Agama dan diskriminasi…
Sebuah pabrik plat merah yang sedang merekrut pekerja baru memasang pengumuman dengan aneka persyaratan. Persyaratan yang paling atas sungguh lucu, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Entah bagaimana cara mengukur atau sekedar membuktikan ketakwaan ini. Apa hanya sekedar melongok isian agama di KTP? Atau bahkan hingga tes membaca kitab suci hingga hapalan aneka dalil yang sering diperdebatkan itu. Entahlah? Yang jelas saya dulu ketika tes di sebuah pabrik plat merah, tidak pernah disuruh mengaji, tidak pernah ditanya berapa kali saya sholat dalam sehari semalam.
Seorang rekan dari sebuah pabrik plat merah bercerita tentang pekerja barunya yang kurang cekatan. Sebenarnya ada kandidat lain yang kualitasnya teramat sangat mumpuni, namun terpaksa dihadang di tengah jalan. Agama sang kandidat, masalahnya. Sang kandidat beragama X, sedangkan pabrik tersebut mayoritas beragama Y.
Saya hanya bisa tertegun. Lha kalau begitu, kenapa di persyaratan ditulis BERTAKWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA. Apa tidak lebih baik ditulis BERAGAMA Y saja, sehingga orang selain beragama Y tidak perlu susah-susah membuang waktu, biaya dan tenaga untuk mengikuti seleksi yang berbau mesum diskriminatif itu.
Di pabrik lain yang bukan plat merah, cerita tentang diskriminasi juga sering saya dengar. Bukan saja masalah agama, etnis juga turut dijadikan bahan diskriminasi. Bahkan di negeri yang katanya demokratis, menjunjung tinggi HAM (namun tidak menjunjung tinggi KAM) pun diskriminasi sering kita dengar. Jadi wajarlah kalau hidup kita akan penuh dengan isu diskriminasi.
Bagaimana dengan anda? Selamat hari Senin Wage, sudahkah anda menjadi korban diskriminasi hari ini? Atau malahan anda telah memberlakukan orang lain secara diskrimiatif? Berbagilah!
Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!






October 13th, 2008 at 13:21
sebentar… mengamankan pertamax dulu.
Reply
Jauhari reply on October 16th, 2008:
Sub dari Pertamax gini masih dapat BONUS ndak ya?
Reply
keminisme reply on October 20th, 2008:
boncengan tiga kena tilang ga ya??
bagi mereka yang kolot memang begitu pak yai, mendiskriminasi yg ga sepaham dengan mereka.
bahkan yg seagama X pun masih ada yg diskriminatif, membeda2kan golongan X1, X2, LDXX, XXX, dsb.
Reply
Andi Eko reply on October 24th, 2008:
Cuman nge test .. Klo 3 in 1 berarti lolos dari kejaran Polisi .. (ini ojek 3 in 1)
October 13th, 2008 at 13:25
ukuran bertakwa itu relatif ya mas… tentatif juga…. sama seperti pornografi… kabeh podo gontok2an parameter pornografi…. lhawong alquran aja penafsirannya berbeda kok… ya tujuannya biar kita bersepaham…. itu mungkin intinya…. halah halah……
Reply
October 13th, 2008 at 14:17
manusia memang suka berlebihan
dan itu fitrah….
Reply
Jauhari reply on October 16th, 2008:
dan itu TABIAT dasar ya?
Reply
October 13th, 2008 at 14:40
Hanya sebagai syarat aja mungkin, Pak…
Jadi dalam sebulan berapa kali sholat??? Kalau setahun??? Iklan banget….
Reply
October 13th, 2008 at 14:55
Pertanyannya adalah. Emang sampean pernah sholat????
Reply
October 13th, 2008 at 15:41
fenomena diatas telah sangat lama terjadi mas bahkan saya sendiri pernah menjadi korban diskriminasi tersebut tapi kayaknya sekarang juga masih banyak yang memberlakukan hal tersebut mas …………………………
dan kalo komentar di blog kawan kawan yang di sukai saja apa termasuk diskriminatif mas…………… ngabur ndak di lempar teklek
Reply
October 14th, 2008 at 04:38
Mungkin harus ditemukan suatu alat yang bernama ‘takwa meter’, yang bisa mengukur kadar ketakwaan manusia.
