Fatwa Golput, surga dunia atau surga akhirat?
Golput kembali menjadi bahan pembicaraan. Terlebih setelah Pilkada Jawa Barat dan Jawa Tengah yang dimenangkan oleh Golput alias golongan putih. Pilkada Jawa Barat yang menghasilkan pasangan Hade (Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf) berhasil meraup 7,3 juta suara, sedangkan golput mencapai 10 juta suara. Paling baru dan heboh di Jawa Tengah. Lagi-lagi Golput meraih kemenangannya.
Pertanda apakah ini? Apakah rakyat Indonesia sudah tidak lagi tertarik untuk menentukan nasib masa depan bangsanya sendiri? Ataukah rakyat sudah jengah oleh ulah sebagian besar [oknum] pejabat baik eksekutif, legislatif dan yudikatif? Apalagi dengan terbongkarnya berbagai rekaman video porno percakapan telepon yang memalukan itu.
Golput sendiri bukanlah barang baru. Sejak masa pemerintahan Soeharto pun sudah menjadi momok bagi pemerintah. Golput merupakan wujud protes atas ketidakberesan sistem pemerintahan yang telah ada. Juga merupakan suatu bentuk pilihan ketika dihadapkan pada pilihan calon-calon pemimpin yang dianggap kurang pantas. Golput oleh pemerintah Soeharto dianggap sebagai musuh bebuyutan.
Bukan hanya pejabat pemerintahan maupun [poli]TIKUS yang resah akan fenomena Golput. Orang-orang yang biasanya memakai sarung kini sibuk berkumpul untuk mengeluarkan fatwa tentang Golput. Terbaru, MUI se-Madura telah mengeluarkan fatwa bahwa Golput adalah haram. Golput sama dengan menyantap babi. Golput sama dengan meminum arak. Golput tidak ada bedanya dengan berzina. Golput tidak ada bedanya dengan nonton Maria Ozawa
Bahkan Megawati juga memberikan fatwa tentang Golput ini. Bagi anda yang Golput, maka anda harus melepaskan status WNI anda. Mungkin Megawati lupa Pemilu 1997 silam, dia pernah melakukan aksi Golput. Sudah insyafkah Megawati? Mungkin dia kini sudah dekat dengan para kyai yang sering berfatwa itu. Bagaimana dengan PKS. Berdasarkan fatwa Dewan Syariah Pusat Partai Keadilan Sejahtera maka Golput hukumnya haram.
Bagaimana dengan Gus Dur? Ah… silahkan buka google dan cari sendiri fatwa beliau?
Lalu pertanyaannya, bagaimana nasib saya dan orang-orang seperti saya ini. Saya sudah banyak dosa, takut nambah dosa lagi. Kalo boleh saya mengungkapkan pendapat maka fatwa hanya mengikat ke dalam saja. Fatwa PKS hanya untuk kaum PKS saja. Fatwa NU ya hanya untuk NU saja. Fatwa MUI Madura, ya hanya untuk kaum MUI Madura saja. Fatwa Megawati ya untuk kaum Megawati saja. Lalu saya ini kaum apa?
Saya malah cenderung curiga fatwa-fatwa yang baru-baru ini keluar tidak lepas dari permainan lendir politik. Apakah fatwa tersebut berkonsekuensi dengan surga yang kekal di akhirat kelak? Atau hanya surga dunia saja. Entah surganya Bulyan Royan atau surganya Al Amin Nasution. Mungkin suatu saat nanti akan ada iklan di google ads atau kumpulblogger berbunyi “DIJUAL FATWA MURAH, Hubungi Kyai Slamet“
Wallahu ‘Alam…
Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!





July 16th, 2008 at 19:51
yang mana lebih haram mas memilih orang untuk berbuat dosa kepada banyak orang (korupsi) ataukah memutuskan untuk GULPUT alias tidak mau memilih calon kandidat ???
klo saya sih mending enggak mau memilih aja
Reply
LeOden reply on July 19th, 2008:
Aku yakin yang namanya kyai itu pasti nyoblos soale takut dosa, dan malah maunya nyoblos ga hanya satu, kalo bisa dua.. tiga.. atau ampat… sekaligus. ‘Tul ga Kyai Slamet….
Reply
July 16th, 2008 at 20:11
karena saya butuh pemimpin, sedangkan tak ada pemimpin yang lahir dari dunia golput, maka saya tidak akan golput di PEMILU 2009 nanti…
—kecuali kalo saya ketiduran seperti pemilu 4 tahun lalu—
Reply
July 16th, 2008 at 20:22
kalau saya lihat dari sudut pandang rakyat, rakyat sudah sering dikecewakan oleh pemerintah.. rakyat juga berfikir tidak ada untungnya jika memilih (baca:mencoblos), karena yang terpilihpun belum tentu memikirkan nasib rakyat.. Janji-janji yang dulu sempat terucap kini tinggal janji.. haks..
Reply
July 16th, 2008 at 20:33
Jadi ini merupakan fatwanya kiyai selamet? kekeke
Reply
July 16th, 2008 at 21:50
wado..
tambah bingung nih..
