Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!


Archive for April, 2008


Seminar nasional teknik pengendalian organisasi dari dalam bui…

Dalam sejarah peradaban manusia di bumi ini, krisis pada sebuah organisasi menjadi hal yang lumrah. Bagaimana jika krisis itu dikarenakan oleh unsur pimpinan? Bagaimana jika sang pemimpin harus mendekam di dalam bui karena mencuri ayam uang rakyat? Organisasi harus tetap berjalan walaupun tanpa kehadiran fisik sang pemimpin. Bukankah saat ini telah sampai pada jaman edan. Mengendalikan organisasi bahkan bisnis pun bisa dari dalam bui. Simak teknik dan kiat mengendalikan organisasi dari dalam bui pada :

SEMINAR NASIONAL

TEKNIK PENGENDALIAN ORGANISASI DARI DALAM BUI

31 April 2008, Aula Photoshop – Fakultas Telematika Universitas Roi Putra

Pembicara :

Ketua Umum PSSI

(Persatuan Selengekan Seluruh Indonesia)

Noordyn Kalit

Read More

Kawis alias kawista yang hitam…

Kawis alias kawista (Limonia acidissima), nama buah remeh temeh yang mungkin jarang diketahui oleh orang. Buah yang khas dengan aroma yang menusuk hidung dan warna daging buah yang coklat kehitaman. Bahkan apabila kita mendapatkan kawis yang benar-benar telah matang, warna daging buahnya akan hitam kelam.

Menurut Mbah Wiki, kawis termasuk pohon yang tahan banting. Beliau Kawis mampu hidup di daerah dengan curah hujan rendah alias lahan kering, selain itu mampu bertahan pada tanah dengan salinitas yang tinggi. kawis juga dapat dimanfaatkan sebagai batang bawah dalam okulasi tanaman jeruk. Okulasi ini menghasilkan Kajer aliaskawis jeruk.

Menurut ini, Setiap 100 g bagian daging buah yang dapat dimakan mengandung: 74 g air, 8 g protein, 1,5 g lemak, 7,5 g karbohidrat, dan 5 g abu. Dalam 100 g bagian biji yang dapat dimakan terkandung: 4 g air, 26 g protein, 27 g lemak, 3 5 g karbohidrat, dan 5 g abu. Daging buah yang kering mengandung 15% asam sitrat dan sejumlah kecil asam-asam kalium, kalsium, dan besi. Kayu kawista berwarna putih kekuningan, keras, agak berat, dan berserat kasar, tetapi urat kayunya rapat dan dapat dipolis sampai berkilap.

Read More

KTP-ku expired…

KTP bekas…

Sketsa kota laknat…

Kota laknat, begitulah istilah si Zam untuk menggambarkan kehidupan Jakarta.

Minggu lalu saya sambang kamar kos saya yang ada di Bogor. Ada rencana pula untuk melakukan kunjungan kedaerahan di BHI. Namun cuaca yang kurang bersahabat lagi pula keterbatasan komunikasi karena M600i saya telah tiada membuat rencana tersebut gagal. Lagi pula padatnya acara jumpa fans di Bogor membuat saya harus membagi waktu yang terbatas sepandai mungkin. Hehehehe…

Mas Edi sempat mengontak saya dan berencana bertemu pada Jum’at malam di Jakarta. Namun apa daya hujan begitu derasnya mengguyur Bogor, bahkan saya sampai terjebak di perpustakaan kampus ini, menunggu hujan reda.

Jum’at malam itu saya habiskan dengan bermain karambol dengan anak kos. Hahahaa… dasar anak kos! Total saya begadang pada malam itu, dan berencana balik ke Malang pada Sabtu pagi menggunakan Argo Bromo pagi. Hasil gerilya tiket pesawat tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan….

