Karakter masyarakat Tuban…
Sebenarnya tulisan ini sudah agak lama saya edarkan di milis dan website alumni SMAN 1 Tuban. Namun tak apalah apabila saya edarkan juga di jagad blog ini, biar banyak yang tahu, banyak yang protes atau bahkan banyak yang memberi sumbangan uang pemikiran. Karakter masyarakat tuban itu gimana ya? Agak sulit untuk menjawabnya. Terlebih saya sebagai insider wong tuban, penilaian saya sendiri mungkin tidak objektif. Jadi perlu melibatkan outsider dalam menilai karakter wong tuban.
Berbicara mengenai karakteristik suatu masyarakat sangat sulit apabila menggunakan batasan administratif, karena biasanya karakter masyarakat ditentukan oleh etnik, yang bisa bersifat lintas wilayah administratif.
Secara sosiologis, karakter masyarakat dipengaruhi oleh etnik yang tergambar dalam serangkaian tata nilai dan budaya. Psikologi memandang adanya pengaruh lingkungan dalam membentuk karakter masyarakat. Jadi dari dua sudut pandang tersebut saya simpulkan, karakteristik masyarakat Tuban adalah karakter JAWA + PESISIR.
Masyarakat pesisir secara sosio-kultural merupakan masyarakat yang mempunyai budaya pada maritim laut, pantai dan berorientasi pasar. Tradisi ini berkembang menjadi budaya dan sikap hidup yang kosmopolitan, inklusivistik, egaliter, outward looking, dinamis, enterpreneurship dan pluralistik.
Perbedaan mendasar masyarakat pesisir dan masyarakat agraris adalah pada akses terhadap sumberdaya. Laut merupakan sumberdaya alam yang bersifat open acces sehingga siapapun dapat mengaksesnya. Hal ini sangat berbeda dengan sumberdaya lahan pada masyarakat agraris. Sumberdaya yang bersifat terbuka ini menyebabkan persaingan antar nelayan menjadi semakin keras. Tidak mengherankan nelayan atau penduduk pesisir pada umumnya memiliki karakter yang keras dan kasar. Keadaan ini semakin diperparah dengan resiko pekerjaan yang tinggi baik dalam keselamatan jiwa maupun ekonomi. Etnis Jawa lebih dikenal sebagai masyarakat agraris dibanding masyarakat pesisir.
Jadi kesan JAWA yang “halus dan alon-alon waton kelakon”, tertutup oleh kesan PESISIR-nya. Pun demikian “kekerasan dan kekasaran” ala PESISIR, tertutup oleh JAWA-nya.
Bagaimana dengan sistem kepercayaan? Tentu saja ini mempunyai peran dalam membentuk karakter masyarakatnya. Geertz membedakan tipologi masyarakat Jawa menjadi santri, abangan dan priyayi. Tuban juga dapat memberikan gambaran seperti itu. Bahkan penghargaan terhadap “pluralisme” begitu besar di Tuban. Secara sederhana dapat kita lihat dengan tetap eksisnya TOAK, ARAK dan TANDAK.
Tuban lebih didominasi oleh umat “Islam tradisional”, berbeda dengan Lamongan dan Gresik. Coba saja apalabila ada kesempatan anda melakukan perjalanan melalui raya Daendels. Jalur ini merupakan jalur favorit saya, karena bisa top speed, hehehehe. Kalau kita perhatikan, wilayah pesisir Gresik hingga Lamongan lebih didominasi oleh ‘Islam modern”. NU dikenal lebih “mau menerima” budaya lokal dibandingkan Muhammadiyah. Tidak heran apabila Tuban memiliki masyarakat yang PLURAL, abangan dan santri dapat hidup berdampingan. Manganan di beberapa makam keramat atau punden desa masih menjadi suatu yang lumrah di penjuru Tuban.
Karakter masyarakat dapat pula dilihat dari karya sastra jaman dulu kala. Untuk yang satu ini, saya kesulitan mendapatkan karya sastra jaman dulu kala asli Tuban. Apakah suluk sunan bonang dapat dikatakan sebagai karya sastra asli Tuban? Entahlah.
Sebagai contoh, karakter masyarakat Madura dapat dilihat dari beberapa pepatah, idiom, slogan atau motto tradisional mereka. Harga diri merupakan suatu yang penting bagi masyarakat Madura, paling tidak pepatah “lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata“. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata), dan masih banyak lainnya.
Kembali ke Tuban, kalau sastra tulis maupun lisan saya angkat tangan. Tepai kalau karya seni berupa tari saya dapat memberikan seikit gambaran. Pada era 1998-an, terdapat tari yang dijadikan ikon Tuban, Gebyar Tenggor namanya. Tari tersebut memberikan gambaran karakter masyarakat Tuban. Tari ini dilakukan berpasangan. Selain menampilkan “erot-isme’ tradisional, tari ini juga menampilkan adegan “ngombe toak” oleh penari laki-lakinya. Ini mewakili kaum abangan. Sedangkan kaum santri diwakili oleh musik rebana (terbang) dan gerakan rancak yang tentu saja tidak “se-erot-is” bagian pertama tadi.
Oh, ya saya sengaja menulis erotisme menjadi erot-isme. Kata dasarnya kan erot, ituh tuh mak erot. Kekekekekeke…..
Teringat guyonan seorang rekan. Wong tuban iku paling ngerti wayah. Yen wayahe sembahyang yo sembahyang, yen wayahe ngombe toak yo ngombe toak.
