PNS, Pegawai Negeri malaSSSS?…
Sudah banyak yang memberi penilaian sepeti judul tulisan ini. Banyak yang mengkritiknya bahkan sering dijadikan bahan olok-olok beberapa program televisi. Namun entah mengapa PNS tetap menjadi sosok yang sangat tidak profesional.
Oknum, sebenarnya merupakan kata yang lebih tepat untuk diletakkan di frase Pegawai Negeri Sipil tersebut. Tidak semua PNS, malas, tidak produktif dan hanya seperti pengangguran yang digaji negara saja. Lha saya juga PNS kok. Apa saya termasuk dalam kategori oknum tersebut? Anda, mahasiswa dan rekan kerja saya yang menilainya. Hehehehe…
Kebetulan beberapa minggu lalu saya harus berkunjung di dua kabupaten. Sekedar mengurus surat ijin penelitian. Kabupaten yang pertama, kondisi pelayanan sudah sangat prima, terutama di pusatnya alias di Kantor Bupati, Bakesbang dan Bappeda. Namun kesan ini serta merta hilang ketika saya harus melanjutkan sensasi rumitnya birokrasi di tingkat kecamatan. Jam menunjukkan pukul 9.00 WIB, namun bukannya suasana kerja yang saya temui. Suasana silaturahmi-lah yang mendominasi kantor kecamatan itu. Hebatnya ruang-ruang kerja tmpak kosong melompong. Beberapa ruang tertentu seolah menjadi ruang favorit PNS. PNS prempuan tampak asyik berdiskusi, entah apa yang mereka diskusikan. Sedangkan PNS laki-laki tampak bergerombol sambil menikmati segarnya kretek.
Lebih parah lagi, surat ijin penelitian saya belum selesai dikerjakan. Padahal saya telah memasukkan berkas hari sebelumnya, pagi-pagi pula. Walhasil saya harus membuang waktu cukup lama hanya untuk menunggu surat ijin itu beres.
Selama di lapang, saya memang tidak mencoba untuk mendapatkan perlakuan khusus dengan menunjukkan status ke-PNS-n saya. Lha rambut gondrong begini, mana mereka percaya. Biarlah saya memakai atribut mahasiswa saja atau mungkin blogger. Hahahahaha…..
Kabupaten berikutnya, kondisinya sangat parah. Kabupaten ini dikenal sebagai kabupaten miskin namun konon kabarnya sang bupati sangatlah korup. Kepala dinas sering harus bersusah payah memenuhi target upeti sang bupati. Benarkah? Entah. Konon pula sang bupati adalah seorang kyai, ah semakin banyak pula mbah yai sing mbahayai di negeri ini.
Sesampai di Kantor Bakesbang, saya langsung disuguhi pemandangan yang memuakkan. Kantor yang tidak seberapa luas tersebut sangat sesak oleh umat manusia berpakaian keki. Segerombol satpol PP tampak menjadi baris paling depan kantor tersebut. Ya, kabupaten ini sempat membuat saya heran. Jumlah satpol PP sangat banyak, padahal hanya kabupaten kecil. Lalu apa kerja mereka? Di kabupaten ini tidak ada pengasong, PSK, Waria, gelandangan, pengemis yang bisa mereka pukuli. Tapi entah mengapa tenaga honorer Satpol PP begitu banyaknya. Ah, lumayan mungkin kalau per kepala tarifnya beberapa juta.
Saat memasuki kantor tersebut, jam menunjukkan pukul 9.12. Lagi-lagi bukan suasana kerja, suasana cangkruk begitu kental disini. Setelah dipandu oleh seorang Satpol PP, saya masuk ke bagian administrasi.
Gila!!! Tiga orang PNS perempuan tampak sedang asyik di depan komputer, dan setelah saya masuk ruangan baru saya sadar, mereka sedang bermain game. Untung mereka tidak sedang menikmati 3gp atau Miyabi. Di bagian balakang kantor saya lihat beberapa PNS perempuan dan laki-laki sedang ngobrol sembari minum kopi.
