Pesona kuliner rakyat jelata di Tuban…
Tuban, sebuah kota kecil di pinggiran Jawa Timur menyimpan berbagai warisan pusaka kuliner yang layak untuk dibanggakan. Sebagai panitia lomba, saya harus bisa memberikan suri tauladan yang baik bagi ummat. Suri tauladan tentang wisata kuliner rakyat jelata. Ya, rakyat jelata pun berhak untuk memanjakan lidahnya. Sekali waktu mereka pun harus berwisata kuliner. Tentu tidak restoran atau hotel mewah, cukup warung sederhana di ujung desa yang menjadi tujuannya. Justru disitulah kita bisa dapatkan banyak hal tentang hidup. Mulai rasan-rasan tentang melambungnya harga BBM hingga ketidakberesan penguasa lokal. Yang terbaru di Tuban, apalagi kalau bukan SPBU yang “diduga” milik suami Bupati Tuban yang seorang pengusaha ituh… menimbun solar. Hahahahaha….
Di warung ndeso itu pula kita akan melihat sosok-sosok pejuang tangguh yang sedang melepas penat, melepas kegelisahan hidup. Namun, di warung ndeso itu pulalah kita akan menyaksikan ketegaran dan semangat juang yang tinggi. Mereka lebih mulia daripada bupati para obligor dan legislator yang suka berpose mesum ituh…
Hari Minggu ini, saya dan beberapa rekan berkesempatan untuk bertandang pada sebuah warung ndeso. Warung yang terletak di Desa Nambangan Kecamatan Semanding ini menyajikan menu khas Tuban. Wong Tuban paling doyan yang hot-hot alias pedasss. Mbak Mendol pun mengakuinya. Menu apalagi yang disajikan warung ini? Belut, mentok, bekicot, kodok, puyuh, cingur sapi dan lele. Semua dijamin pedas. Lalu minumannya apa? Seperti biasa, toak dan aneka minuman halal dan haram lainnya. Ya blogger itu jujur! Tuban memang seperti ini. Toak merupakan sebuah sarana penjalin persatuan dan kesatuan bangsa.
Seperti biasa pula, kami pasti datang kesiangan, maklum pagi harinya kami mengikuti jalan sehat yang diadakan oleh sebuah operator telekomunikasi seluler. Kami datang selepas adzan dhuhur berkumandang. Hasilnya menu yang tersisa tinggal bekicot, kodok dan cingur sapi. Tak apalah, kami telah siap jiwa dan raga untuk mencicipinya. Hmmmm…
Bekicot diolah menjadi bekicot goreng basah pedas. Lagi-lagi saya harus memberikan nama versi saya sendiri. Paling tidak agar anda mampu membayangkan bagaimana wujud olahan bekicot dari warung ini. Wow.. porsinya benar-benar porsi kuli alias buanyuak buanget. Bagaimana rasanya? Hmmm…kenyal namun tak begitu liat dan yang paling heboh pedasnya terasa.
Cingur sapi alias mulut atau bibir sapi dimasak becek. Kuah santan kuning namun tidak terlalu kental diiringi oleh gigitan rasa pedas yang menggelora. Cingur sapi bukan lagi barang yang keras dan liat namun telah berubah menjadi sosok yang lembut dan empuk. Uhhh ahhhh ahhhh uhhhh pedasnya gak ketulungan.
Kodok juga diolah seperti halnya cingur sapi. Yang jelas yang diolah bukan kodok ternak namun kodok hasil penyuluhan. Penyuluhan berasal dari kata suluh alias obor. Bagi wong Tuban, kegiatan mencari kodok, bekicot atau welut di sawah disebut dengan nyuluh atau nyuloh. Mungkin di jaman dulu, para nenek dan kakek moyang melakukan kegiatan ini menggunakan suluh atau suloh alias obor. Penyuluhan kodok? Hahahaha…
Sayang, nasi jagung telah habis tak tersisa. Maka tiada nasi jagung, lontong pun jadi. Minumnya? Dengan terpaksa kami harus minum minuman kaum kapitalis ituh… Saya mencoba memesan satu centhak toak, sayang rasa toaknya teramat pahit. Memang tiap wilayah mempunyai karakteristik rasa toak yang berbeda-beda. Ada yang manis, pahit atau agak masam. Konon tiap pohon juga terkadang menghasilkan toak yang berbeda rasanya.
Harga? Satu porsi becek kodok, cingur sapi dan bekicot goreng dipukul rata. Lima ribu rupiah saja. Lebih murah daripada seliter premium. Padahal satu porsi bisa buat berdua. Jan murah puol…
Tulisan ini didukung sepenuhnya oleh Bisma yang sedang menyelenggarakan ritual perpanjangan SIM. Bisma adalah blogger baru, semangatilah dia, agar mampu membawa perubahan pada bangsa ini. Bangsa yang gemar membaca dan menulis. Tulisan ini ditujukan sebagai sebuah suri tauladan bagi calon peserta lomba blog yang saya selenggarakan ituh…
Rakyat jelata pun berhak berwisata kuliner!
Slamet Widodo adalah seorang warga negara Republik Indonesia 





June 1st, 2008 at 9:50 pm
coba pangsit lumintu pak. prapatan pabrik ngalor hehe. sorene ngombe2 toak neng cedhak medika.. petang di boom.. hwah.. malamnya di stmj di alun2… wah….
