Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo adalah seorang warga negara Republik Indonesia


Archive for July, 2008


Pembicaraan bisnis tingkat tinggi…

Seorang anggota DPR dan pejabat daerah sedang terlibat dalam pembicaraan mesum bisnis.

Pejabat : “Pak, bagaimana barang segera akan saya kirim?”

Anggota DPR : “Ahh.. barang yang mana? Yang putih itu kan sudah pernah saya pakai. Yang lain dong!”

Pejabat : “Emang kenapa pak dengan yang putih?”

Anggota DPR : “Ah gak mau… Sudah bocor semua, dalemannya kendor, gak mencengkeram.”

Pejabat : “Lalu bapak maunya yang kayak gimana?”

Anggota DPR : “Saya pingin yang bisa dangdutan!”

Pejabat : “Oh, kalau yang bisa dangdutan, saya ada stok. Tapi sudah pernah dipakai sama teman bapak.”

Anggota DPR : “Teman saya? Teman yang mana?”

Pejabat : “Itu yang kemaren ketangkep basah pas lagi naikin… si Yahya Jonet.”

Anggota DPR : “Ah.. yang itu. Gak mau! Dalemannya sudah bau, jorok! Warnanya item lagi! Gak menarik! Saya cari yang dalemannya masih kenceng, bersih, harum dan warnanya merah!”

Pejabat : “Lho bapak pernah makai juga yang itu? Kok bapak tahu!”

Anggota DPR : “Ah, kamu ini macam gak tahu aja! Kami sering makai rame-rame! Terakhir saya naikin pas di Puncak Bogor.” Read More

Mendadak pindah agama…

Sebelum membaca lebih jauh, hendaknya anda memahami bahwa tulisan ini adalah kisah nyata. Tulisan ini tidak ditujukan untuk membangkitkan gairah sentimen sarah azhari. Selamat menikmati…

Suatu pagi menjelang Subuh, kami berempat yang kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang beristirahat di sebuah masjid. Rasa lelah, kantuk dan dingin bercampur menjadi satu. Kami pun bergelimpangan untuk sedikit memejamkan mata mengobati rasa lelah dan kantuk itu.

Lantai masjid yang terbuat dari keramik tanpa lapisan karpet membuat dinginnya pagi semakin menusuk kulit. Suatu langkah cerdas dilakukan oleh seorang teman kami, Sah. Sah dengan sigap menuju tempat wudhu dan dengan mantap melenggang ke dalam masjid. Dia tahu, hanya bagian depan mimbar saja yang berlapis karpet. Maka dengan khusyu’ Sah melakukan aksi i’tikafnya. Entah apa yang dilakukan sebenarnya. Tidur, mungkin.

Kami bertiga yang tersisa di luar harus berjuang menghadapi rasa dingin. Tanpa terasa saatnya adzan dikumandangkan. Seorang bapak mengingatkan Sah untuk membangunkan kami bertiga yang masih terlelap. Saya, Agus dan Tasman pun bangun walau agak terpaksa. Dengan langkah masih gontai, saya dan Agus menuju tempat wudhu. Sedangkan Tasman dengan santai malah menyalakan rokoknya dan melenggang keluar masjid.

Bapak tadi pun menjadi bertanya-tanya, “Mas, teman satunya itu kok nggak sholat?”. Sah pun kebingungan harus menjawab apa. Tidak mungkin dia menjawab, “Dia lagi capek, pak” atau “Dia lagi mens, pak”. Jawaban seperti ini malah akan menimbulkan serangkaian pertanyaan dan mungkin pernyataan dari sang bapak. Beruntung Sah memiliki otak cerdas, dengan mantab menjawab, “Oh, teman saya itu Kristen, pak”.

Read More

Pengkhianatan Pak Pos…

Sering saya melihat sosok pejuang tangguh berjuluk Pak Pos. Berjaket tebal dengan sarung tangan dan masker serta helm melaju diantara ganasnya lalu lintas kota. Entah kepada siapa sebutan itu diberikan? Apakah kepada semua pekerja di PT Pos Indonesia atau hanya mereka yang mempunyai tugas mengantar surat atau paket saja. Panggilan Pak Pos begitu melegenda, sampai sekarang di jaman emansipasi ala Dewi Persik, belum pernah terdengar ada panggilan Bu Pos. Entah mengapa? Ataukah saya yang bertelinga patriarkhi sehingga tuli akan istilah yang agak feminim?

Sosok Pak Pos benar-benar sosok pahlawan [juga] tanpa tanda jasa. Entah berapa banyak air mata dan tawa dipertemukan melalui bantuannya. Ketika belum ada telepon, si cantik akan sering berdebar-debar di balik jendela rumah, melongok dan menunggu kedatangan Pak Pos. Bukannya si cantik sedang menjalin asmara dengan Pak Pos, namun surat si ganteng di seberang pulau yang dinantinya.

Jaman berubah, teknologi berkembang pesat. Pak Pos semakin tergerus laju modernisasi. Berkirim surat kini hanya [mungkin] sebatas melamar kerja saja. Bertanya kabar? Ah terlalu mengada-ada untuk jaman sekarang. Layanan serupa dengan Pak Pos pun semakin banyak, beradu untung dan beradu pelayanan tentunya.

Jaket lusuh dengan wajah kumal terkena debu jalanan tergambar jelas di wajah Pak Pos. Sungguh pekerja tangguh. Nyawa menjadi taruhannya ketika harus berhadapan dengan konvoi motor besar dan juga motor kecil yang arogan. Semua demi satu kata! Pengabdian. Baik pengabdian kepada perusahaan, konsumen, keluarga dan bahkan bangsa.

Namun kini Pak Pos telah dikhianati. Kejam! Ketika pengkhianat itu adalah rekannya sendiri. Rekan beda nasib. Rekan beda kedudukan. Sungguh tega nian mereka. Teringat wajah lelah Pak Pos ketika mengantarkan surat cinta dari BNI pagi tadi…

Gambar diposkan dari sini!

Ayat-ayat kampanye…

Di sebuah kampung yang bernama Gunung Kembar, terdapat seorang kyai yang cukup disegani. Kyai ini menjadi panutan dalam segala bidang oleh penduduk kampung. Bahkan untuk urusan politik, sang kyai mendapat tempat yang sangat strategis. Segala omongan kyai entah benar atau salah selalu menjadi acuan semua warga kampung. Tidak ada protes, tidak ada ruang diskusi.

Menjelang Pilkada, sang kyai menjadi tokoh paling dicari. Bukan sebagai calon pesakitan, bukan sebagai target operasi. Namun menjadi keharusan bagi semua kandidat untuk meminta restu dari sang kyai. Jangan heran apabila televisi, koran hingga blog menyajikan tulisan dan tentu foto para kandidat sedang berpose mesra dengan sang kyai.

Pilkada kali ini diikuti oleh 4 pasang calon, yaitu :

1. ASU - Artalita dan Sukat

2. ANCUK - Andi dan Cucuk

3. ADIL - Adi dan Kunyil

4. MELU - Memed dan Luki

Sang kyai pun telah memutuskan untuk memberi restu kepada pasangan ADIL. Entah mengapa sang kyai begitu suka dengan pasangan ini. Konon jumlah sumbangan pasangan ADIL jauh lebih besar dibandingkan pasangan lainnya. Bukan saja uang tunai, batu bata, semen dan pasir telah disumbangkan untuk sang kyai. Bukan hanya sumbangan biasa, namun sumbangan dengan banyak harapan. Termasuk do’a dan dukungan, mungkin juga fatwa.

Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2008 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress.
27 queries. 0.311 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.