Perbedaan adalah rahmat…
Maaf, agak panjang. Edisi Khutbah Jum’at ala Kyai Slamet nih…
Seperti tahun-tahun sebelumnya, penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal di negara kita pasti menimbulkan sedikit keguncangan. Perbedaan dalam penetapan tanggal nan penting bagi umat Islam ini seolah sudah menjadi pola yang akan terus berulang. Terkadang dengan sedikit bumbu yang ditambahkan oleh media massa, seolah perbedaan ini begitu dahsyat. Padahal perbedaan ini seharusnya dapat disikapi sebagai suatu hal yang biasa dan wajar dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Bukan sesuatu yang perlu dirisaukan. Terlepas dari masih pro kontranya status hadits Ikhtilaafu ummatii rahmah, saya masih berkeyakinan bahwa perbedaan memang sebuah rahmat. Namun bukan berarti sebaliknya, persatuan atau persamaan adalah adzab. Bukan, bukan sama sekali!
Perbedaan akan membawa kita untuk saling menghargai. Perbedaan pendapat menjadi suatu hal yang lumrah ketika tiap-tiap manusia berpikir. Bukankah kita diperintahkan untuk selalu berpikir. Sesuatu yang masih “samar” dalam Qur’an dan hadits merupakan sebuah perintah rahasia dari Allah kepada hambaNya untuk senantiasa memutar otak.
Ide penyatuan kalender Islam masih menjadi suatu cita-cita nan mustahil diwujudkan. Kenapa? Masing-masing pendapat, baik hisab maupun rukyat mempunyai dasar masing-masing. Pengertian rukyat pun masih dapat diperdebatkan. Apakah mata telanjang atau dengan alat bantu? Batas “mungkin terlihat” juga masih dapat diperdebatkan. Wajar! Di jaman Nabi Muhammad, belum ada teleskop yang berkemampuan prima. Dan yang utama, belum ada google dan kawan-kawannya!
Saya pribadi tetap memegang teguh “perbedaan adalah rahmat” dalam kehidupan beragama keluarga saya. Saya bukan NU atau Muhammadiyah, bukan pula HTI atau Triple C (Club Celana Cingkrang)! Saya muslim biasa!
Sedikit gambaran tentang indahnya perbedaan dalam keluarga saya. Saya terbiasa tidak membaca doa qunut (do’a yang dibaca selepas bangkit dari rukuk pada rakaat terakhir) ketika sholat shubuh, sedangkan istri saya terbiasa melafalkannya. Lalu sebagai imam sholat, apakah saya dengan serta merta menghilangkan kesempatan istri saya untuk membaca qunut? Tidak. Selalu ada jalan menuju Surga. Selepas i’tidal (bangkit dari rukuk) terakhir, saya memberi waktu kepada istri untuk melafalkan doa qunut. Lalu saya ngapain? Ya diam saja!
Bukan itu saja. Kami terbiasa berpuasa dan berhari raya tidak bersama-sama. Saya selalu berpatokan dengan siaran resmi PP Muhammadiyah, walaupun saya bukan fans Din Syamsudin. Sedangkan istri selalu bersandar pada “siaran resmi” masjid di lingkungan rumah kami. Jadi ketika saya sudah melakukan sholat idul fitri di kampus UMM, istri saya masih berpuasa dan santai di rumah. Sebaliknya keesokan hari, ketika istri berangkat sholat idul fitri di masjid perumahan, saya duduk manis berbalas SMS di rumah. Perbedaan adalah hal yang biasa. Lha pas coblosan pilgub kemarin saja, saya dan istri sama-sama tidak tahu pilihan masing-masing kok! Ya, pilgub kemarin saya menggunakan hak pilih. Saya tidak suka golput tapi lebih tidak suka fatwa haram golput. Kelihatannya pilihan kami beda sih, lha saya nyoblos Kaji ups… keceplosan!