Reply
latif reply on September 8th, 2008:
yoblos bagi saya justeru HARAM.. iso yo mas!
Reply
July 16th, 2008 at 22:53
kemaren mau nulis ini juga setelah lihat debatnya Budiman Sujatmiko dan Hermawan Sulistyo.
pertamax, “orang yang nggak datang” di hari H pencoblosan tidak bisa diklaim sebagai golput. mengapa? karena disitu termasuk orang-orang yang sakit, berhalangan, dan (yang paling banyak) orang yang bekerja di luar kota/pulau/negri.
keduax, saya (sebagai orang yang pernah golput) menghargai pilihan untuk tidak memilih. Tapi… dalam pemahaman saya, dulu ketika saya golput maka saya akan datang ke TPS dan mencoblos semua surat suara. Karena alasan yang pertamax di atas.
ketigax, saya minta fatwa kyai slamet (kok jadi kaya nama kebonya Kraton Solo)…. apakah saya yang memegang asas netralitas ini harus golput atau tidak.
Reply
July 16th, 2008 at 23:21
pilihan terbaik saat ini adalah tidak memilih ( bukan Golput heheh wong hitam kok saya ) karena belum saatnya saya belum pernah nyoblos karena ndilalah pas Alibi terus secara kebetulan mbah
kemarin pas pilkada jateng pas di palembang buru tupai ( golek mener hiks )
jadi kalo fatwa yang itu itu sih biasa ( saya nggak masuk golongannya )
kalo fatwa mbah kyai slamet gimana …….( golongan Blogers )
melu surganya para blogers aja deh……enak….nan
Reply
July 17th, 2008 at 01:55
Ahahaha, memberi fatwa, solusi yang bodoh…
Lagi-lagi dengan ancaman neraka. Tahu ndak? Tuhan aja lho Golput….
Reply
July 17th, 2008 at 02:44
saya sih cuma minta fatwa ke njenengan bagemana caranya “sluman slumun siluman slamet”
golput itu hak politik.
Reply
July 17th, 2008 at 02:59
segitu detailnya ya urusan surga dan neraka….
Reply
July 17th, 2008 at 08:13
saya golput.
Reply
July 17th, 2008 at 08:21
jangan lupa, golput itu juga termasuk memilih. “memilih utk tidak memilih”. perlu dihargai polihan politik semacam itu.
Reply
July 17th, 2008 at 09:21
Euuu, gak ada calon independen?
Reply
July 17th, 2008 at 09:40
“Golput tidak ada bedanya dengan nonton Maria Ozawa”
—> Mbah Slamet, Mbak Miyabi gak ikut-ikutan, kok disebut-sebut ? Sampeyan pengen diculik ama FBI toh ? hehehe
NB : FBI (Fans Berat mIyabi)
Reply
July 17th, 2008 at 09:58
saya ini orangnya ga tegaan…
liat gambar sedemikian banyak di kertas suara, perlu bahan baku yg tidak sedikit. belom lagi tinta, biaya distribusi, uang makan dan rokok buat nyebarin ke daerah-daerah. mangkanya saya coblos semuanya biar merata…
Reply
July 17th, 2008 at 10:02
Saya coblos AYUMI aja.. kalau KURANG PUWAS coblos sekalian HAMASAKI
Reply
July 17th, 2008 at 10:07
MUI se-Madura, Dewan Syariah Pusat Partai Keadilan Sejahtera, Megawati mengeluarkan “fatwa” bahwa Golput adalah HARAM ? Lah emang mereka TUHAN …!!! Sak enake udele dewe bikin aturan HALAL-HARAM …!!!
OK ini sedikit opini saya… GOLPUT itu juga termasuk MEMILIH. “memilih untuk tidak memilih”. Kita sebagai warga negara indonesia, yang notabene negara democrazy …ehm…demokrasi perlu menghargai pilihan politik seperti itu. Bisa saja orang yang golput itu karena pemilih tidak “sreg” dengan opsi yang disodorkan, pemilih pada saat pemilu / pencoblosan sakit / pingsan / Koma / tidak sadar diri, ketiduran, diluar negeri atau alasan-alasan lain yang membuat pemilih tidak dapat memberikan haknya sebagai pemilih untuk memberikan suara. Mau milih atau gak, itu HAK mereka. MUI, Partai, Presiden atau mantan presiden gak ada HAK buat NGELARANG…!!!
Tapi ada hal yang perlu diperhatikan, sampeyan GOLPUT atau gak, harus setuju dengan HASIL PEMILU-nya dan ikut menyukseskan hasil pemilunya. Jangan udah golput, gak milih, gak setuju ama hasil pemilu, bikin kerusuhan…!!! Kapan negeri ini maju…!!!
Sampeyan GOLPUT atau GAK GOLPUT, itu pilihan sampeyan, silakan…!!! Apapun yang sampeyan pilih itu HAK sampeyan. Tapi biar bagaimanapun, mari kita SUKSESKAN PEMILU 2009, semoga wakil-wakil rakyat, presiden dan wapres yang terpilih pada nantinya dapat memberikan pembaharuan di negeri ini.