June 1st, 2008 at 11:36 pm
becek kodok, cingur sapi dan bekicot goreng
cempluk kok rada merinding ya, apa karena belum pernah nyoba makan yach ??
hmm.harganya spt nya pas dengan kantong semua… 
June 2nd, 2008 at 3:24 am
wah kayaknya tulisan ini yang bakalan menang lomba
btw, kok jadi laper ya…
June 2nd, 2008 at 8:29 am
Lha kok pencuci mulutnya nggak ada tambah pisang rojo ..wareq tenan mas
June 2nd, 2008 at 9:49 am
asek…asek.makan lg…makan lg
June 2nd, 2008 at 10:09 am
hooo buat yang kontes wisata kuliner rakyat jelata tea ya??? heuh heuh heuh………………..
calon ada makanan dimana mana nih *berhenti pada gambar* :p
June 2nd, 2008 at 11:00 am
Sesungguhnya, saat ini aku lagi lapeeeer banget, lihat gambar makanan, of course lapernya tambah menjadi-jadi….cacingnya kruyukan ning weteng. Toak iku kan podo karo legen yo mas?
June 2nd, 2008 at 1:15 pm
wah yang nggak nguwati itu toaknya kang!
kan toak itu yang biasa dipasang di mesjid itu to?
June 2nd, 2008 at 3:56 pm
kok aneh2 toh makanane, bekicot, kodok, cingur sapi hehehe…
tapi nek didelok tekan potone kyk’e enak
June 2nd, 2008 at 4:01 pm
Wah wah … jadi ngiler, aku suka ke warung ndeso. Kapan ya bisa jalan-jalan ke tempat Sampeyan?
June 2nd, 2008 at 5:00 pm
halah.. marai luwe aku!!
Mbookkk… dahar nopo? :p
June 2nd, 2008 at 5:06 pm
wah, habis baca artikel ini aku langsung lari ke warung, lapeeerrrrrrrr
June 2nd, 2008 at 6:04 pm
Saya makan diTuban saat bis jurusan Surabaya-Semarang sedang ngetem di Terminal atau kalau naik Bis Patas, paling makan di Warung Padang. Jadi belum pernah nich ngrasain makanan rakyat Tuban.
Kalau Legen sering … Tuak nggak ah…
Mabuk bisa ngguk angguk-angguk, leng geleng-geleng….
June 2nd, 2008 at 6:11 pm
menunya kok aneh2 yo kang… emang halal semua tuh?
June 2nd, 2008 at 10:32 pm
Hm,, Mak NyusSs….
*Salam kenal Mas…*
June 3rd, 2008 at 11:07 am
cingur sapi perempuan, menggoda!
June 3rd, 2008 at 2:04 pm
dulu, waktu masih rajin ikut touring vespa, pas pulang dari pulau dewata saya lewat tuban, nah sama tuan rumah disuguhi bekicot goreng (semacam oseng ya?) pedese!!!!!! pedes banget ampe mau nangis, nah sebelumnya saya ndak tahu apa yang saya makan itu, lha di tengah penderitaan akibat kepedesan tadi eh si tuan rumah salah tangkep dan bilang: “wah den pay ndak biasa makan bekicot ya?”
saya bengong: “ini bekicot?”
June 3rd, 2008 at 3:20 pm
weleh, bekicot? kodok? weeeewww…
bisa minta kirimin toaknya, mas? ;D
*salam kenal, mas..*
June 3rd, 2008 at 5:57 pm
gelasnya pake bambu yah.. lucuuuuuuuuuu…
June 4th, 2008 at 10:21 am
saya kangen bekicotnya sama minum dari gelas bambu.
June 4th, 2008 at 12:18 pm
toak??? Ndutz lebih suka legennyah
calam kenal ^^
June 4th, 2008 at 7:18 pm
*ngelap iler*
June 5th, 2008 at 12:45 pm
aduh hebat tenan sampeyan dimakan semuaaaaaa…
aku sih kalau kodok nggak mau…takut kalau dia jelmaan dari seorang pangeran, khan mesakno…heheheheheh
eh toak aku yo doyan…sstttttt
June 6th, 2008 at 5:31 am
toak ki opo tah???? hihihi legen tah?
nanti kapan2 ke tuban ah………..mo makan2 disana
June 7th, 2008 at 5:44 pm
rainem cung cuuung.. hyahahahaha
enak tenan kowe mulah-muleh kluyar-kluyur mendam-mendem.. diampuuut
aku mau isuk2 (rodo awan jane.. mosok iso aku tangi isuk sabtu2.. hyahaha) golek sego pecel ng cedak omah ng pinggir dalan onok wong dodol legen nggowo ongkek
rupanya legen sudah merambah bintaro
toak-e ekspor-en rene gih
June 7th, 2008 at 11:21 pm
met… lebaran wisata kuliner bareng yo…?? aku kok melet…
Kaos firefox iku tuku nang endi met..???
Mben sabtu nang ngarepe mangga dua ono sing dodolan toak plus legen
June 16th, 2008 at 5:07 pm
kang, kalau mau pesan masakannya ke mana yah?
wakakakaka
June 19th, 2008 at 10:45 am
makan di situ dapet kaos kaya gitu?
mau dong hehehe
July 13th, 2008 at 11:13 am
uuuuuuuuuenakkkkk tenannnnnnnnnn
July 13th, 2008 at 11:15 am
tuban nya mana mas pengen ngincipi bozzzzz