Apakah saya gagal menjadi imam di keluarga? Tidak menurut saya. Justru saya gagal, apabila saya memaksa istri mengikuti pendapat saya. Ingatlah bahwa pendapat ulama-ulama besar itu pun “hanya” hasil ijtihad yang masih belum tentu benar salahnya bukan? Seperti yang dijanjikan Allah, benar salah dalam ijtihad bakal mendapatkan satu pahala. Namun kelak, ketika sidang pengadilan akhirat akan diumumkan siapa yang benar dan berhak mendapatkan bonus satu pahala lagi.
Jadi, kenapa harus bacok-bacokan untuk memperebutkan kebenaran?
Oh, ya sedikit cerita tentang indahnya perbedaan. Imam masjid agung Tuban terdiri dari beberapa orang yang berbeda versi tarawihnya. Ada imam versi 20 dan versi 8 rakaat. Apakah terjadi peperangan di Tuban? Tidak. Ketika shalat dipimpin oleh imam versi 20 rakaat, mereka yang lebih sreg versi 8 rakaat pun mengikuti jalannya shalat. Namun setelah rakaat yang kedelapan, mereka beranjak pulang atau duduk-duduk di serambi masjid menunggu shalat witir. Ketika shalat witir dilaksanakan, mereka kembali bergabung mengikuti shalat.
Sebaliknya ketika giliran imam versi 8 rakaat, mereka yang lebih suka shalat tarawih 20 rakaat akan keluar dari barisan pada saat shalat witir dilaksanakan. Kemudian mereka melanjutkan tarawih lagi selepas para jamaah versi 8 rakaat beranjak pulang. Oh, indahnya.
Terkadang para elitlah yang harus belajar dari lingkup yang lebih kecil, entah keluarga atau sekelompok wong cilik lainnya. Yah, semakin elit semakin tidak sempat untuk belajar. Terlalu sibuk rupanya.
Bagaimana saudaraku, masihkah engkau memaksakan pendapat kepada orang lain?
Sholat Jum’at yuk….!
Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!






August 15th, 2008 at 13:21
komen perdana sekaligus pertamaxxx
salut pak, semakin elit semakin tidak sempat untuk belajar. salam kenal
Reply
August 15th, 2008 at 13:41
saya setuju dengan pendapat smpyn mas… eh btw saya hafal doa qunut loh, tapi kl subuhan gak pake qunut
Reply
mantan kyai reply on August 16th, 2008:
saya hafal quran lho….. tapi kalo sholat gak pernah sempat baca apa-apa…jungkar-jungkir ajah
Reply
August 15th, 2008 at 13:53
kali ini saya secara jujur dan gentle harus menyerah dengan pendapat yang bapak utarakan disini. perbedaan memang rahmat, dan seringkali nikmat. memiliki dua hari raya dalam satu rumah (maksud saya satu hari raya yg berbeda tanggal pelaksanaannya, sekali lagi bukan beda agama) adalah rahmat, karena apa? karena bisa gantian hekekeke. begitupun punya dua (atau lebih) istri berbeda adalah rahmat (dan nikmat) karena juga bisa gantian jg.
jadi, kata siapa berbeda itu harus bacok2an, ndak ada itu, ndak ada… ndak ada.. ndak ada…
Reply
August 15th, 2008 at 13:54
Perbedaan itu akan menjadi indah, ketika diletakkan di tempat yang benar. Terimakasih wejangannya, Pak Kyai…
Reply
August 15th, 2008 at 13:58
dapat 2 kali khutbah jumat yang paten!
satu dari masjid deket kantor
satu lagi dari sampeyan.
Reply
Jauhari reply on August 17th, 2008:
Di kantor sudah ada masjid SALUT!! apa maksudnya MASJID DI DEKAT KANTOR?
*kabur*
Reply
August 15th, 2008 at 17:43
Aduh …bijaksana sekali bapak satu ini.
Reply
August 15th, 2008 at 17:54
mo 20 ato 8 yg penting shalat khusyuk..lillahi’ala…
Reply
August 15th, 2008 at 20:50
Sip setuju karo pendapate sampeyan, Cak Met. Perbedaan adalah Rahmat … tapi kita juga perlu inget juga kalo ibadah juga ada sunah dan teladannya seperti yang telah dicontohkan ama Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Bener gak Cak Met ?