Apabila dari hasil pemilu sebelumnya, ada suatu kesalahan, moga-moga dapat diluruskan, dan apabila ada yang baik semoga dapat lebih disempurnakan. amien
Reply
July 17th, 2008 at 10:47
selama gak ada calon yg menawarkan solusi & cara2 utk nyelametin bangsa ini, ya mending golput
Reply
CaNdLe reply on July 17th, 2008:
sebenernya buanyak yang nawarin solusi & cara2 itu. hanya saja mereka kebanyakan minum panadol setelah duduk di kursi. jadi kalo ditanya, mana bukti dari yang anda janjikan dulu? jawabnya, “sudah lupa, tuh!”
)
Reply
July 17th, 2008 at 12:22
Aduh, saya paling gak suka kalo orang menggunakan agama untuk kepentingan politik. Ini sangat kotor sekali. Fatwa haram untuk golput? kenapa gak mereka buat aja fatwa yang mengharamkan pilihan lain selain partainya? Misalnya saya punya partai bernama Partai Sosial Kerakyatan (PSK), trus saya keluarin fatwa “tidak mencoblos PSK (ehem, maksudnya memilih) adalah haram”. Coba, kenapa gak sekalian begitu saja???
Reply
July 17th, 2008 at 13:02
Sungguh fatwa MUI yang dikeluarkan serampangan seperti itu akan membuat tuntutan untuk membubarkan organisasi ini akan semakin santer. Tidak akan ada lagi kepercayaan umat terhadap organisasi ini. Bahkan yang lebih dikhawatirkan bahwa umat tidak lagi mendengarkan kaum ulama, akibat ulah segelintir orang di MUI ini.
Sungguh sebuah kezaliman menurut saya kalau MUI menghakimi kebebasan orang untuk tidak memilih sebagai sebuah tindakan haram dan menimbulkan dosa. MUI sudah kehilangan akal sehatnya.
Reply
July 17th, 2008 at 13:26
Sepertinya jaman makin kesini, semua bisa di buat ‘tailor-made’ dari amandemen undang-undang sampe ke fatwa yang memihak
Golput adalah sebuat gerakan perubahan, kalau mau disadari lebih lanjut. Tanda bahwa saking apatisnya khalayak akan apa yang terjadi serta muaknya publik pada sepak-terjang merea itu..
Namun disisi lain Golput bisa menjadi bumerang, kalau semua EGP, lantas siapa yang mau kemudian peduli? This would be a justified move for them to continue being such sontoloyo!!
Just a thought anyway..
PS: Aku baru balik dari berlibur setealh 3 minggu ngilang.
Reply
July 17th, 2008 at 13:31
hahahahaha juwal fatwa mungkin bisa nambah earning kali ya met,,hihhihih
Reply
July 17th, 2008 at 15:38
kalo seandainya golput sampek 50% apa ngaruh, mbah? nanti jangan-jangan cuma dapet 10% suara udah layak jadi pimpinan. kecuali kalo ada kuota sekian persen harus nyoblos, kalau tidak diulang lagi…. kalo gak sih aliran “kita” ini *halah* bakal ikut bertanggungjawab atas hasil pemilu mendatang.
Reply
July 17th, 2008 at 16:15
golput??
kadang penting juga sih jadi golput…
Reply
July 17th, 2008 at 16:33
Nggak golput dech..kha warga negara yang baik
Reply
July 17th, 2008 at 16:48
Kalo kita mau jujur terhadap sejarah. Ketika persoalan politik di bungkus dengan persoalan religiusitas, yang terjadi adalah tragedi kemanusiaan. Bagaimana para ilmuwan, sekelas galileo-galilei di “fatwa” tidak boleh mengajarkan sebuah teori Copernicus. Yang mengeluarkan fatwa tersebut adalah seorang Kardinal (pemuka salah satu agama di roma). Bahkan Penentangan terhadap fatwa tersebut, hukuman mati.
Ini hampir sama halnya dengan fatwa mengharamkan golput. Tetapi, semoga saja tidak terjadi tragedi kemanusiaan di sini akibat “kejeniusan” Golput.
Reply
July 17th, 2008 at 21:02
kalo saya belum tau nih mo golput or pilih yang mana, soal kurang ngerti perpoliik an
Reply
July 17th, 2008 at 21:23
dipetakan dong, baru pilih atau mau golput, terserah wong hak masing-masing asal jangan jadi golpit( golongan terjepit)
Reply
July 18th, 2008 at 06:31
coplos aja PBI partai bloger indonesia di sni
Reply
July 18th, 2008 at 09:14
GOLPUT ADALAH PILIHAN, INI ADALAH BENTUK PROFOKASI YANG DILAKUKAN UNTUK KEMENANGAN PADA PARTAI TERTENTU, JADI ADALAH WAJAR SAJA KALAU PARTAI ISLAM TIDAK PERNAH MENANG YANG KATANYA PENDUDUK INDONESIA MAYORITAS ISLAM.
