Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!


Archive for April, 2008


Warung Pak Bagong yang ndeso ituh…halah…:D

Warung Pak Bagong merupakan jujugan saya apabila sambang ke Tuban. Warung yang terletak di Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding ini menyajikan masakan khas ndeso yang menggugah selera. Belut goreng basah pedas dan nasi jagung menjadi menu andalannya. Selain itu ada pula menu bagi wong abangan Tuban, kodok goreng basah pedas. Oalah.. nama menunya kok mbulet. Lha yang ngasih nama juga saya sendiri. Pak Bagong hanya mengenalkan menunya dengan nama “Welut” dan “Kodok” saja.

Walaupun di Tuban banyak mbah yai, tapi budaya abangan juga sangat kental disini. Jangan heran apabila minuman keras tradisional Tuban, toak dapat dengan mudah ditemui di setiap sudut perempatan. Menjalin persatuan dan kesatuan, istilahnya…hahahaha… Liputan tentang toak plus tambul iwak nyambik-nya akan saya sajikan nanti, sekali lagi kalau sempat dan ingat. :D

Kembali ke welut Pak Bagong, warung ini begitu terkenal, bahkan apabila datangs edikit terlambat saja sudah pasti akan kehabisan. Jangan coba-coba datang setelah jam 12 siang! Pasti akan gigit jari…

Jangan heran apabila warung sederhana ini akan dipenuhi oleh banyak pengunjung dari luar kota. Paling tidak dari plat nomor mobil yang berjajar rapi di depan warung, kita akan tahu darimana saja mereka berasal. Terlebih ketika hari libur, banyak warga Tuban yang Welut Pak Bagong…berstatus sebagai buruh migran akan sambang ke Tuban.

Belut digoreng basah dengan bumbu pedas. Lain dari yang sering kita jumpai yaitu lalapan belut yang cederung goreng kering. Rasa pedas begitu terasa dan merasuk hingga ke tulang-tulang belut. Nuansa ndeso semakin kental dengan nasi jagungnya. Benar-benar nikmat….

Read More

Shalawat dan semerbak hio dari Kota Tuban…

Tuban adalah sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa Timur dan berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Sebagaimana daerah pesisir Jawa lainnya, udara panas menusuk kulit menjadi sebuah keseharian di Tuban. Nama Tuban sempat menyeruak di seantero pelosok nusantara. Pilkada beberapa tahun lalu yang berakhir ricuh menjadikan Tuban begitu terkenal. Aksi anarkhis massa yang begitu beringas menjadi liputan utama hampir seluruh media massa, baik cetak maupun elektronik.

Masjid Agung Tuban…Ada dua ikon Tuban, yang sudah berkibar tenar sejak lama, yaitu Makam Sunan Bonang dan Kelenteng Kwan Sing Bio. Tentu saja dua “petilasan” ini mempunyai “pengunjung setia” yang berbeda. Makam Sunan Bonang menjadi tempat ziarah bagi umat Islam, khususnya “kaum Islam tradisional”, sedangkan Kwan Sing Bio begitu ramai dikunjungi saudara-saudara kita dari etnis Tionghoa.

Gerbang menuju makam…Makam Sunan Bonang terletak di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban. Lokasinya dekat dengan alun-alun Tuban, sehingga begitu mudah dijangkau oleh beragam sarana transportasi. Seperti halnya makam wali songo lainnya, makam Sunan Bonang begitu ramai dikunjungi para peziarah. Praktis hanya selama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri saja, makam ini sepi dari pengunjung luar kota.

Makam Sunan Bonang sendiri mempunyai misteri yang belum terpecahkan. Saat ini terdapat empat lokasi yang diduga atau diklaim sebagai makam Sunan Bonang.

  1. Lokasi yang paling populer yaitu makam Sunan Bonang di Tuban, mungkin karena letaknya yang mudah dijangkau atau juga hasil ijtihad para kiai sepuh. Makam ini terletak di belakang Masjid Agung Tuban yang berdiri megah bagaikan istana negeri dongeng.
  2. Lokasi kedua berada di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sebuah pulau yang berada di Laut Jawa.
  3. Lokasi ketiga berada di sebuah bukit yang dikenal dengan nama mBonang, yang berada di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
  4. Lokasi keempat berada di tepi Sungai Brantas, Kediri. Daerah ini dikenal dengan nama Singkal.