Sabtu selepas Shubuh saya dan orang ini, menuju ke kota laknat. Saya berhenti di Gambir dan ternyata tiket kereta Argo Bromo telah habis terjual. Saya langsung membeli Gajayana yang langsung ke Malang, namun harus rela menunggu 10 jam. Kenapa? Karena Gajayana berangkat pukul 17.32 WIB. Sepuluh jam di Gambir! Gila!…

Kepala sudah pening karena tidak tidur semalaman…

Kemana nih tidur? Kalau saja saya tidak membawa harta saya yang paling berharga, saya dengan mudah akan tidur beralaskan Kompas. Tapi…

Saya sungkan untuk menghubungi Mas Edi, lha saya tidak tahu kesibukan beliau. Lagi pula saya dalam kondisi ngantuk berat, so kalaupun ketemuan kami tidak bisa saling melepas hasrat. :D

Akhirnya saya menghubungi orang ini, dan langsung naik taksi menuju rumahnya di daerah Kantor Arsip Nasional Jaksel. Lumayan bisa tidur….

Jam 15.45 saya berangkat ke stasiun Jakarta Kota dari stasiun Pasar Minggu. Tentu saja naik KRL ekonomi…

Sketsa kota laknat pun dimulai…

Gerbong yang kelihatan sangat tidak terawat dengan kaca pecah disana-sini. Aneka coretan iseng, tempelan iklan… Hebatnya bukan hanya lantai yang basah karena air hujan, kursi pun tampak basah. Banyak yang lebih rela berdiri dibandingkan harus duduk di kursi yang basah.

Pengasong, sosok pekerja keras yang patut ditiru oleh anggota DPR tampak lalu lalang menawarkan barang dagangannya…

Pengamen tuna netra mencoba memberikan hiburan. Kantong kain yang tergantung di dadanya penuh dengan uang. Entah karena penghargaan atas seni, terimakasih atas hiburan yang diberikan atau hanya BELAS KASIHAN…

Read More

Warung Pak Bagong yang ndeso ituh…halah…:D

Warung Pak Bagong merupakan jujugan saya apabila sambang ke Tuban. Warung yang terletak di Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding ini menyajikan masakan khas ndeso yang menggugah selera. Belut goreng basah pedas dan nasi jagung menjadi menu andalannya. Selain itu ada pula menu bagi wong abangan Tuban, kodok goreng basah pedas. Oalah.. nama menunya kok mbulet. Lha yang ngasih nama juga saya sendiri. Pak Bagong hanya mengenalkan menunya dengan nama “Welut” dan “Kodok” saja.

Walaupun di Tuban banyak mbah yai, tapi budaya abangan juga sangat kental disini. Jangan heran apabila minuman keras tradisional Tuban, toak dapat dengan mudah ditemui di setiap sudut perempatan. Menjalin persatuan dan kesatuan, istilahnya…hahahaha… Liputan tentang toak plus tambul iwak nyambik-nya akan saya sajikan nanti, sekali lagi kalau sempat dan ingat. :D

Kembali ke welut Pak Bagong, warung ini begitu terkenal, bahkan apabila datangs edikit terlambat saja sudah pasti akan kehabisan. Jangan coba-coba datang setelah jam 12 siang! Pasti akan gigit jari…

Jangan heran apabila warung sederhana ini akan dipenuhi oleh banyak pengunjung dari luar kota. Paling tidak dari plat nomor mobil yang berjajar rapi di depan warung, kita akan tahu darimana saja mereka berasal. Terlebih ketika hari libur, banyak warga Tuban yang Welut Pak Bagong…berstatus sebagai buruh migran akan sambang ke Tuban.

Belut digoreng basah dengan bumbu pedas. Lain dari yang sering kita jumpai yaitu lalapan belut yang cederung goreng kering. Rasa pedas begitu terasa dan merasuk hingga ke tulang-tulang belut. Nuansa ndeso semakin kental dengan nasi jagungnya. Benar-benar nikmat….

Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2008 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress.
26 queries. 0.821 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.