DIHARAPKAN :
- JANGAN GOLPUT
- MENANGKAN PARTAI DA’WAH (ISLAM)
- JANGAN TERPENGARUH
Reply
July 18th, 2008 at 10:10
GOLPUT rasanya ttp gk di benerkan deh …
Reply
July 18th, 2008 at 10:26
wah ladang bisnis jual beli Golput menjanjikan nihh
)
Reply
July 18th, 2008 at 10:26
Lho kang…MUI kan memang produk politik, jadi ga usah bingung
Reply
July 18th, 2008 at 11:34
Reply
July 18th, 2008 at 14:35
Yang dipilih pada bejat semua…gimana mau percaya…..
Reply
July 18th, 2008 at 15:52
surga emang punya nenek moyang MUI??? bubarkan saja MUI. gak butuh…
Reply
July 18th, 2008 at 16:09
pak slamet bikin kaum sendiri aja, pengikutnya ya para fans blog ini
btw, kerenn… ‘kyai slamet’!
moga bila udah jadi kyai fatwa2nya bermanfaat bagi umat
Reply
July 18th, 2008 at 18:58
Fatwa ki opo to mas???
kalo ‘Taqwa’.. tahu artinya.
kalo ‘Tawa’… tahu juga..
kalo ‘Fatma’.. penghuni wisma moroseneng… langganan.
Reply
July 18th, 2008 at 21:03
ga bisa dipaksakanlah…mo golput ato ga semua pasti ada alasannya masing2
Reply
July 19th, 2008 at 21:09
Dikala pemilihan Presiden RI sudah Golput, Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pun masih Golput dan sekarang di Jatim “kebetulan barusan ngurus identitas dikota buaya” akan meng-GOLPUT’kan diri. Semoga GOLPUT di Jatim lebih banyak suaranya.
Golputkan suaramu.
Reply
July 19th, 2008 at 22:05
Golput nggak ya?
Reply
July 20th, 2008 at 10:41
wadoohhhhhhhh…..banyak lagi yang bakalan golput nih….
pusing saya , selama ini belum pernah ikutan nyoblos…
Reply
July 20th, 2008 at 12:56
Saya kurang setuju kalau golput dikatakan haram. Memilih pemimpin itu kan merupakan hak setiap warga negara, bukan merupakan kewajiban. Jadi kalau dia tidak menggunakan haknya, kan nggak apa-apa.
Salah satu faktor banyaknya golput, mungkin karena para pemilih tidak dibayar. Si tukang becak lebih senang menarik becaknya dan dapat uang ketimbang datang untuk memilih dan tidak mendapatkan apa-apa. Apalagi tidak mengubah nasib mereka.
Reply
July 20th, 2008 at 16:00
Klo nanti pada pilgub Jatim saya golput, adalah lebih dikarenakan hari pemilihan yang tidak cocok untuk para pemilih yang sudah tidak berada di kota tempat dia terdaftar sebagai pemilih.
Andaikan hari pemilihan diambil Jum’at atau Senin, mungkin masih bisa untuk ikutan nyoblos…
Reply
July 20th, 2008 at 20:58
wahh kalau saya nyarankan jangan Golput donk…
sebaiknya kita pilih pemimpin yang akan membawa negara ini lebih baik.
dan tidak lupa untuk berdo’a
Reply
July 20th, 2008 at 21:07
hoaaaammsss…
golput lagi..golput lagi.
ndak di TV, ndak di [maaf, ndak ada stasiun radio disini, jadi ndak jadi saya sebutkan di radio], di blog intranet, di surat kabar, banyak sekali yang membahas golput ini. insya Allah si saya nanti 2009 ndak akan golput. Allohuma nyoblos, kalau kata temen. Ndak seperti pemilu 4 tahun lalu yang sengaja golput, karena saya dipaksa didaftarin sama bapak. Lha wong saya masih 16 tahun waktu itu kok sudah didaftarin, ya saya ndak mau nyoblos. nah insya Allah kan 9 bulan lagi, setelah persetubuhannya Indonesia sama para parpol itu, saya akan milih! nyoblos!
nyoba nyari tahu, sperma dari parpol mana yang berhasil membuahi ovum-nya Indonesia 9 bulan lagi…
hihihi
Reply
July 21st, 2008 at 07:22
joblos gag ya? wah ntar deh klo udah punya sim *loh*
Reply
July 21st, 2008 at 12:32
ajib dah… pake acara fatwa ya… ini ada kaitannya politik gak ya… wekekek
Reply
July 24th, 2008 at 11:44
HIDUP GOLPUT
Saya ndak mau nambahin dosa terhadap orang-orang yang saya pilih, karena mereka tidak menjalankan amanat yang saya titipkan.
Hasil quick account LSI 40,95% pemilih PILKADA JAwa Timur GOLPUT, termasuk saya
Reply
July 24th, 2008 at 11:50
Golput gak golput, yang penting NKRI tetap NKRI tul gak?