Reply
gum reply on November 7th, 2008:
atau semacam widget yg bisa menunjukkan
)
pageranktaqwarank seseorang.trus dipasang di mana kang? jidat?
Reply
October 14th, 2008 at 07:12
Plat merahnya masih pakai cat dari zaman OrBa kayaknya…
Reply
October 14th, 2008 at 10:09
Dicari yang bertaqwa aja masih banyak yg korupsi di pabrik, apalagi kalau persyaratan pertamanya ditulis: “bertaqwa kepada uang dan materi lainnya”
Reply
October 14th, 2008 at 17:12
Kalau menurut saya, seseorang tidak bisa meniliai tingkat ketaqwaan orang lain. Yang bisa hanyalah Tuhan.
Reply
Jauhari reply on October 16th, 2008:
Tapi kalau di liat dari CIRI CIRInya?
Reply
gum reply on November 7th, 2008:
susah, kang.
bathuk berbintik 2 tidak selalu berarti rajin solat.
bisa jadi habis jatuh di kamar mandi.
Reply
Andi Eko reply on October 24th, 2008:
Rupanya manusia sudah “Playing GOD”
Reply
October 15th, 2008 at 03:08
Sistem rekrutmen Pancasilais bgt, sayang oknum pelaksana mencerminkan sikap tdk siap hidup di Indonesia. Kalo begitu diusir saja dari Indonesia. Siapapun yg berbuat demikian.
Reply
October 15th, 2008 at 07:27
Bahkan soal harus menulis agama ‘Y’ saja, kenalan saya orang asing pernah terkena wajib tulis agama ini di salah satu pengurusan surat. Dan kebetulan kepercayaannya tak ada dalam pilihan agama yang tertulis. Akhirnya terpaksa memilih agama yang paling ‘dekat’ dgn kepercayaannya.
Reply
October 15th, 2008 at 08:27
Andai saja kadar ketaqwaan bisa diukur dengan menggunakan software
Reply
gum reply on November 7th, 2008:
atau ada semacam validatornya, gitu?
Reply
October 15th, 2008 at 10:19
Negara ini memang full diskrimiNASI cuma sekarang lagi kekurangan NASI
Reply
October 15th, 2008 at 10:26
wah, dua hal yang sering sekali ditaruh di kalimat yang sama…agama dan diskriminasi..
Reply
October 15th, 2008 at 10:41
pernah banget kena diskriminasi, bukan hanya karena agama, tapi juga karena penampilan dan suku. masih banyak banget dimanapun, bahkan pada saat belanja di toko/ pasar ….
Reply
October 16th, 2008 at 08:56
Saya selalu berharap supaya tidak menjadi korban diskriminasi ataupun menjadi orang yang diskriminatif. Karena diskriminasi itu sangat tidak mengenakkan.
Reply
October 16th, 2008 at 12:22
jgn kata agama, wong warna kulit aja terkadang jd masalah
Reply
October 16th, 2008 at 17:01
pernah tau gk kl salah satu persyaratanya “TAKUT AKAN TUHAN !”
… bener2 itu ada lho dan bnyk saksi nya :d he3x. TUh mksdnya apa lagi ? smua kan Takut akan tuhan
)
Reply
October 16th, 2008 at 18:05
yang patut diwaspadai itu diskriminasi terhadap blog engine.
males kalo harus komen di blog yang pake wordpress.
*nunggu dilempar legen*
Reply
Jauhari reply on October 16th, 2008:
Ha ha ha… sepertinya RESEP dan RACUN saya masih di TOLAKnya he he he
Reply
October 18th, 2008 at 03:21
ternyata di badan usaha milik pemerintah sendiri masih terjadi diskrimanasi ya? wah kasian….