Reply
August 15th, 2008 at 21:40
setujuuu…
di masjid kampung saya (yang kyainya NU)…. setelah 8 rakaat, yang tarawih 11 rakaat biasanya ke serambi untuk menunggu witir atau witir sendiri di rumah.
sudah beberapa tahun terakhir di keluarga saya beda beda hari idul fitrinya… dan oke oke saja.
berbeda tapi tetep satu (tujuan)…
Reply
August 16th, 2008 at 06:43
Saya ngikut orang mekah saja. Wong disitu yang dekat kiblatnya.
Reply
August 16th, 2008 at 08:40
rahmat juga berbeda lho oom
Reply
August 16th, 2008 at 23:50
Tapi kok isih seneng tarung yo klo beda pilihan..heuehehhehe
Reply
August 17th, 2008 at 00:11
Perbedaan adalah rahmat, suatu ungkapan yang mendewasakan bisa menjadi tolak ukur tingkat kematangan mental seseorang. Semakin luas framereferen pengetahuan akan membawa semakin luas pemahaman tentang realitas perbedaan. Bener pak Slamet, pendewasaan dalam memandang perbedaan dimulai dari lingkup yang terkecil yaitu di dalam keluarga. Semoga dengan adanya pemahaman tersebut bangsa ini menjadi semakin fokus untuk bersatu mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan merata. Semoga pak Slamet.
Reply
August 17th, 2008 at 03:06
Perempuan dan laki2 saling tumbuh rasa cinta karena memang dua mahluk itu berbeda klo sama ya brabe dech !!!
Reply
Jauhari reply on August 17th, 2008:
Itulah…
Reply
August 17th, 2008 at 04:06
setuju kang, bahkan ternyata konflik ataupun peperangan atas nama perbedaan itu pun adalah juga sebuah rahmat.
Reply
August 17th, 2008 at 05:40
Pada intinya SEPAKAT KWAT… beda itu rahmad karena kebetulan Kakak sata Namanya Rahmad dan saya sendiri Bernama Nurudin Jauhari.. coba bayangkan kalau ibu saya tidak menghargai perbedaan.. semua anaknya yang berjumlah enam biji di kasih nama RAHMAD semua.. apa ndak terjadi chaos????
Itulah dunia… ada satu sisi yang kita seharusnya menghargai jika sisi itu akan selalu lebih baik begitu… akan tetapi beda itu indah.. karena saya sendiri menyukai perbedaan….
Ndak Percaya?? itulah kenapa saya milih istri seorang cewek yang cantik bukan seorang COWOK yang GANTENG……
Jadi apa kyai slamet upacara 17an hari ini? jika tidak dan saya melakukannya saya juga menghargai itu…
*salaman*
Reply
August 17th, 2008 at 08:12
wah.. jadi selain beda kelamin, juga beda pemahaman juga toh… kok bisa yah.. hebat-hebat.. trus anaknya ikut bapaknya atau mamanya.. heheh
Reply
August 17th, 2008 at 08:21
Iya Mas, Sepakat….
Perbedaan adalah sebuah Rahmat yang harus disyukuri, Coba bayangkan kalau semua orang berfikiran yang sama..
Namun, “walaupun kita beda kita tetap satu juga”
– MERDEKA –
Reply
August 17th, 2008 at 08:37
Saya tidak bisa comment panjang.
Saya hanya bisa berucap
Selamat Alexa Anda Naik kan?
Selamat HUT RI Ke 63
Merdeka, Merdeka…
Merdeka atau Mati
Mendingan Saya Pilih Merdeka saja.
Karena persiapan dan sangu mati saya belum cukup
Sumintar.com
Reply
August 17th, 2008 at 08:56
Wah nggak salah saya..teryata p.slamet juga jago wejangan seperti ini ..perbedaan memang semakin indah…dan rahmat yang benar2 harus di syukuri
Reply
August 17th, 2008 at 09:31
yoa sepakat
* wih… baru tau kalo sampean sebijaksana ini!..
Reply
August 17th, 2008 at 13:02
Bener, setuju, tuak dan legen itu berbeda.