Tapi, layanan yang diberikan cukup sekatan. Saya disambut seorang PNS laki-laki dan diminta semua syarat pengajuan ijin penelitian. Kebingungan lalu tampak menyelimuti wajah sang PNS tersebut. Ternyata big boss-nya tidak ada di tempat. Pun demikian dengan eselon dibawahnya. Yah, gak papa… Saya tinggal saja, minggu depan saya ambil. Daripada saya harus berlama-lama di kantor ini, pikir saya.
Yah, itulah potret sebagian besar PNS kita, terutama di kantor pemerintahan. Jumlah mereka terlalu banyak. Belum lagi tenaga honorer. Mereka bingung mau bekerja apa?
Lalu apakah mereka harus iri terhadap sosok PNS fungsional semacam guru dan dosen, yang dijanjikan oleh pemimpin negeri ini mendapatkan tunjangan profesi. Bayangkan, guru dan dosen bakal menerima gaji dua kali lipat dibandingkan mereka.
Bagaimana dengan saya sendiri?
Entahlah, apakah saya telah bekerja sesuai dengan beban kerja yang seharusnya atau bahkan lebih atau mungkin juga kurang? Paling tidak ada ukuran bagi guru atau dosen tentang produktivitasnya, ya angka kredit. Lha kalau sudah bertahun-tahun tidak nambah-nambah angka kreditnya ya berarti gak kerja!
Ah, sudahlah! Sesama PNS dilarang ngerasani. Ngeblog lagi ahhhh…..
Ups, teringat istri juga sering nganggur di Dispenda sebuah kota. Ma, ketimbang nganggur, mulih ae po’o! Mene rausah mlebu ae sisan!
Slamet Widodo adalah seorang warga negara Republik Indonesia 





May 5th, 2008 at 1:40 pm
Sepakat nih…dengan tulisan Sampeyan
Salam
May 5th, 2008 at 1:42 pm
Terlalu banyak Pegawai Po’o .
Salam
May 5th, 2008 at 1:49 pm
wadu, kok kabupatennya ndak disebut, pak slamet, jangan2 itu kabupaten tempat saya dilahirkan, hiks. payah juga kualitas kerja pns yang begitu. makan gaji buta, gampang setor upeti, tapi suka memeras padaorang kecil. kalau saja negeri ini mau jujur, mestinya penjara pun mesti penuh sesak dg birokrat2 kayak mereka. waduh, saya jadi ikutan malu, pak. kan saya juga pns, bisa2 ikut masuk pada kategori itu.
May 5th, 2008 at 2:12 pm
maw bilang apaya mang kenyataannya yaaaa giitu dehh………..
btw…. heeeheehee, baru taw mas jg pns maaf…liat gondronnya kirain……… hehehe…
maaff….. tp maco ko’
May 5th, 2008 at 2:42 pm
Sedih ya..lihat Mentalitas PNS. Tapi menjadi PNS menjadi idaman, kerja nyante, minjem duit di bank gampang, dapat pensiun. Ah… sungguh saya nggak ngiri !
May 5th, 2008 at 3:07 pm
berarti judulnya sudah tepat, mas
kan belom ada perubahan dari kondisi terakhir
May 5th, 2008 at 7:25 pm
ehmmm piye yo..aku yo sering heran
May 5th, 2008 at 9:05 pm
teman saya pegawai negeri departemen pertanian di kantor pusat ragunan…Kalau saya jemput dia di kantornya. Dia selalu main pingpong, atau main catur..
Lalu saya tanya, kapan kerjanya…
dia bilang, ..ya ini main pingpong
May 5th, 2008 at 10:29 pm
ga bisa nyalahin mereka juga sih, secara workload dan task nya emang kurang/ga ada. Entah krn ga ada yg bagi tugas atau malah sistem nya yg ga fungsi…
Saya sendiri klo di kantor klo pas bener2 nganggur ga ada kerjaan, bisa seharian baca reader/ngejunk/utube/ozawa.