Terlepas dari banyaknya versi makam Sunan Bonang, dua lokasi yang disebut pertama lebih banyak mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Versi yang berkembang di masyarakat, Sunan Bonang wafat di Bawean. Pada saat itu, sebagian murid yang berasal dari Tuban menghendaki apabila Sunan Bonang dimakamkan di Tuban, namun murid yang berasal dari Bawean bersikeras untuk memakamkannya di Bawean. Dua kubu ini saling bersikeras dan berujung pada upaya “pencurian” jenazah oleh kubu Tuban. Menariknya, masing-masing pihak mengklaim kemenangannya. Kubu Tuban mengklaim berhasil membawa jenazah Sunan Bonang, sebaliknya kubu Bawean menyatakan bahwa yang dibawa oleh kubu Tuban hanyalah kain kafan “kosong” tanpa jenazah. Kubu Bawean tetap berkeyakinan bahwa jenazah Sunan Bonang masih berada di Bawean.

Cungkup makam…Terlepas dari beragam versi yang berkembang di masyarakat. Makam Sunan Bonang di Tuban menjadi salah satu aset wisata yang perlu dijaga kelestariannya oleh pemerintah daerah. Makam ini bukan hanya menghidupi Tuban dari retribusi parkir ratusan bus dan kendaraan lain yang digunakan para peziarah, namun ratusan tukan becak juga bergantung dari keberadaan para peziarah. Seperti halnya makam Sunan Giri di Giri, Kebomas, Gresik. Lokasi parkir sengaja ditempatkan agak jauh dari lokasi makam. Sebuah langkah jitu untuk memberi ruang bagi para pekerja tangguh, tukang becak.

Gerbang Kwan Sing Bio…Kwan Sing Bio, sebuah kelenteng yang megah di Tuban. Kelenteng ini sangat ramai dikunjungi oleh etnis Tionghoa, konon karena kekeramatannya. Kelenteng ini diklaim sebagai satu-satunya kelenteng di Indonesia yang menghadap laut bebas. Sebenarnya di Tuban terdapat dua kelenteng. Satu kelenteng lagi berada di dekat alun-alun Tuban, Tjoe Ling Kiong. Namun dari sisi luas bangunan dan juga pengunjung, nama Kwan Sing Bio seolah menenggelamkan keberadaan saudara tuanya itu.

Megah…Kwan Sing Bio berdiri di tepian laut bukan sebuah perencanaan yang matang, namun sebuah kebetulan dan kedaruratan semata. Paling tidak ini adalah salah satu versi cerita sejarah berdirinya kelenteng megah ini. Dahulu kala, terdapat kelenteng yang berada di Kecamatan Tambakboyo, sekitar 30 kilometer arah barat Kota Tuban. Suatu saat para pengurus kelenteng akan memindahkan arca Kwan Kong menuju daerah Surabaya melalui jalur laut. Ternyata ketika berada di perairan Tuban, kapal kandas menghantam karang. Berbagai upaya untuk menarik kapal tidak berhasil hingga akhirnya muncul petunjuk untuk membangun kelenteng darurat di pantai Tuban tersebut.

Tri Dharma…Pada masa orde baru, kelenteng merupakan sebuah rumah ibadah yang diperuntukkan bagi tiga umat agama, karenanya sering dikenal dengan nama TITD (Tempat Ibadah Tri Dharma), yaitu Budha, Taoisme dan Konghucu. Semangat anti Tionghoa pada masa itu, mengharuskan semua bentuk kebudayaan Tionghoa tidak boleh dipertunjukkan kepada masyarakat umum, bahkan nama pun harus diganti dengan nama Indonesia. Ah… dasar Paman!…

Bangunan kelenteng Kwan Sing Bio terus berkembang, terutama di bagian belakang. Keindahan arsitektur Tiongkok dapat kita saksikan disini, tanpa harus membayar fiskal tentunya. Seperti halnya kelenteng besar di kota lainnya, perayaan Imlek berlangsung sangat meriah di kelenteng ini. Bukan hanya barongsai, wayang tionghoa (wayang titi), pesta kembang api hingga atraksi kungfu pun digelar dan menjadi tontonan gratis bagi masyarakat umum.

Wow…Bagi pengunjung yang hendak bermalam tidak perlu khawatir, kelenteng ini menyediakan tempat bermalam gratis yang mampu menampung ribuan pengunjung. Urusan makan juga gampang, kelenteng ini menyajikan makanan gratis setiap harinya.