Reply
July 25th, 2008 at 07:16
Golput atau Golblos, tetap WNI tho pak
Reply
July 25th, 2008 at 08:17
Saya mau beli fatwa, dimana ya?
Reply
July 27th, 2008 at 14:15
yang penting jangan ada pemilihan yang menggunakan sistem voting musti dirubah
Reply
August 16th, 2008 at 23:52
Hidup Golput Bozz!!!, Maju Perut pantat mundur,, Merdeka!!!!
Reply
August 18th, 2008 at 20:10
Aku golput sejak tahun 1977
Reply
October 31st, 2008 at 19:06
“Golput tidak ada bedanya dengan nonton Maria Ozawa
”
Yang beginian belum ada kan Fatwanya…. :ngacir:
Reply
December 13th, 2008 at 21:54
Kalau gua disuruh milih minum racun atau terjun ke jurang, gua akan memilih untuk tidak memilih.
Persetan dengan mereka yang mengatas-namakan agama untuk segalanya.
–Dan
Reply
December 22nd, 2008 at 01:55
[...] 3. Fatwa haram golput [...]
December 26th, 2008 at 15:32
masih mending kyai daripada golongan hitam
Reply
January 6th, 2009 at 08:34
KESAN: wah ini tenan, kalo lagi baca ki bloger kaya lagi melantunkan lagu IMAGINE “hidup tanpa batas / no heaven” tapi tetep pakai sopan santun, wah apik tenan, sederhana, lugas. wah top tenan pokoke, salam buat kyai Slamet, “simbolis keslametan bagi wong Solo” mlaku urip koyo Kyai Slamet “Kebo Bule” makna yang tersirat cukup dalem, gak cokop dikupas no kene, salam sejahtera buat semua,
PESAN: Urip Sejati sebaiknya mendengarkan Suara Hati, BEDA —- kehendak Hati / Jiwa (selalu-Suci) atau kehendak Akal (sering akal-akalan / ngakali ujung nya masuk bui) he-he-he
Thanks, Ki Roso
Reply
January 6th, 2009 at 08:50
sory sengaja dibelokin ke kyai slamet, >>>jaman Blanda gak ada GOLPUT dan Belanda kaya raya dari hasil mengelola Negara INDO-Blanda, nah sekarang banyak GOLPUT karne yang kaya Pejabat (Executive + Legislative) Pengelola NUsantara/Indonesia, GOLPUT terserah anda, Haram Urusan ulama, asyiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
Reply
January 13th, 2009 at 09:45
oyi,,
golput aja wez biar pemimpinnya nanti tambah amburadul,,,
makanya kenali calonnya,,,!!!!
jangan cuma kata orang aja,,
masak mau kaya kambing bloon yang mau ditarik sana sini,,,
pilih yang berlandaskan islam,,
karena islam adalah rahmatan lil ‘alamin,,
Reply
January 26th, 2009 at 12:35
Nauzubillah min dzalik, halal haram jadi bahan permainan. Saya ingat sejarah andalusia, waktu umat silam di ujung kehancuran sebelum dibantai, kondisinya, menurut beberapa tulisan dan artikel sejarah, mirip saat ini. Ingat hadist yang bilang : mendekati akhir zaman, gembala domba bermewah2 di istana yang megah (teksnya bener gak ya, ini bahasa bebas aja ya, sebab gw bukan penghapal hadist, intinya aja). Yang mimpin umbar angkara murka, menindas pada rakyat, semua aturan2 yang dibuat nyengsarain rakyat. Yang ulama umbar kebodohan sehingga hilang legitimasi keulamaannya. Mereka bukan orang bodoh dalam arti ‘bloon’, mereka sekolahan, tapi ‘jahiliyah’, mirip jaman nabi dulu. Orang jaman nabi bukan orang bego, primitip, tolol, tapi justru dalam puncak kefasihan satra, tapi disebut jaman jahiliyah. Mirip jaman sekarang, beda dengan jaman 45 banyak yang ‘buta huruf’ tapi gak buta akal, tapi sekarang banyak yang melek huruf tapi buta akan dan nurani. Lihat aja UU yang dikelauran dpr, uu migas, uu bhp, dll, gak berpihak ke rakyat. Rakyat kecewa milih mereka 5 tahun lalu, apatis, yang diharapkan akan bela hak mereka dan masa depan anak2 mereka, malah dikhianati. Orang2 dpr orang2 pinter, jago bersilat lidah, kalo dikritik atau rakyat ungkap kekecewaan, mereka punya sejuta kata dan kuasa untuk puterbalikkan, dengan duit mereka bikin iklan untuk tipu rakyat. Rakyat yang gak punya kuasa selalu kalah, akhirnya gak percaya lagi pada politisi yang cuma ‘ambil hati’ waktu kampanye, setelah itu, geriliya untuk kepentingan sendiri. Nah lucunya, lagi2 kekecewaan rakyat itu bukan jadi perhatian, istilahnya orang lg ngambek itu minta dirangkul dan dihibur, malah diancam dengan fatwa masuk neraka (mengerjakan yang haram) karena kecewa gak mau milih lagi dpr yang mengkhianati mereka. Dalihnya, rakyat bertanggung jawab pada kepemimpinan nasional, kalo gak milih maka berarti ‘hancurkan’ negara.