Coba bawakan lagi keduanya ya.
*ngacir*
Reply
August 17th, 2008 at 13:10
weik keterusan nggae jeneng maling ayam
*jinabat disek*
Reply
August 17th, 2008 at 16:25
Yup, enjoy ajjah
Beda itu memang luar biasa.,
Reply
August 17th, 2008 at 23:25
khutbah yang mantab pak kyai slamet. bangsa kita memang sukanya belajar, pak, tapi ndak pernah lulus, haks…. dah tahu kalau perbedaan itu rahmat, tapi ketika ada pihak lain yang tidak sependapat, lantas dianggap sebagai musuh yang mesti disingkirkan. kapan lulusnya kalau cakar2an terus?
Reply
August 18th, 2008 at 10:44
Kepentingan memang tak lepas dari penentuan keputusan awal bulan puasa dan akhir puasa. Saya heran, kenapa kok pada hari-hari besar lain tidak terjadi masalah ini.. hehehehe…
btw, maaf mas slamet, lama saya tak mampir dan berkunjung. Mohon dimaafkan atas khilaf dan sombong saya yang tak mau bertegur sapa.
Reply
August 19th, 2008 at 10:04
Kalau saja semua bersedia bersama-sama “membebaskan diri” untuk kemudian belajar bersama, maka perbedaan itu akan menjadi pencerahan.
Ketidaktahuan dan arogansi si “tak tahu tapi sok tahu” adalah cikal bakal sikap berbeda adalah laknat.
NB: setahu saya jargon “berbeda adalah rahmat” bukan hadits shohih tetapi sekedar kata-kata mutiara.
Salam,
Penjaga Sanggar mepet Sawah
Reply
August 19th, 2008 at 10:41
ditunggu fatwanya oom yai
Reply
August 19th, 2008 at 18:51
tak kira “perbedaan adalah slamet”…..
Reply
August 19th, 2008 at 19:25
nggih, gus..
*cium tangan*
*mlayu*
Reply
August 19th, 2008 at 22:42
urusan akherat urusan masing-masing
Reply
August 19th, 2008 at 23:47
pak, ada email yang bisa dihubungi?
kulo wonten perlune…
balas di blog saya ya?
maturnuwun….
Reply
August 20th, 2008 at 00:09
Pasti ini di postingnya sebelum sholat jumatan ya??
) lam knal mas..
Reply
August 20th, 2008 at 00:29
edan tenan koe tem
gak nyangka koe Islam, ngerti qunut barang he..he..
Reply
August 20th, 2008 at 10:02
Di tempatku pun juga ada perbedaan seperti itu. Perbedaan itu hal yang biasa karena pada dasarnya manusia itu nggak ada yang sama. Tinggal bagaimana kita menyikapi secara bijaksana perbedaan itu.
Saya setuju dengan pendapat sampeyan, Pak. Bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Dengan adanya perbedaan ini akhirnya kita bisa saling menghormati orang lain.
Reply
August 20th, 2008 at 13:16
nama panggilan saya beda, tapi nggak mau dipanggil rahmat
welehhh…komen nda mutu…
salam kenal
Reply
August 20th, 2008 at 15:02
Moga kita bisa lebih bijak dan jernih dalam menghadapi setiap perbedaan yang ada…..
sabar lan sling eling ing penelingan yo!
Reply
August 20th, 2008 at 18:49
Lumayan buat ganti materi khotbah jum’at kemaren yang saya lewatkan dengan udad udud di luar mesjid….
Reply
August 21st, 2008 at 05:31
Toleransi memang Indah kok…
Reply
August 21st, 2008 at 08:10
semoga segala perbedaan itu tidak membuat kita jauh dari hal yang benar
Reply
August 21st, 2008 at 08:29
aku selalu pilih sholat id yang paling cepet aja. kan ga nyaman banget tuh kalau temannya dah makan2 masih puasa:)
Reply
August 21st, 2008 at 11:21
anak2 wisma asri mengucapkan pak slamet telah kembali kejalan yang benar
Reply
August 21st, 2008 at 13:09
Yg penting perbedaan itu jangan memacu ricuhnya suasana. Tetap kondusif..