Reply
October 18th, 2008 at 08:24
bukankah manusia itu semakin aneh
mereka selalu mampu menciptakan lusinan tuhan
Reply
October 18th, 2008 at 09:13
aneh bener yah, ga pada tempatnya. saya juga pernah tuh melihat pengumuman serupa pada iklan kos-kosan.
kadar takwa ga bisa diukur dari data ktp. bila pun kita ditanya “apakah anda bertakwa?” jawaban iya atau tidak hanya terucap dari lidah tak bertulang
Reply
October 18th, 2008 at 12:15
takwa.. kalo gak salah jalankan yg diperintahkan, jauhi yang dilarang. Gak ada alasan bagi sebuah instansi, perusahaan, atau kost-kostan sekalipun untuk mensweeping agama dan apalagi KTP calon pendatang, pelamar dan penghuninya.
Bukankah bagus jika sebuah perusahaan mayoritas muslim menerima calon pegawai nasrani, sebuah peluang untuk menunjukkan kualitas perangai bermasyarakat sang mayoritas, begitu pula tentu sebaliknya.
Ada banyak test dan semacamnya sebelum sang calon diterima, bahkan untuk sebuah kamar kost, sang pemilik bisa menilai dari perangai awal sang calon penghuni kost, gelagat awalnya gimana gitu..
dah ah, panjang banget nanti jadi posting gratis di sini
.
Reply
October 18th, 2008 at 20:24
masa sih segitunya om… wah… kurang profesional nih klo masih maen dsikrimniasi agama… payah tuh om… he..he…
———————————————————-
btw dukung gw di busby seo ya… cukup komen di
postingan
http://masenchipz.com/busby-seo-test
makasih
Reply
October 18th, 2008 at 21:30
ktp saya tertulis agama y
Reply
October 19th, 2008 at 01:34
Assalamualaikum mas Slamet yang baik, Sejatinya yang diukur dari kemampuan seseorang bukan hanya masalah materiil akan tetapi spirituil juga ikut andil besar. Akan tetapi dalam kasus tersebut memang diskriminasi-lah yang dijadikan biang kerok. Mungkin Perusahaan tersebut mempunyai pertimbangan yang lain sebelum menerima seseorang selain karena berlainan agama.
Reply
October 19th, 2008 at 08:22
Kyknya sampe dimanapun dan kapanpun tetap ada diskriminastif spt itu
Reply
October 20th, 2008 at 07:09
Keragaman itu akan selalu muncul,
Jika masih dikriminasi harus muncul dalam benak kita, maka saya akan buat perusahaan sehingga saya bisa menentukan arah dan gerak persuahaan.
Demikian mohon maaf dan salam kenal mas Slamet Widodo (seperti nama dosen saya saja)
Reply
gum reply on November 7th, 2008:
oh, ya? dosen anda juga suka miyabi?
Reply
October 21st, 2008 at 10:23
Formalitas aja kali kang,biar kelihatan ramai saja
Reply
October 21st, 2008 at 12:34
ah memang yang paling aman dan nyaman itu ikut dalam kelompok mayoritas saja…dan pasti ngga akan mengalami diskriminasi
Reply
October 21st, 2008 at 17:24
hahahahaha… karepe mungkin, pekerja yang baik dan amanah kali mas! tapi bahasanya terlalu ndakik2.. jadinya multi tafsir gitu.. halah wes embuh, ndunyo pancen aneh2 ae..
Reply
October 21st, 2008 at 19:22
Bicara soal takwa, saya bulan puasa kemarin diceramahi oleh teman saya. Pasalnya, dia bilang puasa itu diwajibkan untuk orang-orang yang bertakwa. Saya menolak pandangan itu. Menurut saya, puasa itu diwajibkan kepada orang-orang yang beriman. Sedangkan, takwa adalah tujuan puasa. Coba baca dalilnya, saya bilang. Eh… malah saya diceramahi panjang lebar. Ya sudah, saya dengarkan saja.
Soal diskriminasi, saya selalu berusaha untuk tidak melakukan diskriminasi. Contohnya, saya pernah ditanya oleh seorang teman. Dia menceritakan bahwa di kompleknya ada orang yang akan menggunakan rumahnya untuk kebaktian. Dia bertanya, “Menurutmu bagaimana?” Saya jawab saja, “Biarkan saja.” Teman saya menyangkal, “Kok didiamkan saja. Itu kan meresahkan!” Saya katakan kepada teman saya itu, “Ketika rumahmu digunakan untuk yasinan, tahlilan, pengajian, dan lain-lain, itu juga meresahkan untuk mereka yang bukan beragama Islam. Akan tetapi, mereka diam saja kan? Nah, hal yang sama juga harus Kamu berikan kepada mereka. Kalau Kamu mau mencegah mereka melakukan kebaktian, mulai dulu dari diri kalian, yasinan, tahlilan, pengajian, lakukan di masjid. Jangan di rumah.” Teman saya lantas berkata, “Benar juga Kamu.”