Wahhh hebat banget ya, rakyat yang gak berdaya lagi2 disalahkan dan diminta bertanggungjawab untuk masa depan bangsa dan negara. Bukankah itu dominan tugas pemerintah dan dpr mikirkan masa depan bangsa dan negara karena mereka yang pegang kekuasaan?? Kenapa gak mereka yang disalahkan yang seharuskan punya kemampuan untuk bela pemilihnya yang difatwa haram karena cuma mentingin diri sendiri??? Kenapa gak dpr yang difatwa haram karena gak mikirin masa depan bangsa ini?? Bagaimana gak hancur bangsa ini karena punya pemimpin negara penuh angkara murka dan ulama yang gak cerdas.
Reply
January 27th, 2009 at 00:38
Haram kalo kita tidak berhukum kepada hukum ALLAH, syariat Islam. Bagaimana golput bisa haram, sedangkan dasar negara aja tidak berdasar Alquran dan hadist. gimana ummat islam dapt jaminan bahwa calon pemimpin itu pantas dan tidak suka menipu,mementingkan golongannya saja jika sistim hukumnya saja bukan sistim islami. Gimana tidak muak melihat perilaku moral pemimpin, anggota dewan dll. sepanjang tahun kita disuguhi berita abmoral, anggota dewan korupsi tidak hanya sendiri tapi berjamaah,anggota dewan selingkuh. Kerusuhan ditiap pilkada daerah….ribut melulu. Negeri ini sudah sampai kepada tahap memuakkan….
sekarang malah ngajak semua orang islam….PARAH MUI…sistim kita yang perlu diperbaiki. dan pemimpin perlu mendapat pelajaran dari rakyat….biar tau bahwa mereka itu fungsinya pelayan bukan BOSS.
MARI KITA GOLPUT
Reply
January 27th, 2009 at 10:51
FATWA HARAM GOLPUT,…. serem dengernya tapi lebih serem lagi kalau dipaksa harus memilih tapi yang dipilih malah menyusahkan bangsa, apakah kita yang memilih jadi ikut berdosa….. PEMIMPIN YANG KORUP, BERZINA LEBIH HARAM DARIPADA GOLPUT,…BOZ MUI COBA KERJA MASIH BANYAK DINEGARA INDONESIA TERCINTA INI, YANG TIDAK MENCINTAI INDONESIA, KORUPSI MENGHANCURKAN,…. KERJA BOZ…. jelaskan mengapa, kenapa, GOLPUT itu HARAM !!!!!
Reply
January 28th, 2009 at 05:53
MUI rupanya telah jatuh pada pelanggaran QS. Al-Nahl: 116(”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan atas nama Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan atas nama Allah tiadalah beruntung.”)
Kenapa demikian?
Karena MUI tlah mengeluarkan fatwa yang Syadz (ganjil), menyelisihi Al-Qur’an, As-Sunnah dan jumhur ulama salaf.
BAGAIMANA TIDAK?
Sistem demokrasi yang berasal dari barat -yang notabene kafir- dipaksakan untuk diwajibkan kepada kaum muslimin.
Coba MUI belajar dari QS. Al-Baqarah:246-248. Pemilihan Raja Thalut diserahkan kepada seorang Nabi dari Bani Israil. Seandainya ketika itu diadakan pilpres/pilraja secara langsung, maka Thalut tidak akan menjadi raja karena mayoritas Bani Israil tidak menghendakinya. Tetapi tugas memilih seorang pemimpin itu dibebankan kepada Nabi atau yang mewakilinya yaitu para ulama dan cerdik cendekia bukannya dibebankan kepada masing-masing individu masyarakat awam yang di antara mereka ada yang pelacur, pemabok, penjudi, perampok dsb.
Insya Allah komentar kami akan dilanjutkan!!!
Reply
January 28th, 2009 at 08:39
Dengan fatwanya yang ‘mengharamkan golput’, MUI telah melanggar banyak ayat Al-Quran.
DEMOKRASI yang didukung oleh MUI dengan fatwa golputnya berlandaskan pada suara mayoritas. Siapa yang didukung oleh suara terbanyak itulah yng menang, tidak peduli apakah ia adalah penyembah berhala, pemabuk, penjudi atau ateis dsb.
Padahal ALLAH SANGAT MENCELA MAYORITAS MANUSIA dan MEMUJI MINORITAS
MAYORITAS MANUSIA ADALAH SESAT, Allah berfirman: “Dan jika kamu mengikuti mayoritas orang yang ada di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta kepada Allah.” (QS. Al-An’am: 116).
HANYA MINORITAS MANUSIA YANG BISA BERSYUKUR. Allah berfirman: “Dan sedikit sekali di antara hamba-KU yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13).