Soal kemahsyuran kelenteng ini tidak perlu dipertanyakan, buktinya deretan lampu lampion, arca dewa hingga lilin yang terpasang seolah mampu membuktikannya. Beragam nama dan asal daerah pengunjung dapat kita lacak disitu, konon Om Liem dulunya sering berkunjung kesini dan memasang lilin merah yang baru habis setelah menyala selama setahun. Ya, ukuran lilinnya yang menentukan. Disini anda bisa melihat lilin dengan ukuran sepelukan orang dewasa dengan tinggi menjulang hingga dua meter.

Saya begitu kerasan melihat kemegahan bangunan kelenteng ini, plus semerbak harumnya hio. Ahh… hyaaa…

Daftar bacaan :

Ajidarma, S.G. Sunan Bonang: Wali yang Membujang, dengan Empat Makam. Intisari Februari 2005. Intisari Mediatama. Jakarta.

Wibisono, L. 2006. Etnik Tionghoa di Indonesia. Intisari Mediatama. Jakarta.

Angelina Sondakh berjenggot? ….

Akhir-akhir ini kita mendapatkan sajian berita yang cukup menggelitik. Ketika Slank menyajikan maha karyanya berupa sebuah lagu yang sangat penuh dengan kritik sosial membangun, ada sebuah lembaga tinggi negara yang tersinggung.

Mbak Anggie“Kebakaran jenggot”, menjadi sebuah frase yang sering digunakan oleh media massa maupun blog untuk menggambarkan reaksi DPR yang tidak terhormat itu. Saya tertegun heran, masak sih anggota DPR kebakaran jenggot?

Ah, yang benar? Berarti Angelina Sondakh berjenggot dong. Mana? Kok tidak kelihatan? Tidak! Angelina Sondakh tidak berjenggot!

Apakah perlu sang “pakar” bertindak untuk membuktikan keaslian foto diatas.

Ah… Saya tidak setuju kalau semua anggota DPR kebakaran jenggot. Lha banyak yang tidak punya malu jenggot kok. :D

Maaf, buat Mbak Angie, saya hanya sekedar memberi bahan tawa di tengah kejenuhan kehidupan negeri ini. Foto saya ambil dari blog-nya Mbak Angie.

 

Ayo bernyanyi :

Pernah kah lo denger mafia judi
Katanya banyak uang suap polisi
Tentara jadi pengawal pribadi

Apa lo tau mafia narkoba
Keluar masuk jadi bandar di penjara
Terhukum mati tapi bisa ditunda

Siapa yang tau mafia selangkangan
Tempatnya lendir-lendir berceceran
Uang jutaan bisa dapat perawan
Kacau balau … Kacau balau negaraku ini …

Ada yang tau mafia peradilan
Tangan kanan hukum di kiri pidana
Dikasih uang habis perkara

Apa bener ada mafia pemilu
Entah gaptek apa manipulasi data
Ujungnya beli suara rakyat

Mau tau gak mafia di senayan
Kerjanya tukang buat peraturan
Bikin UUD ujung-ujungnya duit

Pernahkah gak denger teriakan Allahu Akbar
Pake peci tapi kelakuan barbar
Ngerusakin bar orang ditampar-tampar

Petuah dari sang bapak…

Di salah satu sudut Kota Tuban, malam itu saya, Heri Tasman (blogger pemula) dan seorang sesepuh yang biasa dipanggil “bapak” mencoba berdiskusi tentang bangsa ini.

Bapak : “Sekarang repot, pemimpin tidak bisa diharapkan lagi. Korupsi merajalela dimana-mana. Semua bermain politik, kiai yang harusnya menjadi penjaga moral bangsa kini lebih senang menjadi poli tikus. Hanya klunak-klunuk sarungan menunggu tamu pejabat minta restu.”

Saya : “Apalagi menjelang Pilkada. Kiai tambah laris. Semua didoakan menang, lha umatnya sendiri malah dilupakan.”

Heri Tasman : “Do’anya tergantung siapa yang menyumbang paling banyak!”

Bapak : “Lha saiki akeh mbah yai sing mbahayai!

Saya : “Maksudnya?”

Bapak : “Ya tahu sendiri lah. Banyak kiai yang tidak bermoral selayaknya kiai. Kalau mau jadi kiai sh gampang, pergi ke pasar saja sudah dapat sarung, baju koko dan songkok putih. Tapi moralnya itu yang susah untuk dicari!”

Semua terdiam dan menghela nafas…

Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2008 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress. Need furniture? and pallet delivery
31 queries. 0.432 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.