“Ya. Itu namanya toleransi. Membiarkan mereka melakukan kebaktian itu namanya toleransi.”
Reply
October 22nd, 2008 at 03:46
*manggut-manggut*
Sekarang sudah rabu legi loh ^^
Reply
October 22nd, 2008 at 09:07
agama dah urusan manusia dengan Tuhan..
Reply
October 22nd, 2008 at 13:30
buaknnya kita dari kecil kadang2 dalam keluarga dapat perlakuakn diskriminasi joga…?
eh…kamu kan baru anak kemaren sore….
eh…kamukan anak bungsu makanya harus…
eh…kamu kan anak perempuan/laki-laki mainya harus…..
contoh saja…
itu yang teralienasi sampai dewasa atau jika jadi pejabat.
maka untuk menghilangkan diskriminasi itu mulai dari lingkungan keluarga.
Reply
October 22nd, 2008 at 15:57
Indosat blog contest ikutan yuk……..
Reply
October 22nd, 2008 at 22:13
hm.. di kantorku yang plat merah malah digalakkan diskriminasi tuh kang (eh masih kyai ato udah kang lagi ya)
misalnya : gak punya NPWP, pajaknya dipotong (lumayan) lebih besar.
trus gaji gedhe ama kecil dibedain tarifnya, yg gaji gedhe tarifnya juga lebih gedhe.
berarti saya pelaku diskriminatif ya ?
Reply
October 23rd, 2008 at 09:29
Hm,,,
Susah mas untuk mengatasi hal ini…
Sudah mengakar-e…
Reply
October 23rd, 2008 at 13:01
Selamat siang aja deh……
Reply
October 23rd, 2008 at 17:26
sepakat tuh… .
jangan sekali2 bermain2 menjadi tuhan… .
Reply
October 23rd, 2008 at 19:08
eh beberapa hari gak bisa di akses kenapa kang Slamet
Reply
October 24th, 2008 at 01:33
senin wage? kalau itung2an jawa, senin itu = 7, wage = 4, jumlahnya = 11. wah, hari yang penuh tantangan, mas kyai slamet. diskrimiasi agaknya dah sering terjadi di berbagai lapis dan lini kehidupan masyarakat.
Reply
October 24th, 2008 at 07:34
Pada seneng ngambil alih tugas tuhan nihhhh….
kriteria calon suami saya juga harus masuk surga…
(pantesan nggak nongol-nongol ya???)
Reply
October 24th, 2008 at 09:02
sumpah saia tetap bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa karena saia diajari ortu dan guru di sekulah…
Reply
October 28th, 2008 at 03:48
itulah indonesiaaaa. terkadang unsur mbak SARA mengintervensi profesionalisme kerja.
Reply
November 7th, 2008 at 00:15
mereka itu pada ndak sadar apa ya?
mereka bisa kerja, cari duit, menghidupi anak, istri (bahkan istri orang lain) ya karena negara ini (secara tertulis) sudah merdeka.
dan negara ini merdeka bukan hanya hasil perjuangan orang2 beragama A saja, tapi B, C dan lainnya.
*sok serius, berharap dapet gelas cantik*
Reply
December 17th, 2008 at 10:07
[...] sekali isi kepala masing masing orang yang dengan semaunya sendiri mendiskriminasikan orang lain tanpa melihat isi yang di dalam nya ,hanya karena keyakinan berbeda,partai mereka [...]
March 1st, 2009 at 10:39
wah kalo dipikir bingungin juga yah
tapi yang jelas kalo dipikir itu lebih bagus bertakwa dari pada beragama karena orang bertakwa pasti beragama
byme
Reply
May 19th, 2009 at 15:36
agama adalah cara untuk kita berhubungan dgn tuhan jangan sampai kita hnya terpaku pdanya shingga melupakn hal yg pling esensi yaitu tuhan
Reply