Slamet Widodo adalah seorang warga negara Republik Indonesia 





May 6th, 2008 at 5:40 am
duh masih meraba-raba ttg tuban.. blom pernah ke tuban soalnya.. tapi lucu juga baca ini..
[Reply]
May 6th, 2008 at 9:27 am
dadi pengen ngrasakno toak tuban (ndak boleh ya?)
[Reply]
May 6th, 2008 at 10:37 am
kirain masyarakat sama kaya di nganjuk yang halus2, padahal sama jawa timurnya tapi beda ya……
*ra tau neng tuban*
[Reply]
May 6th, 2008 at 11:20 am
lek sampeyan piye kang?
sembayang thok opo ngombe toak thok?
[Reply]
May 6th, 2008 at 12:39 pm
dan ciri khas laennya adalah dialeknya huruf e pada kata muleh (pulang) yang pada bahasa jawa umumnya dibaca seperti huruf e pada kata ‘egois’, di tuban huruf e dilafalkan seperti pada kata ’stres’
[Reply]
May 6th, 2008 at 4:27 pm
matur suwun bosss… menambah pengentahuan tentang Tuban, kupas daerah yang laen dong
[Reply]
May 6th, 2008 at 5:09 pm
cayo tuban..
[Reply]
May 6th, 2008 at 6:53 pm
TOAK MANA TOAKNYAA?!
*gedor-gedor pintu blog*
sakaw toak
[Reply]
May 6th, 2008 at 7:27 pm
Negeri Impian atau Negeri yang Bermimpi?
[Reply]
May 7th, 2008 at 7:18 am
Bahsan teoritik yang membumi ya. Selamat yang Slamet he he
[Reply]
May 7th, 2008 at 11:48 am
ass.
wah..baru tau sy neh mas, pantesan rekan kerja sy gituan kelakuannya…hehe….tapi nggak bisa di generalisir juga ya mas ?
[Reply]
May 7th, 2008 at 11:51 am
tapi ngomong2 sy tersinggung juga neh mas…sy kan orang pesisir juga………….sumatera pesisir………..hehhe (canda aja)
[Reply]
May 7th, 2008 at 2:05 pm
wah, menarik juga nih, pak. setahu saya, utk menganalisis karakter masyarakat tertentu banyak sudut pandang yang mesti digunakan. psikologi, sosiologi, antropologi, karya sastra, budaya, tradisi, budaya, walah, sakdabreg betul. dengan banyak sudut pandang yang digunakan, agaknya analisis karakternya mendekati objektif. tapi yang sering dipakai biasanya berdasarkan bahasa yg digunakan dalam dialog sehari-hari.
[Reply]
May 7th, 2008 at 4:01 pm
ah Tuban. Pudak, jenang jumbreg, siwalan…kecapnya cap Laron.
Orang sana ganas nurut aku, kalau sudah minum toak tambulnya daging nyambik. Hiii….
[Reply]
May 7th, 2008 at 7:45 pm
ia, blom pernah ke Tuban nih ^_^
btw, budaya Indonesia tuh memang menarik sekali untuk disimak…
keep posting ttg budaya mas, I like it
[Reply]
May 7th, 2008 at 11:11 pm
masih mantap mas? hehehe…..
sekarang sudah sedikit tersamarkan dengan campur sari.
btw, pengen dengar cerita Tuban dengan ronggolawe nya itu
[Reply]
May 8th, 2008 at 2:56 am
Apa rika wong tuban kang? dyuh nyong ra reti nek rika wong tuban tp tuban be nyong be r tau ngambah koh heheeee
[Reply]
May 8th, 2008 at 3:31 pm
tuban ntuh ujung kulon-nya jawa timur yak?
apa udah pindah?
[Reply]
May 8th, 2008 at 5:29 pm
eh, alumni sma 1 tuban?
[Reply]
May 8th, 2008 at 11:22 pm
just say Hello wong indonesia met kenal
[Reply]
May 9th, 2008 at 2:46 am
lahir dijakarta, besar dijakarta, ortu dua2nya palembang, sekarang tinggal di Mesir…
Sama sekali gak ada hubungannya ama Tuban …hehehehe… Tuban panas gak mas??
[Reply]
May 9th, 2008 at 5:02 pm
halah, mas! mas ipeku orang tuban dan sman1 tuban juga loh.. kalo gak salah lulusan 1992, namanya fuad hudayanto, kenal gak? hehehehehehe… promosi neh!
[Reply]
May 9th, 2008 at 7:24 pm
postingannya informatif banget. thanks mas!
[Reply]
May 10th, 2008 at 8:32 am
gitu ya… jadi gabungan santri yang hobi minum tuak.?
[Reply]
May 10th, 2008 at 8:08 pm
Salut buat postingan Tubannya,,
salam dari Probolinggo.
[Reply]
May 16th, 2008 at 10:59 am
salam kenal dari lamongan cak, maju terus selalu…
[Reply]
June 8th, 2008 at 8:14 pm
wah mbah ternyata benar 2 sosok yang pengamat sekali dan saya mohon kenankan tulisan mbah sebagai refrensi bagi saya dalam beberapa kepentingan saya yang tentu insya allah baik karena saya masih dalam perjalanan membangun karya dari desa saya sendiri dari sektor pertanian dan peternakan yang ada di desa saya
dan tulisan mbah slamet memang sering jadi rujukan saya dalam beberapa hal matur nuwun mbah
[Reply]