Reply
August 21st, 2008 at 20:18
kita bisa bersatu karena ada perbedaan
Reply
August 21st, 2008 at 20:56
Jadi RAHMAT itu BEDA ya?
Reply
August 22nd, 2008 at 11:34
beda aja rahmat..apalagi sama!
rahmad banget!
Reply
August 22nd, 2008 at 14:27
apa kata pak Rahmat kalau dia baca tulisan ini yah?
Reply
August 22nd, 2008 at 15:52
mas kue bener lho perbedaan itu nikmat bukankah nikmat d dunia ini karena kita menghormati perbedaan? karena jika perbedaan yg jadi masalah maka dunia akan selalu ribut dan gk pernh akur lha wong di Indonesia hidup berbeda beda dalam beragama apalgih kehidupan. tp nek perbedaan dlm satu rumah yg sama sama islam tetapi satu NU dan satu Muhamadiyah contohnya kek gitu , nyong ra comment lah ora reti mbok salah
Reply
August 22nd, 2008 at 21:05
rahmat sopo toh?? koncoku bukan?? hehe…
Reply
August 23rd, 2008 at 23:21
Berkat belajar pada mbah kiyai slamet saya menjadi semakin memaklumi perbedaan yang dialogis
wong tanpa perbedaan saya dan istri saya nggak bisa bikin anak deh
Selalu belajar berpikir merdeka
salam dari keluarga untuk keluarga mbah slamet
Assalamu Alaikum Wr Wb
Reply
August 24th, 2008 at 13:00
kalo bs dicari yg banyak persamaan-nya, jgn yg beda2-nya ajah yg digedein
Reply
August 24th, 2008 at 17:03
Triple C kan juga muslim biasa om
Coba Sapa yang bilang luar biasa?
kayak Om Sam aja yang suka bilang ini Fundamentalis kalo yang itu Moderat
Reply
August 24th, 2008 at 21:03
Kalo di dunia ini gak ada perbedaan berarti sama dengan kebun yang isinya cuma rumput hijau saja tanpa bunga warna-warni:)
Reply
August 24th, 2008 at 21:31
Rahmat dan anugerah terindah dari Yang Maha Kuasa. Begitu dahsyatnya kekuatan dari perbedaan. Sinergi pun muncul dari perbedaan. Kok postingan Mas Slamet hampir sama ya dengan postingan saya hari ini?
Reply
August 26th, 2008 at 14:16
menyatukan perbedaan adalah tujuan
Reply
August 26th, 2008 at 16:01
kl subuhan kok ga di mesjid aja pak?
*sok pengen tau*
Reply
August 26th, 2008 at 16:15
selamat menjelang bulan ramadhan :d ntar ngabuburitnya nonton jav ya?
Reply
August 26th, 2008 at 16:57
perbedaan itu indah, kan? bayangkan kalau manusia diciptakan sama semua bentuk dan rupanya… duh.
Reply
August 26th, 2008 at 17:49
yah walaupun berbeda … di usahakan kita ttp satu.
Reply
September 5th, 2008 at 22:46
just do it
don’t think
Reply
September 11th, 2008 at 22:24
Yup setuja setuju mas. tapi kalo beda agama gimana? ditunggu tulisannya
Reply
September 12th, 2008 at 15:17
Kirim juga dong artikel ke web-ku di http://www.liputankita.com. bisa taruh link kok di bawah artikel yg dikirim. Jangan Lupa http://WWW.LIPUTANKITA.COM
Reply
September 13th, 2008 at 05:18
setuju. diciptakan perbedaan kan agar kita saling mengenal
Reply
October 1st, 2008 at 12:54
tulisannya inspiratif mas. jadi nulis dudul eh judul yang sama nih. Tapi bukan nyontek loh mas… kebetulan judulna sama trus googling dapat deh “punya” mas! maksudna tulisannya mas…
ojo ngeres aeee..
ampir lali..
Minal Aidzin wal faidzin
Reply
December 22nd, 2008 at 01:55
[...] 4. Perbedaan adalah rahmat [...]