Pembicaraan bisnis tingkat tinggi…
Seorang anggota DPR dan pejabat daerah sedang terlibat dalam pembicaraan mesum bisnis.
Pejabat : “Pak, bagaimana barang segera akan saya kirim?”
Anggota DPR : “Ahh.. barang yang mana? Yang putih itu kan sudah pernah saya pakai. Yang lain dong!”
Pejabat : “Emang kenapa pak dengan yang putih?”
Anggota DPR : “Ah gak mau… Sudah bocor semua, dalemannya kendor, gak mencengkeram.”
Pejabat : “Lalu bapak maunya yang kayak gimana?”
Anggota DPR : “Saya pingin yang bisa dangdutan!”
Pejabat : “Oh, kalau yang bisa dangdutan, saya ada stok. Tapi sudah pernah dipakai sama teman bapak.”
Anggota DPR : “Teman saya? Teman yang mana?”
Pejabat : “Itu yang kemaren ketangkep basah pas lagi naikin… si Yahya Jonet.”
Anggota DPR : “Ah.. yang itu. Gak mau! Dalemannya sudah bau, jorok! Warnanya item lagi! Gak menarik! Saya cari yang dalemannya masih kenceng, bersih, harum dan warnanya merah!”
Pejabat : “Lho bapak pernah makai juga yang itu? Kok bapak tahu!”
Anggota DPR : “Ah, kamu ini macam gak tahu aja! Kami sering makai rame-rame! Terakhir saya naikin pas di Puncak Bogor.” Read More
Slamet Widodo adalah seorang warga negara Republik Indonesia
Sering saya melihat sosok pejuang tangguh berjuluk Pak Pos. Berjaket tebal dengan sarung tangan dan masker serta helm melaju diantara ganasnya lalu lintas kota. Entah kepada siapa sebutan itu diberikan? Apakah kepada semua pekerja di PT Pos Indonesia atau hanya mereka yang mempunyai tugas mengantar surat atau paket saja. Panggilan Pak Pos begitu melegenda, sampai sekarang di jaman emansipasi ala Dewi Persik, belum pernah terdengar ada panggilan Bu Pos. Entah mengapa? Ataukah saya yang bertelinga patriarkhi sehingga tuli akan istilah yang agak feminim?