MAYORITAS MANUSIA adalah BODOH TERHADAP HAKIKAT KEBENARAN, Allah berfirman: “Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (kebenaran).” (QS. Al-A’raf: 187, QS. Yusuf: 21).
MAYORITAS MANUSIA adalah TIDAK BERIMAN KEPADA ALLAH, Allah berfirman: “Dan sebagian besar manusia tidaklah beriman -walaupun kamu sangat menginginkannya.” (QS. Yusuf: 103).
Allah berfirman: “Dan sebagian besar mereka tidaklah beriman kepada Allah melainkan dalam keadaan mempersekutukan-NYA (berbuat syirik).” (QS. Yusuf: 106).
MAYORITAS MANUSIA ADALAH PENGHUNI NERAKA. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya KAMI jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan jin dan manusia. Mereka memiliki hati tetapi tidak dapat digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka memiliki mata tetapi tidak dapat digunakan untuk melihat (kebesaran Allah), dan mereka memiliki telinga tetapi tidak dapat digunakan untuk mendengar (peringatan-peringatan Allah). Mereka adalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat dan mereka adalah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179).
MAYORITAS MANUSIA ADALAH KORBAN “IBLIS”
Iblis -semoga Allah melaknatinya- berkata di hadapan ALLAH: “Kemudian saya akan mendatangi mereka (anak cucu Adam) dari depan mereka, dari belakang mereka, dari sisi kanan mereka dan dari sisi kiri mereka. Dan ENGKAU tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat kepada-MU).” (QS. Al-A’raf: 17)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang akan dilanggar oleh MUI jika tetap mengharamkan golput dan mengajak kepada demokrasi.
Insya Allah akan dilanjutkan lagi!!!
Reply
January 28th, 2009 at 11:26
Jika memang karena ketakutan mempunyai pemimpin yang tidak islami n sekuler, harusnya MUI lebih jelas mengeluarkan fatwanya. misal: HARAM HUKUMNYA MEMILIH PARTAI SEKULER DAN PARTAI YANG TIDAK BERLANDASKAN ISLAM!
hayo, brani nggak mereka?
Reply
January 28th, 2009 at 16:49
Selain itu dengan fatwanya itu, MUI telah mencampuradukkan antara al-haq (kebenaran) dan kebatilan.
Di dalam pesta demokrasi suara ulama dihargai sama dengan suara penyembah berhala. Suara seorang wanita yang baik-baik setara dengan pelacur. Suara laki-laki setara dengan suara perempuan. Suara seorang profesor disamakan dengan suara tukang becak. Suara seorang ahli ibadah dihargai sama dengan suara seorang perampok, penjudi dsb.
ALLAH tidaklah mengajarkan PERSAMAAN tetapi mengajarkan KEADILAN. ADIL adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Masing-masing ulama, profesor, pelacur dsb memiliki hak dan kewajiban yang berbeda sesuai dengan kedudukannya.
Allah berfirman: “Apakah orang-orang yang beriman itu sama dengan orang-orang fasiq? tidak sama.” (QS. As-Sajdah: 18).
Allah juga berfirman: “Dan tidaklah sama antara orang yang buta dengan orang yang bisa melihat. Dan tidak pula sama antara kegelapan dan cahaya.” (QS. Fathir: 19-20).
Allah juga berfirman: “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang berakallah yang bisa menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9).
Allah juga berfirman: “Patutkah KAMI menganggap orang-orang yang beriman dan beramal saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah pula KAMI menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” (QS. Shaad: 28).
Allah juga berfirman: “Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga. Penghuni-penghuni surga adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 20).
Ibundanya Maryam (Istri Imran) berkata: “Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (QS. Ali Imran: 36).
Allah berfirman: “Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan.” (QS. An-Nisa’: 32).
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang berseberangan dengan fatwa MUI.
Seharusnya MUI mengeluarkan fatwa yang berkualitas yang merupakan cerminan dari Al-Quran dan As-Sunnah.
Sampai hari ini kami menunggu dan belum membaca teks resmi dari fatwa MUI tentang haramnya golput berikut landasan argumentasinya.
Kami bersedia beradu argumentasi dengan tokoh-tokoh MUI dengan tujuan mencari kebenaran dan tidak saling menjatuhkan.
Jazakumullah khairan katsiran kepada Mas Slamet pemilik blog ini.
Reply
January 29th, 2009 at 10:37
apik-apik aljununu Fununu ( wong edan ki pancen meneko warno)
nek podho bingun bukao http://www.lidahwali.com wae
maturnuwun.