May 6th, 2008 at 1:20 am
wes membudaya kae mas sing cangkruk
May 6th, 2008 at 8:56 am
Hidup PNS, PEGAWAI NEGERI SEJAHTERA, hehehe
May 6th, 2008 at 9:34 am
selain ndak profesional,kerjaan mereka cuman berangkat siang dan pulang siang,,haha bandingkan dengan buruh yang berangkat pagi pulang malam…hhhh,,,pantesan banyak yang pengen jadi pns,,santai sih,,nyaris ga ada kerjaan gitu,,udah gitu basah pula alias bisa korup,,payaaaaaaaah!!!!!!!!!
harusnya negara ini dijual ke swasta aja biar kerjanya profesional dan efektif,dan ga belibet…kalo perlu dijajah lagi aja,tapi jangan sama belanda , sama amrik or enggres aja khan jadinya entar kayak singapore or malaysia…hhhh
May 6th, 2008 at 9:24 pm
Di tempat saya lebih parah lagi. Gaji PNS di sini jauh di atas rata-rata dibandingPNS di tempat lain. Tapi malasnya tetap aja nggak berubah. Yang salah sih pemerintah juga. Merekrut PNS tidak berdasarkan perencanaan alias job analysis dulu. Motivasi pemerintah merekrut PNS kebanyakkan adalah menekan angka pengangguran. Jadinya banyak PNS yang nggak ada job ya, jadinya cari kegiatan yang tidak produktif.
May 7th, 2008 at 7:16 am
Banyak yang rajin juga lho, tapi … lebih banyak yang malas he he
May 7th, 2008 at 2:53 pm
itu barangkali karena konsep pelayanan prima belum diterapkan di semua instansi pak. seperti di daerah saya, ada yg sudah prima tapi banyak yg belum. generasi mudanya dong yg hrsnya mengubah budaya seperti itu.
btw, merit system yg digodok menpan mudah2an menjadi pemicu
May 7th, 2008 at 7:05 pm
PNM donk
Tapi sepertinya memang begitu ya
maksudnya ada gitu yang gitu
PNS
Peace ah
May 7th, 2008 at 8:39 pm
tidak semua PNS, ada satu dua yang rajin dan niat kerja, tapi di antara 1000 PNS…PNS = Pengganguran Nyantai Sejahtera
May 7th, 2008 at 9:17 pm
seandainya pemerintah bisa mengefisiensi jumlah PNS nya -yang sangat membebani APBN-niscaya BBM tak akan dinaikan lagi….
May 8th, 2008 at 8:36 am
di tempat saya dah banyak berubah mas..
coba check kantor pajak di deket tempat mas..
moga beneran dah berubah
May 8th, 2008 at 6:49 pm
beneran banyak PNS yang begitu? serius? lalu kerja keras saya buat kejar target penerimaan yang ujung2nya buat mbayar gaji PNS juga itu ngalir sia-sia?
tiap bulan saya ketar-ketir penerimaan melenceng dari target, peres otak agar bisa ekstensifikasi dan intensifikasi tanpa uang dinas maupun lembur (DJP pelit banget ya soal ginian) ha jebul do males2an…
melu males ah!!!
NB: gitu mas mungkin lantaran mereka kerja gak pake target… jadi gak jelas juntrungannya. taruhan! pasti mereka main game yang gak ada target selesainya alias bakal keok lantaran kurang waktu sedang speednya makin cepet.
gaji sampeyan kan kurang tho mas? sampai gak bisa potong rambut! —ngabur–
May 8th, 2008 at 6:51 pm
hmmm… nambahi… saya jarang blogwalking juga lantaran sibuk kerja lho mas…
foto sampeyan pancen macho!
