Sedekah cara cerdas…
Menyambut datangnya bulan Ramadhan 1429 H, ada kategori baru dalam tulisan saya. Yah, kategori baru tersebut adalah “sok kyai”. Pada kategori ini saya mencoba untuk menjadi seorang kyai. Siapa tahu kelak ada yang meminang saya menjadi pengurus partai politik bahkan ada yang meminta do’a restu dan fatwa saya.
Kita semua tahu, bahwa bersedekah merupakan perintah Allah sebagaimana telah tercantum dalam Qur’an pada surat Al Baqarah 254 :
Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.
Namun apakah kita bisa melakukan sedekah secara serampangan. Sering kita dengar ucapan, “semua tergantung niatnya”. Apakah semudah itu? Lalu apa arti dari banyaknya ayat Al Qur’an yang menyuruh kita untuk berpikir. Jadi bersedekah pun ada tips dan triknya, supaya sedekah kita dapat diterima sebagai suatu amalan “membelanjakan harta di jalan Allah”.
Kenapa kita tidak boleh serampangan dalam bersedekah? Tentu demi kebaikan kita bersama. Kita tahu masih banyak saudara-saudara kita yang benar-benar membutuhkan. Sebagian besar diantaranya justru bukan peminta-minta. Mereka adalah pekerja keras yang harus memeras keringat demi sesuap nasi. Lalu apakah kita dengan seenaknya “membelanjakan harta kita” kepada kaum peminta-minta yang tidak jelas itu. Belum lagi ribuan panitia pembangunan masjid fiktif, ribuan panti asuhan abal-abal hingga pengemis nan jutawan pemilik SUV mewah. Kalau sampai harta kita jatuh kepada orang yang tidak tepat, [menurut saya] sia-sialah amal kita. Kita tidak bisa hanya bersembunyi dibalik “semua tergantung niatnya”. Bukankah kita dituntut untuk berpikir?
Fenomena jaringan kaum miskin kota pengemis yang diorganisir secara rapi sudah bukan rahasia umum lagi. Terungkapnya panitia pembangunan masjid hingga panti asuhan abal-abal sudah banyak yang tahu. Tapi, mengapa mereka bisa bertahan hingga sekarang? Siapa yang bertanggung jawab? Kita tentunya!
Rasanya terlalu kejam jika saya menganjurkan anda mengabaikan pengemis di jalanan atau lingkungan perumahan kita. Rasanya terlalu sadis jika saya dengan semangat mendukung peraturan di Kota Jakarta yang melarang memberi uang kepada pengemis. Tapi [menurut saya] itulah yang terbaik. Tentu lebih mulia para pengasong, pengamen, polisi cepek, tukang semir, pedagang kaki seribu.
Lalu bagaimana hendaknya kita “membelanjakan harta di jalan Allah”. Di dalam Al Qur’an telah ada panduannya. Dalam bersedekah kita harus mengutamakan kerabat dekat kita sendiri. Janganlah pula kita melupakan tetangga kanan kiri kita. Pelajari terlebih dahulu calon penerima sedekah dari tangan kita itu. Apakah layak mendapatkan sedekah. Lho, mau sedekah saja kok mbulet? Ya kalau anda gak mau mbulet gampang saja. Salurkan melalui lembaga amil zakat, infak dan shodaqoh. Beres kan?
Bayangkanlah jika anda bersedekah pada orang yang salah. Anda masih berpanas-panas mengendarai mio kreditan, sedangkan sang pengemis sedang melenggang dengan SUV mewah ber-AC-nya! Alangkah lebih baiknya jika sedekah anda diterima oleh seorang dhuafa yang kemudian mampu mengembangkan usaha sehingga lepas dari kedhuafaannya.
Bagaimana dengan saya? Sampai kini saya mempercayakan pengelolaan transaksi akhirat saya pada sebuah lembaga amil zakat, infak dan shodaqoh. Tiap bulan pun saya bisa memantau pengelolaan dana secara transparan. Saya dan istri telah tercatat sebagai donatur tetap lembaga ini. Jadi kalau ada panitia pembangunan masjid yang datang ke rumah (bukan masjid dekat kompleks perumahan), saya tinggal kasih alamat lembaga amil zakat ini. Hubungi saja bendahara keuangan akhirat saya disana!
So, selamat tinggal “semua tergantung niat”, mari cerdas dalam bersedekah!
Gambar sedekah dari sini!
Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!