Reply
January 31st, 2009 at 08:07
pada dasarnya semua halal, kecuali yang diharamkan…
*yang merasa bahwa MUI tidak berhak menentukan halal haram, ya nggak usah ikuti fatwa MUI* gitu aja kok repot…
Reply
January 31st, 2009 at 13:59
menurut dhie sih gak masalah ya kalo urang tuh mau golput ato gak.,mau dibuat fatwa haram juga dhie gak masalah.,
dhie juga akan golput kok nanti pas pemilu,.dhie kan gak merasa yakin bahwa ada pemimpin baik diluar sana.,
pan fatwa na mengatakan kalo golput haram jika gak ada pemimpin yang baik, so karena dhie melihat gak ada pemimpin baik diluar sana jadi dhie gak akan memilih alias GOLPUT.,
Reply
February 6th, 2009 at 09:14
Hah… Bang Kritikus cuma bisa nulis di Sekali Lagi Tentang Fatwa Haram Golput MUI, Pandangan Kritis Seorang Yang Sedang Mendalami Islam. Semoga bermanfaat
Reply
February 20th, 2009 at 11:38
Andaikan sebagian rakyat indonesia tidak memilih alias golput, pemilu akan tetap jalan. Berarti cuma ada separuh rakyat indonesia yang memilih. Lha klo separuh pemilih itu adalah golongan pemilih yg buruk atau memilih krn dibayar calegnya atau alasan buruk lainnya..berarti kelak PEMIMPIN yang terpilih di indonesia adalah pemimpin buruk rupa.
Sodara2 kita dari salafi, hizbutahrir dan tak ketinggalan gusdur jauh2 hari menyatakan golput.Bagaimana umat islam mendapat pemimpin yg dpt memperjuangkan nasib umatnya bila umat islam sendiri golput dan malah saling cakar2an dan adu dalil antar sesama umatnya.
Keresahan ini ditangkap MUI sebagai wadah para ulama.Para ulama lebih berfikir rasional global dan tidak berfikir parsial/ memikirkan diri sendiri. Namun masih banyak teman2 kita masih sering menertawakan ulamanya sendiri.
Saya bukan caleg atau sodara saya caleg, tapi mari kita berpikir kedepan. coba teliti lagi dari 11.800 caleg, tidak adakah yang baik atau minimal keburukannya sedikit ketimbang kebaikannya. Pilihlah yang amanah, jujur,aktif aspiratif dll.
trimakasih, baca ulasan saya di di blog saya
Reply
March 31st, 2009 at 17:35
Ilmu sebab dan akibat akhirnya berlaku di dunia Politik. Akibat Nila setitik akhirnya rusak susu sebelanga. Karena banyak rusaknya ahklak dan perilaku anggota DEWAN (DPR dan DPRD) baik di Pusat maupun di Daerah, juga banyak disakitinya perasaan rakyat banyak. Misal yg paling gampang diingat adalah Berlarut-larut pemberian kompensasi pengganti Dampak Lumpur LAPINDO, Penggusuran rumah-rumah rakyat, penggusuran pedagang kaki lima atau kekerasan Aparat penegak hukum kepada rakyat/mahasiswa. Juga kenaikan harga BBM dan harga barang-barang juga membuat masyarakat muak dan jenuh akan para politikus. Sebelum terpenuhi mereka berjanji, tebar pesona agar bisa masuk gedung SENAYAN, namun setelah terpilih, dicampakannya rakyatnya bak tidak ada masalah-masalah penting. Mereka kalkulasi elmu hukum ekonomi, Berapa sudah biaya yg sudah saya keluarkan untuk kampanye dan berapa yg harus saya obyekan kasus-kasus sesuai pesanan. Lagu lama, dan benar kalau mendengar lagu SLANK tentang Parlemen Jalanan. Itu semua adalah cikal bakal orang apatis terhadap Politik dan akhirnya cenderung ogah milih wakil rakyatnya. Disitu asal muasal Golput terjadi. Semoga saja teman-teman di blog, sahabat-sahabat saya di Partai Politik, pengusaha dan kalangan seniman tidak berpikiran untuk Golput. Cintailah negeri ini seperti mencintai diri sendiri. Golput bukan memecahkan masalah bangsa dan negara, namun akan menjerumuskan kedalam jurang kehancuran yang dalam. Pilih saja, satu wakil anda diantara wakil rakyat yang anda suka. Terserah mau milih yang agamais, nasionalis ataU KERAKYATAN. Suka-suka aja, coy, namun asal jangan GOLPUT. Mari kita optimis saja menghadapi kondisi negara, ditangan anda rakyat Indonesia kelangsungan dan kehidupan bernegara ini berjalan. By.Nurdjaedi (Sekjen Partai Nata Negara – Jakarta).
Reply
April 1st, 2009 at 16:08
insya Allah milih ah..
dikasih kesempatan milih yo milih, daripada dipimpin ditaktor he.. he..
yah manusia, kadang emang suka yang gak boleh. dikasih lampu merah, dilanggar. dibilang satu arah dilanggar. disuruh milih, gak mau. gak boleh milih, marah2.
yang penting peace man…
Reply
June 3rd, 2009 at 14:18
[...] Fatwa Golput, surga dunia atau surga akhirat? (79) [...]
December 31st, 2009 at 20:13
Hello!
no prescription blue 30mg phentermine , cialis switzerlan , correct dosage for phentermine , cialis same as tadalafil , viagra without prescription ,
Reply