Kota laknat, begitulah istilah si Zam untuk menggambarkan kehidupan Jakarta.
Minggu lalu saya sambang kamar kos saya yang ada di Bogor. Ada rencana pula untuk melakukan kunjungan kedaerahan di BHI. Namun cuaca yang kurang bersahabat lagi pula keterbatasan komunikasi karena M600i saya telah tiada membuat rencana tersebut gagal. Lagi pula padatnya acara jumpa fans di Bogor membuat saya harus membagi waktu yang terbatas sepandai mungkin. Hehehehe…
Mas Edi sempat mengontak saya dan berencana bertemu pada Jum’at malam di Jakarta. Namun apa daya hujan begitu derasnya mengguyur Bogor, bahkan saya sampai terjebak di perpustakaan kampus ini, menunggu hujan reda.
Jum’at malam itu saya habiskan dengan bermain karambol dengan anak kos. Hahahaa… dasar anak kos! Total saya begadang pada malam itu, dan berencana balik ke Malang pada Sabtu pagi menggunakan Argo Bromo pagi. Hasil gerilya tiket pesawat tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan….
Sabtu selepas Shubuh saya dan orang ini, menuju ke kota laknat. Saya berhenti di Gambir dan ternyata tiket kereta Argo Bromo telah habis terjual. Saya langsung membeli Gajayana yang langsung ke Malang, namun harus rela menunggu 10 jam. Kenapa? Karena Gajayana berangkat pukul 17.32 WIB. Sepuluh jam di Gambir! Gila!…
Kepala sudah pening karena tidak tidur semalaman…
Kemana nih tidur? Kalau saja saya tidak membawa harta saya yang paling berharga, saya dengan mudah akan tidur beralaskan Kompas. Tapi…
Saya sungkan untuk menghubungi Mas Edi, lha saya tidak tahu kesibukan beliau. Lagi pula saya dalam kondisi ngantuk berat, so kalaupun ketemuan kami tidak bisa saling melepas hasrat.
Akhirnya saya menghubungi orang ini, dan langsung naik taksi menuju rumahnya di daerah Kantor Arsip Nasional Jaksel. Lumayan bisa tidur….
Jam 15.45 saya berangkat ke stasiun Jakarta Kota dari stasiun Pasar Minggu. Tentu saja naik KRL ekonomi…
Sketsa kota laknat pun dimulai…
Gerbong yang kelihatan sangat tidak terawat dengan kaca pecah disana-sini. Aneka coretan iseng, tempelan iklan… Hebatnya bukan hanya lantai yang basah karena air hujan, kursi pun tampak basah. Banyak yang lebih rela berdiri dibandingkan harus duduk di kursi yang basah.
Pengasong, sosok pekerja keras yang patut ditiru oleh anggota DPR tampak lalu lalang menawarkan barang dagangannya…
Pengamen tuna netra mencoba memberikan hiburan. Kantong kain yang tergantung di dadanya penuh dengan uang. Entah karena penghargaan atas seni, terimakasih atas hiburan yang diberikan atau hanya BELAS KASIHAN…
Read More