May 9th, 2008 at 4:57 pm
memang mas slamet.. terlalu banyak yang bermalas-malasan.. jadi, capek deh
May 26th, 2008 at 3:12 pm
huehehehehheh
gmn yaa…
mo ngomentarin takut tersinggung,,,
tp maaf yaa sebelumnya…
aku pernah kerja di sbuah radio swasta…yg mana SDMnya kelewat banyak sampe akhirnya beban kerja satu orang diberikan ke5 orang..kebayangkan….betapa mgkin sedikitnya waktu yg mereka butuhkan buat beresin tugasnya..setelah itu mereka bisa leha2 n rumpi2…
temen gw sampe bilang..mereka itu ‘pengangguran terselubung’
tp jd banyak yg bilang..enak loh kerja disana..betah…ya iyalah…wong bisa sante2, tp gajinya tetep segitu…
mgkin agaknya ini mirip dngn ketidakproduktifan PNS. tiap taun rekruit, tp yg pensiun mgkin ga smbanding..
tiap taun naek gaji…n makin banyak yg tertarik baut jd PNS, tp bukan krn murni ingin berbakti untuk negara, tp utk kepuasan diri sndiri…
balik ke diri sndiri aja sih…mgkn ga cuma PNS yg gitu…buktinya di t4 saya dulu itu jg bgtu…
kerja adalah ibadah…klo kita bekerja dgn baik dan benar…
apa mau dijadikan maksiat???
June 6th, 2008 at 5:01 pm
emang udah ketemu sama PNS seluruh Indonesia ya? huebatt !
June 18th, 2008 at 6:48 pm
salam pns !!!
July 17th, 2008 at 10:49 am
Oknum, sebenarnya merupakan kata yang lebih tepat untuk diletakkan di frase Pegawai Negeri Sipil tersebut. Tidak semua PNS, malas, tidak produktif dan hanya seperti pengangguran yang digaji negara saja.
Ah, sudahlah! Sesama PNS dilarang ngerasani. Ngeblog lagi ahhhh…..
Ups, teringat istri juga sering nganggur di Dispenda sebuah kota. Ma, ketimbang nganggur, mulih ae po’o! Mene rausah mlebu ae sisan!
.
.
.
OPINI SAYA :
Motivasi pemerintah merekrut PNS sebenarnya adalah menekan angka pengangguran. Tapi sayangnya hal ini GAK EFEKTIF…!!! Dan malah membebani APBN dan menciptakan generasi-generasi PEMALAS. Ngapain rekut PNS kalo penggaweannya pingpong, mlaku-mlaku di jam kantor, ngedabrus ngalor ngidul, ngudat-ngudut, ngopi, absen-mulih dan gak ada hasilnya ? Negara bukan LEMBAGA SOSIAL, Bung…!!! Bukan juga tempat mengampung pengangguran / tunakarya.
Harusnya pemerintah (baik pusat maupun daerah) bisa mengefisiensi jumlah PNS-nya. Rekut PNS seperlunya sesuai dengan keahlian, berikan target kerja, beri insentif dan bentuk apresiasi bagi PNS yang berprestasi, beri motivasi / teguran untuk PNS yang “mandul”.Dengan begitu akan didapat hasil yang maksimal yang dapat memberi pelayanan pada masyarakat.
Bukannya sampeyan juga geregetan kalo ngurus surat-surat yang harusnya berapa jam aja jadi, tapi malah berhari2 kadang masih belum jadi…???
Apakah sampeyan gak mirih kalo sampeyan kerja jungkir walik tapi gaji sampeyan sama dengan temen sampeyan sesama PNS yang kerjaanya ngudat-ngudut ? Mana bentuk apresiasi pada sampeyan ?
Nah kalo negara ini gak maju, jangan nyalain pemerintah (presiden dan wakil-nya), lah wong PNS-nya aja males.
Gimana bisa maju….???