August 11th, 2008 at 00:21
bener kang, itu sedekah memang musti harus mulai ditertibkan.
halah, koyok pramongpraja ae ditertibkan kekeke
Reply
mantan kyai reply on August 11th, 2008:
apalagi kalo nyedekahin selangkangan. mesti tertib ya oom
Reply
August 11th, 2008 at 01:04
iya pak kyai.. petuah bapak memberi kecerahan hati ini..:D
hehe… lam kenal pak:)
Reply
August 11th, 2008 at 03:04
Saya beragama islam pak slamet (penting saya sampaikan), namun saya paling benci melihat orang datang ke rumah-rumah meminta sumbangan untuk membangun masjid, meskipun memang benar-benar untuk membangun masjid. Kalau tidak mampu membangun masjid, sholat pakai tikar pun bisa. Malu, agamaku bukan peminta-minta, membangun tempat ibadah kok dengan mengemis. Bikin malu saja. *hiks jadi emosi*
Reply
August 11th, 2008 at 04:14
tengok sodara kiri kanan. kalo masih ada yg butuh bantuan, dahulukan mereka.
lebih mulia daripada menyalurkannya ke tempat lain, sementara sodara sendiri kesusahan.
Reply
August 11th, 2008 at 05:02
wah dapat pencerahan disini. thanks pak kyai,
Reply
August 11th, 2008 at 07:17
siapapun yang mengatakannya, yang penting isinya. Lhah wong isinya tentang sodaqoh je … mak nyusss tenaannn
Reply
August 11th, 2008 at 07:26
Sosok yang mencap dirinya sok kyai, sangat cerdas bertutur cara cerdas bersedekah. Mantap, Mas. Saya setuju dengan apa yang Mas Kyai sampaikan.
Ndengaren, kok gak ndagel?
Reply
August 11th, 2008 at 08:22
Subhanallah,
Terimaksih atas pencerahan pagi ini.,
Reply
August 11th, 2008 at 08:56
Mencerahkan meinspiraii. Mas Slamet lebih maju, kalau saya langsung saja. Makasih ya.
Reply
August 11th, 2008 at 09:02
jadi gak usah ngasih sebelum tau latar belakangnya gitu?
Reply
August 11th, 2008 at 10:47
Sampean memang banyak ide mas,
Pinter dan kreative,
orang seperti sampean ini dibutuhkan di Indonesia,
dan dunia.
Selamat dan sukses sekalu.
Reply
August 11th, 2008 at 11:37
semoga nasibnya tidak seperti aku…menjadi mantan setelah gak laku lagi
Reply
August 11th, 2008 at 11:39
syarat sukses menjadi kyai
1.wajah ganteng
2.kalo doa di tv nangis-nangis
3.pinter nyanyi
4.pake sorban sampe sedengkul
hal yang harus dihindari jika dah ngetop
1.kawin lagi
Reply
August 11th, 2008 at 12:40
kalo aq sih sedekah di masjid tetangga aja.klo mau diselewengkan, yg dosa kan pengurusnya
Reply
August 11th, 2008 at 12:54
Mending sih kalo mau bantu… langsung ke orgnya ajah…. lebih tenang dan udah pasti nyampe dengan utuh
jadi kan amal nya ga sia2
Reply
August 11th, 2008 at 13:39
mas slamet, i love you!!!
Reply
August 11th, 2008 at 13:47
Memberi mulai dari saudara, kerabat, tetangga terdekat, sebelah, RT, RW, Kelurahan daripada memberi pengamen, pengemis, dkk yang notabenenya gak jelas asal usul dan status sosialnya.
Reply
August 11th, 2008 at 14:29
Hmm, bener Kang..
Bersedekah secara sembarangan itu egois. Mau pahalanya tok, tanpa mau mengawasi apakah sedekahnya benar-benar sampai ke tangan yang tepat..
Reply
August 11th, 2008 at 15:21
Begitulah pak kyai. Ternyata memang suka ada yang memanfaatkan kesempatan dalam keslempitan. Aku aja males ngasih yang muter-muter nyari sumbangan masjid kayak gitu. Kesane koh ngisin-isini…
Reply
August 11th, 2008 at 15:51
Teryata p.slamet ini bakat jadi kyai….makasih nasehatnya pak..
Reply
August 11th, 2008 at 16:09
sama, Om. Ndutz juga gak mau sembrono. Uda Ndutz percayain ke badan pengelola zakat, infak dan shodaqoh, jadi gak perlu takut lagi uang ituh ngalirnyah kemana
Reply
August 11th, 2008 at 19:59
makasih dah ngingetin om… gw blom zakat mal nih… he…he…
Reply
August 11th, 2008 at 21:13
saya udah lama ngga sedekah..hiks!
