Surat terbuka untuk Tuhan, dari maling ayam…
Kepada : Yth. Tuhan Yang Maha Esa lagi Berkuasa
di mana saja berada.
Tuhan, aku adalah hambaMu. Hamba yang sangat hina lagi tercela. Aku tak pernah melakukan perintahMu, bahkan terlalu sering aku melanggar laranganMu. Terlalu sering aku melakukan kemaksiatan, Tuhan. Sudah berpuluh kali aku mencopet, mencuri hingga mengadu nasib dengan dadu. Aku sungguh hina, Tuhan.
Tuhan… Tapi aku juga hambaMu bukan? Berarti aku berhak untuk mendapatkan keadilanMu juga. Berulangkali aku dianiaya oleh hambaMu yang lain. Sering aku menerima pukulan, tendangan bahkan sundutan rokok yang panas. Sering aku disorot oleh kamera wartawan. Entah mengapa, wartawan itu begitu bernafsu melihat penderitaanku. Ketika aku dihakimi massa, para wartawan dengan tersenyum bengis puas mengabadikan gambarku. Darah dan ratapan ampun seolah menjadi penyedap dan hiburan bagi hambaMu yang lainnya. Tidak adil, Tuhan!
Padahal aku mencuri, mencopet bukan untuk menumpuk-numpuk kekayaan. Aku hanya sekedar ingin bertahan hidup dan menghidupi keluargaku. Aku hanya ingin anakku tetap makan, tetap sekolah dan kelak tak akan mengalami nasib sepertiku. Aku melakukan kejahatan ini bukan untuk bermewah-mewah, bukan untuk tinggal di Singapura atau membeli pulau di lautan sana. Bukan! Sekali lagi bukan! Aku yakin Kau tidak buta dan tuli seperti banyak hambaMu.
Memang, aku tidak pernah singgah di gedung bundar seperti hambaMu yang lain. Aku tidak pernah bertelepon mesra hingga basah dengan jaksa Remas Sahya Sahman. Jangankan meneleponnya, kenal pun aku tidak. Aku juga tidak pernah berfoto dengan Jenderal Polisi Sukanto. Aku tak mampu membayar Ocret Kalinggis, Eliza Sarip dan pengacara mahal lainnya. Aku tidak kenal dengan Al Aming, Buliyan, Yahya Jaini dan para anggota DPR yang terhormat itu, Tuhan.
Tapi aku tetap hambaMu, bukan? Lalu kenapa aku selalu diperlakukan tidak adil. Aku selalu disiksa, kepalaku digunduli, punggungku disundut rokok, wajahku lebam karena pukulan. Kenapa, Tuhan? Jawab Tuhan… Please….
Aku ingin keadilan, Tuhan! Aku yakin Kau tidak buta dan tuli! Kau Maha Pendengar! Mungkin ada rahasia dibalik ini semua! Sungguh aku iri dengan Nurdin Kelit.
Dari ruang tahanan yang dingin, lembab, pengap dan gelap.
HambaMu,
Maling ayam biasa, bukan pejabat.
Gambar diambil dari sini!
Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!





August 13th, 2008 at 13:43
wah ini sungguh pengakuan yg jujur, mas
Reply
August 13th, 2008 at 14:36
maling ayam yang sungguh-sungguh intelek bahasanya hahaha
Reply
August 13th, 2008 at 14:47
lho kok malah nyasar disini surat saya???
Reply
mantan kyai reply on August 14th, 2008:
ooh jadi ini toh yang habis digebukin massa …
Reply
August 13th, 2008 at 15:53
iya..
gak adil emang,….
aku juga pernah liat argobel(arek golek beling)/ pemulung yg sedang mengambil besi penutup saluran air. DIhajar oleh warga setempat gara-gara tindakannya itu.
sementara itu maling yang disono yang ngambil uang ber M M an, enak-enakan ga diapa-apain…
Reply
August 13th, 2008 at 16:22
Karena saya bukan Tuhan, saya hanya numpang lewat saja…..
Reply
August 13th, 2008 at 19:10
Aku yakin ini pengalaman pribadi.
Reply
August 13th, 2008 at 20:05
semoga Tuhan berkenan membaca surat dari maling ayam ini, pak slamet. yang pasti ini maling dari indonesia. kasihan nasib mereka, mesti babak belur dihajar massa. bandingkan dg koruptor yang menjarah milyaran bahkan trilyunan uang rakyat, tapi tetep disanjung puja bak dewa…. diminta pakai seragam aja ada juga yang protes ….
Reply
August 13th, 2008 at 20:54
@pak sawali : jelas, pak. karena di luar negeri jarang ada maling ayam
)
Reply
August 13th, 2008 at 22:50
Maling Ayam Kampus ya mas….
Dasar dosen…!
Reply
August 14th, 2008 at 10:25
Ini mencoba membandingkan satu kejahatan dengan kejahatan yang lain,
mencoba mencari pembenaran dengan mengecilkan satu kejahatan.
Bayangkan andai si maling ayam, dengan watak yang sama, menjabat posisi basah di suatu instansi.
Lebih baik seperti saya saja, mumpung belum masuk kategori kejahatan.
Salam,
Maling Ayam [kampus]
Reply
August 14th, 2008 at 17:20
NURDIN KELIT: Ya Tuhan, aku berterimakasih tidak ditakdirkan menjadi copet jalanan.
wakakak…
Reply
August 15th, 2008 at 13:56
hihihihihi……..ini jeritan hati smpyn pribadi yha mas ???
Reply
August 15th, 2008 at 15:20
jadi inget tetangga anak smp nyuri telur berberapa puluh kilos dipenjara 3th. ada juga yang nyuri motor dibakar.
Reply
August 15th, 2008 at 20:35
Tuhan “Palsu” :
Reply
August 19th, 2008 at 17:07
wah…
luar biasa . . .
btw, surat nya udh dikirim apa blom mas ^_^
Reply
August 26th, 2008 at 16:37
jaman sekarang masih ada yg punya ayam? maling ayam?
paling sering terjadi ya maling hape..
Reply
August 29th, 2008 at 23:14
Ya…Tuhan..jawablah surat maling aym itu, karena dari jawaban itu, bisa jadi bacaan dan pertimbangan untuk sang maling ayam dan maling induknya ayam.
mungkin ada cara lain yang bisa di lakukan untuk mengatasi himpitan karena krisis yang berkepanjangan ini tanpa harus “maling ayam”?
pasti Tuhan akan menjawab: Bergabunglah dengan orang-orang yang benar dan demo tanpa kekerasan blejeti SBY-JK!
karena kepemimpinan SBY-jk yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan AS,kalo ga rakyat indonesia pasti ga ada yang jadi “maling ayam” apalagi koruptor????
Reply
August 30th, 2008 at 10:29
maling duit rakyat masih bisa hidup enak di penjara, pembunuh psikopat juga masih bisa dimanjain oleh polisi, lha kalo maling ayam ya digebuki ajah..
*kaburrrrrrrr…………..
Reply
August 31st, 2008 at 19:26
Jangan2 suratnya masih berada di Lowokwaru?
Reply
February 15th, 2009 at 12:25
Wah ini yang perlu di selidiki dengan seksama adalah:
1. Ayamnya,
2. Malingnya,
3. Penulisnya, ada hubungan apa antara ke3 tersangka di atas.. ?? Mungkin di antara pembaca sekalian ada yang mau bersaksi.. Hehehe
Reply