Petuah dari sang bapak…
Di salah satu sudut Kota Tuban, malam itu saya, Heri Tasman (blogger pemula) dan seorang sesepuh yang biasa dipanggil “bapak” mencoba berdiskusi tentang bangsa ini.
Bapak : “Sekarang repot, pemimpin tidak bisa diharapkan lagi. Korupsi merajalela dimana-mana. Semua bermain politik, kiai yang harusnya menjadi penjaga moral bangsa kini lebih senang menjadi poli tikus. Hanya klunak-klunuk sarungan menunggu tamu pejabat minta restu.”
Saya : “Apalagi menjelang Pilkada. Kiai tambah laris. Semua didoakan menang, lha umatnya sendiri malah dilupakan.”
Heri Tasman : “Do’anya tergantung siapa yang menyumbang paling banyak!”
Bapak : “Lha saiki akeh mbah yai sing mbahayai!”
Saya : “Maksudnya?”
Bapak : “Ya tahu sendiri lah. Banyak kiai yang tidak bermoral selayaknya kiai. Kalau mau jadi kiai sh gampang, pergi ke pasar saja sudah dapat sarung, baju koko dan songkok putih. Tapi moralnya itu yang susah untuk dicari!”
Semua terdiam dan menghela nafas…
Bapak : “Yen tumekane titi wancine ing tahun 2000, akeh wong ora adang, akeh mesjid lan langgar megah nanging malah digawe turu asu.”
Saya : “Maksudnya apa Pak?”
Bapak : “Ketika telah sampai pada tahun 2000, jarang orang yang mau bersusah-susah bekerja halal, banyak masjid megah dibangun tetapi sifat dan tingkah laku orang-orang justru mirip anjing. Anjing itu kan tidak punya prinsip, hanya menurut apa kata si pemberi makan. Bahkan disuruh menyerang orang lain pun mau.”
….
Malam itu saya pulang ke rumah dan mencoba merenungi petuah si Bapak…
Memang tidak semua mbah yai mbahayai, hanya segelintir oknum. Mungkin ajakan untuk mengembalikan kiai ke pesantren lebih tepat, atau sekalian buat saja PKI. Hehehehe….
Saya menulis postingan ini sambil menyimak berita di televisi :
Anggota DPR RI dari partai kiai PPP dan seorang pejabat daerah plus seorang perempuan PSK penghibur ditangkap KPK.
Ketua DPRD Jember dari partai kiai PKB beserta wakilnya dijebloskan ke penjara.
Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!





April 11th, 2008 at 15:05
yaps, begitulah fenomena sosial politik yang terjadi di negeri ini, pak slamet. semuanya rame2 ingin jadi politikus, termasuk para kyai yang seharusnya menjadi “guru” sekaligus penjaga moral bangsa. kalau yang seharusnya menjadi anutan sdh melakukan manuver2 politik2 kayak begitu, repot juga para umat yang kebingungan mencari tokoh panutan.
Reply
April 11th, 2008 at 16:44
Saya menonton saja dari luar ring. Hehehe. Apa kabar Mas Slamet?
Nice theme. Lebih fresh.
Reply
April 13th, 2008 at 10:20
Teman saya mahasiswa S2 UGM. Bingung nyari kerja karena sudah nikah, dia mati-matian mau masuk gelanggang politik. Alasannya simpel, politik tempat yang “basah” alias gampang cari uang. Busyet..!!!
Reply
April 15th, 2008 at 07:55
lha kyai tasman piye met … opo melu ketangkep pisan .. wakakakakaka
Reply
April 24th, 2008 at 22:47
Numpang tenar po o,diexpose arek2 markas tasmad e,he he.Suwun mio ne,
Reply
August 17th, 2008 at 18:14
salam kenaL, Mas…
wahhh…kyai2 tu kalang kabut, MAs…krn kharismanya disaingi ‘ma artis2, yg jg riuh-rendah hijrah ke dunia politik…baik kyai maupun artis sama saja…klO kyai dolanan politik, tuh trend dlu…skrg trend itu dgantiin ma “PSK” (pekrja seni komersiL) itu…
pe’er panjang qt adlh ndidik masyrkt politik qt biar g make based-figures thinking dlm urusan publik mcam pemilu,pilkada,dsb…salam demokrasi!!!
Reply