasus suster apung.

    Paijo : Lha gimana… pupuk juga tetap jadi rebutan, pupuk jadi barang langka. Lha kok malah petani dibawa-bawa namanya…

    Kliwon : Lha saya juga dicatut kok. Padahal banyak pasar DIBAKAR untuk dijadikan mall. Pedagang kecil kayak saya juga tetep serba sulit.

    Kardi : Asyu… Aku juga dikhianati sama partaiku. Aku yang jungkir balik cari suara lha kok posisiku diganti sama artis bokep dangdut. Nasib…

    Kardi, Paijo, Kliwon : ***kompak misuh bersamaan***

    Perbedaan adalah rahmat…

    Maaf, agak panjang. Edisi Khutbah Jum’at ala Kyai Slamet nih…

    Seperti tahun-tahun sebelumnya, penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal di negara kita pasti menimbulkan sedikit keguncangan. Perbedaan dalam penetapan tanggal nan penting bagi umat Islam ini seolah sudah menjadi pola yang akan terus berulang. Terkadang dengan sedikit bumbu yang ditambahkan oleh media massa, seolah perbedaan ini begitu dahsyat. Padahal perbedaan ini seharusnya dapat disikapi sebagai suatu hal yang biasa dan wajar dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Bukan sesuatu yang perlu dirisaukan. Terlepas dari masih pro kontranya status hadits Ikhtilaafu ummatii rahmah, saya masih berkeyakinan bahwa perbedaan memang sebuah rahmat. Namun bukan berarti sebaliknya, persatuan atau persamaan adalah adzab. Bukan, bukan sama sekali!

    Perbedaan akan membawa kita untuk saling menghargai. Perbedaan pendapat menjadi suatu hal yang lumrah ketika tiap-tiap manusia berpikir. Bukankah kita diperintahkan untuk selalu berpikir. Sesuatu yang masih “samar” dalam Qur’an dan hadits merupakan sebuah perintah rahasia dari Allah kepada hambaNya untuk senantiasa memutar otak.

    Ide penyatuan kalender Islam masih menjadi suatu cita-cita nan mustahil diwujudkan. Kenapa? Masing-masing pendapat, baik hisab maupun rukyat mempunyai dasar masing-masing. Pengertian rukyat pun masih dapat diperdebatkan. Apakah mata telanjang atau dengan alat bantu? Batas “mungkin terlihat” juga masih dapat diperdebatkan. Wajar! Di jaman Nabi Muhammad, belum ada teleskop yang berkemampuan prima. Dan yang utama, belum ada google dan kawan-kawannya!

    Saya pribadi tetap memegang teguh “perbedaan adalah rahmat” dalam kehidupan beragama keluarga saya. Saya bukan NU atau Muhammadiyah, bukan pula HTI atau Triple C (Club Celana Cingkrang)! Saya muslim biasa!

    Sedikit gambaran tentang indahnya perbedaan dalam keluarga saya. Saya terbiasa tidak membaca doa qunut  (do’a yang dibaca selepas bangkit dari rukuk pada rakaat terakhir) ketika sholat shubuh, sedangkan istri saya terbiasa melafalkannya. Lalu sebagai imam sholat, apakah saya dengan serta merta menghilangkan kesempatan istri saya untuk membaca qunut? Tidak. Selalu ada jalan menuju Surga. Selepas i’tidal (bangkit dari rukuk) terakhir, saya memberi waktu kepada istri untuk melafalkan doa qunut. Lalu saya ngapain? Ya diam saja!

    Read More

    Sedekah cara cerdas…

    Menyambut datangnya bulan Ramadhan 1429 H, ada kategori baru dalam tulisan saya. Yah, kategori baru tersebut adalah “sok kyai”. Pada kategori ini saya mencoba untuk menjadi seorang kyai. Siapa tahu kelak ada yang meminang saya menjadi pengurus partai politik bahkan ada yang meminta do’a restu dan fatwa saya.

    Kita semua tahu, bahwa bersedekah merupakan perintah Allah sebagaimana telah tercantum dalam Qur’an pada surat Al Baqarah 254 :

    Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.

    Namun apakah kita bisa melakukan sedekah secara serampangan. Sering kita dengar ucapan, “semua tergantung niatnya”. Apakah semudah itu? Lalu apa arti dari banyaknya ayat Al Qur’an yang menyuruh kita untuk berpikir. Jadi bersedekah pun ada tips dan triknya, supaya sedekah kita dapat diterima sebagai suatu amalan “membelanjakan harta di jalan Allah”.

    Kenapa kita tidak boleh serampangan dalam bersedekah? Tentu demi kebaikan kita bersama. Kita tahu masih banyak saudara-saudara kita yang benar-benar membutuhkan. Sebagian besar diantaranya justru bukan peminta-minta. Mereka adalah pekerja keras yang harus memeras keringat demi sesuap nasi. Lalu apakah kita dengan seenaknya “membelanjakan harta kita” kepada kaum peminta-minta yang tidak jelas itu. Belum lagi ribuan panitia pembangunan masjid fiktif, ribuan panti asuhan abal-abal hingga pengemis nan jutawan pemilik SUV mewah. Kalau sampai harta kita jatuh kepada orang yang tidak tepat, [menurut saya] sia-sialah amal kita. Kita tidak bisa hanya bersembunyi dibalik “semua tergantung niatnya”. Bukankah kita dituntut untuk berpikir?