Reply
August 12th, 2008 at 00:23
wahhh semoga jadi kiay beneran nih kang
Ayoooo siapa yang mau bersedekah ma saya
saya siapa menampung kok
Reply
August 12th, 2008 at 05:40
alhamdulillah, dapat pencerahan setelah subuh…
Reply
August 12th, 2008 at 07:50
Sepakat dengan sampean mas!!…
Reply
August 12th, 2008 at 08:36
makasih, sy bnyk belajar dr sini. salam hangat. (Heidy, 081331607420) :p
Reply
August 12th, 2008 at 12:38
Memberi sedekahpun ada opportunity costnya dari sudut pandang ekonom.
Reply
August 12th, 2008 at 13:48
emang sedekah membersihkan hati..
Reply
August 12th, 2008 at 14:55
Tumben nich postingan serius
)
Reply
August 12th, 2008 at 16:01
Ya, siapa mau bersedekah sama saya? saya juga pengen beli mobil SUV ber AC ni..huehehehehe…
Reply
August 12th, 2008 at 16:17
katanya sih, meski niatnya blm terlaksana kalo dah ada niat baik, itu dah diitung sbg suatu kebaikan
tp allah maha mengetahui isi hati ya, niatnya itu ikhlas pa ndak, bnr2 niat pa ndak.. wallahua’lam
Reply
August 13th, 2008 at 00:59
Kyai yang rasional dan logis. Mari bergabung dalam Gerakan Indonesia Raya, Pak Kyai!
Reply
August 13th, 2008 at 08:31
klo reg sms 2000 /sms ke artis termasuk sedekah nggak?
Reply
August 13th, 2008 at 11:57
dari sok kyai, jadi kyai beneran….
Reply
August 13th, 2008 at 13:00
iya nih pak kyai, saya juga mulai menertibkan diri untuk urusan yang satu ini.
Reply
August 15th, 2008 at 20:31
aku SETUJU BANGET karo sampeyan, pak kyai mBeling
Reply
August 21st, 2008 at 07:04
Sedekah tidak ada rumusannya boss, hati dan iklas kuncinya, mengapa kita berburuk sangka kepada orang lain bikin kotor hati, SEDEKAH TIDAK PERLU CERDAS, selesai sedekah serahkan kepada Alloh yang mengaturnya, kenapa harus cerdas dulu baru sedekah, kecerdasan menghabat keiklassan seseorang, ini soal goib. Seperti soal Nyawa orang, sampai botak anda belajar tidak akan anda bisa sampai dapat rumusanya. oke..
SEDEKAH BUKAN PAKAI OTAK TAPI PAKAI HATI. Pelajari lagi tentang Sedekah BOSSSS..
Reply
August 21st, 2008 at 08:30
Bener boss ndak pakai otak tapi pakai hati. gitu aja susah.
Selama bibit padai di tanam di tanah ia akan tumbuh itu sama dengan sedekah.
Reply
August 25th, 2008 at 15:29
sendiko dawuh pak kyai
Reply
September 17th, 2008 at 14:33
Anda memang cerdas. Siip pak kyai!
Reply
September 24th, 2008 at 09:27
pak yai. sadar pak.. ..
Reply
November 3rd, 2008 at 12:01
sedekah dengan keikhlasan, tangan kanan memberi tangan kiri tidak mengetahuinya, nanti pahala ditahan lho..kalo udah ngasih kepalanya tapi buntut digendoli, tergantung niatnya bisa saya terjemahkan niat mantap mensedekahkan kepada siapa saja tanpa disertai rasa curiga untuk apa dan dikemanakan sesuatu yang telah saya berikan…jadi mantap sajalah..yah memang harus cerdas pak ..terimakasih
Reply
November 3rd, 2008 at 12:11
sedekah dengan keikhlasan, tangan kanan memberi tangan kiri tidak mengetahuinya, jangan gondeli buntutnya kalo kepalanya udah dikasihkan.. yang penting mantap memberikan apa saja kepada siapa saja..memang harus cerdas..terimakasih
Reply
January 29th, 2009 at 13:19
masakan lupa lg
Reply
April 4th, 2009 at 21:06
wah,,emang susah klo punya niat baik,, tp itu tantangan kok,,
adanya pengemis dlm arti benar2 pengemis dg yg bukan kita susah mbedain
tp dg adanya spt itu berarti msh ada ladang untuk kita bersedekah, dg catatan resiko ybs klo sdh memutuskan menjadi fakir ya akan difakirkan terus oleh Alloh SWT kecuali bertobat, jd walau ybs mo naik APV atau apapun tetap dlm hatinya kurus & tdk sebahagia dg orang yg tangannya di atas,
btw ,,mampir pak kyai..
Reply