Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!


Archive for October, 2008


Halal haram tidak seperti hitam putih…

Di sebuah pemondokan mahasiswa, tengah hadir seorang mahasiswa anggota triple C (Club Celana Cingkrang). Seperti biasa obrolan pun berlangsung dengan hangatnya hingga sampai pada topik asuransi dan bank. Kebetulan ada seorang rekan yang baru saja bergabung menjadi tim marketing sebuah perusahaan asu ransi. Iseng-iseng dia membuka obrolan dengan menawarkan produk asuransinya. Ah, namanya juga usaha.

Si triple C langsung menolak mentah-mentah tawaran itu. Bukan itu saja, berbagai dalil diungkapkannya tentang keharaman asuransi dan juga perbankan. Dengan berapi-api si triple C berusaha menyadarkan teman-temannya. Perdebatan pun berlangsung dengan seru dan menjadi debat kusir. Topik pun berkembang pada rokok. Kebetulan penghuni pemondokan mayoritas adalah ahli hisap bin perokok hebat. Lagi-lagi dalil berkumandang!

Setelah bosan memperdebatkan asuransi dan perbankan, topik pun beralih. Giliran si triple C yang membuat topik baru, kebetulan dia belum punya SIM dan ingin mengurus kepemilikan SIM. Usut punya usut si triple C ingin mengurus SIM secara instan saja. Katanya biar lebih mudah dan gampang.

Giliran si triple C diberondong berbagai dalil tentang korupsi, suap, kolusi dan berbagai kebusukan lain. Setelah diinterogasi, KTP si triple C juga hasil suap menyuap. Interogasi bahkan berlanjut sampai pada OS yang digunakan pada komputer si triple C yang ternyata juga jelas mengandung lemak babi alias haram! Lha si triple C memakai Windows bajakan. Karena dikerjakan dengan menggunakan Windows bajakan, maka skripsi si triple C bisa dikategorikan haram! Ijazahnya juga haram! Ketika bekerja maka uang gajinya juga haram!

Jadi menurut sampean apa makna tersembunyi dibalik cerita itu?

Ketika mertego dan gendeng terjepit rimba Ja(ncu)karta…

Walau tinggal di Bogor, saya termasuk jarang pergi ke Jakarta. Paling banter hanya menjelajah rel dari stasiun Bogor hingga Gambir, untuk kemudian berlanjut dengan Gajayana menuju Malang. Terkadang pula saya menyusuri tol dalam kota dari Bogor hingga Cengkareng, kemudian berlanjut mengangkasa dengan tiket murah. Jadi selama dua tahun di Bogor, saya gak mudheng blas Jakarta kecuali Mangga Besar Gambir. Lha di Bogor saja saya jarang jalan-jalan.

Sebuah kabar kunam a.k.a burung berhembus dari ranah blog nusantara, sang kolonel hendak membuka sebuah usaha warung angkringan khas Djogja yang memadukan nuansa ndeso dan canggihnya dunia IT, Warung Wedang Wifi. Peresmian angkringan ini dibarengkan dengan istighotsah kubro sekaligus muktamar dalam rangka hari blogger nasional. Sebagai seorang blogger, saya terpanggil untuk meramaikan acara tersebut. Maka jauh-jauh hari saya sudah mencari informasi tentang tips dan trik mencapai lokasi perhelatan. Beruntung, saya mempunyai santri yang asli Jakarta namun bukan anggota FBR. Bersama dua santri tersebut (ah santri satunya belum punya blog; persis kayak pakar ituh!), saya harus meliuk-liuk di padatnya jalan dari Bogor hingga Jakarta. Sayang tidak melewati Parung! :D

Akhirnya sampai juga kami di rumah blogger Indonesia sekaligus kantor dagdigdug dan wetiga berada. Tumpeng sudah terpotong. Dari jauh saya lihat sang manusia kotak kursi PB 2008. Beberapa saat kemudian saya tertegun ketika melihat sesuatu yang menyilaukan mata. Wah benar, bukan hoax! Paman Tyo adalah dewan pembina Perbakin! Paman langsung menyambut saya dan dengan takzimnya mencium menyalami tangan saya. Sempat pula saya didaulat untuk menyampaikan tausiah beberapa detik :D

Jahe susu hangat atau jahe hangat susu atau susu jahe hangat menyambut kedatangan kami. Tak tanggung-tanggung minuman itu diracik langsung oleh sang kolonel. Entah berapa banyak bumbu rahasia didalamnya. Saya pun berkeliling untuk menyapa umat yang ada di situ, banyak sekali!

Malam semakin dingin (ngawur! Jakarta itu panas!), saya pun bergabung dengan umat BHI. Seorang  tokoh BHI dengan wajah mesumnya datang. Asap rokok dan derai tawa bersatu padu. Ndilalah tanpa diduga tanpa disangka, meluncur sebuah kata dari bibir sang tokoh, “mertego“!

Mertego, 15 tahun saya tidak mendengar kata itu! Di kampung halaman saya saja sudah tidak ada lagi orang yang mengucap kata itu. Justru di JA(NCU)KARTA yang katanya kota metropolis, hedonis, kapitalis itu saya mendengar kata itu diucap dengan lafal dan tajwid yang sangat fasih. Ternyata ramalan Anang sang legenda dari timur itu tidak terbukti!!! Bahasa Jawa ndeso ternyata masih hidup, bahkan di kota metropolitan.

Sebuah kata pun muncul lagi, gendeng (gen = gendang; deng = dendeng). Lagi-lagi kata ini begitu menusuk di telinga. Melemparkan saya pada masa kecil saya di ndeso sana. Ternyata masih ada orang yang menggunakan kata ini. :D

Hmm… saya baru sadar bahwa Jakarta adalah ndeso yang sok kutho! Jakarta bukan big city tapi big village.

Jadi mari kita ndesokan JAKARTA!

NB : Yang kemarin sudah ketemu sama saya silahkan masang link sendiri dibawah ya!   :D

NB lagi : Seperti biasa ketika blogger  berkumpul, dua ikon blogger Jawa Timur selalu jadi korban rasan-rasan. Siapa lagi kalau bukan Anang dan Ale. Banyak yang tanya Ale lagi sibuk apa? Skripsi, jawab saya! Bener kan Le. Bukankah judul skripsimu “Optimalisasi Mesin Diesel dengan Menggunakan Photoshop” dibawah bimbingan pakar dari Djogja! :D

NB lagi ah : Sah, kowe yo ditakokke wong-wong!



Berpikir Merdeka © 2007-2009 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
23 queries. 0.095 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.