    Fenomena jaringan kaum miskin kota pengemis yang diorganisir secara rapi sudah bukan rahasia umum lagi. Terungkapnya panitia pembangunan masjid hingga panti asuhan abal-abal sudah banyak yang tahu. Tapi, mengapa mereka bisa bertahan hingga sekarang? Siapa yang bertanggung jawab? Kita tentunya!

    Read More

    Mari perbesar kemaluan kita dengan semangat proklamasi…

    Tanpa terasa kita telah memasuki bulan Agustus. Sebuah bulan yang dianggap keramat oleh Bangsa Indonesia. Pada bulan ini, Bangsa Indonesia lepas dari belenggu penjajahan. Seperti tahun-tahun lalu, bulan Agustus selalu diisi dengan ritual yang membosankan. Semoga saja kita tidak merasa bosan oleh peringatan itu-itu saja. Apalah arti gegap gempita acara peringatan kemerdekaan? Yang terpenting kita semua mampu dan mau memahami arti kemerdekaan.

    Peringatan kemerdekaan RI yang ke-63, tahun ini diwarnai dengan berbagai peristiwa yang menghebohkan. Mulai dari skandal para jaksa yang kurang terhormat, tingkah mesum anggota dpr yang tak kalah hinanya hingga kebodohan anggota KPUD yang tak mampu berhitung. Serangkaian peristiwa memalukan dan memilukan itu harus kita renungkan bersama. Mengapa bisa terjadi. Apakah ini yang disebut dengan kemerdekaan. Merdeka untuk bertindak tanpa mempedulikan norma yang ada. Merdeka dalam memuaskan sahwat. Tentu bukan itu yang ada di benak Soekarno dan kawan-kawannya.

    Kunci dari semua masalah itu adalah kemaluan. Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk memperbesar kemaluan masing-masing. Dengan kemaluan yang besar niscaya KPK tidak perlu membuat baju khusus untuk Nurdin Halid dan kawan-kawannya. Kini kita seolah tak punya kemaluan, toh kalaupun ada seolah kemaluan kita hanya bahan pajangan semata. Tak ada rasa malu untuk menyerobot lampu merah, tiada rasa malu untuk meminta upeti, tiada rasa malu untuk mengambil uang rakyat.

    Mari secara bertahap kita perbesar kemaluan kita. Mulai dari yang sederhana. Mulai senin depan, kurangi penggunaan akses internet kantor untuk ngeblog! Ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang besar kemaluannya!

    ***kabur***

    NB : Google reader saya numpuk sampai 784 biji, diapain ya? Maaf, seminggu ini saya banyak pekerjaan. Yah beginilah tanggung jawab sebagai abdi negara dan abdi masyarakat! ***kabur lagi***

    Sarah Azhari, Rahma Azhari, Ayu Azhari dan Dewi Persik maju menjadi capres?

    Fenomena baru di Indonesia. Setelah beberapa waktu lalu para kyai terjun ke arena politik praktis, kini giliran para artis. Kalau pada masa orde baru hingga awal reformasi, para artis “hanya” tampil sebagai penggaet massa dan beberapa oknum yang beruntung dapat duduk manis di gedung DPR. Kini mereka mulai memasuki kancah jabatan eksekutif.

    Sebut saja Rano Karno, artis pertama yang berhasil memenangi pemilihan bupati Tangerang. Tak berselang lama, giliran Dede Yusuf yang berhasil memenangi pemilihan gubernur Jawa Barat. Langkah sukses kedua tokoh ini kemudian diikuti oleh beberapa aris lainnya. Primus, misalnya. Dia melenggang menjadi calon independen pada pemilihan bupati Subang, serta masih banyak artis lainnya.

    Saya tidak akan mengupas tentang fenomena ini secara muluk-muluk. Namun ada yang mengganjal di benak saya. Kalau tim sukses Bang Foke dan Pakde Karwo dengan lantang berteriak “COBLOS KUMISNYA”. Lalu seandainya Sarah Azhari maju sebagai capres atau ca-apalah, kira-kira apa yang ditawarkan untuk DICOBLOS?

    Ketika saat ini sering kita dengar rangkaian kata, “PILIH YANG BAJU PUTIH, JANGAN LUPA COBLOS JENGGOTNYA, PILIH YANG BERPECI DORENG, apakah kelak akan kita dengar, “COBLOS DADA MONTOKNYA, PILIH YANG BERDADA MONTOK, COBLOS YANG BERBOKONG GEDHE”?

    Read More




Berpikir Merdeka © 2007-2008 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress.
29 queries. 0.359 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.