Bacalah….
Membaca menjadi sebuah pengisi waktu senggang yang mengasyikkan. Apa yang menjadi bacaan saya? Kalau harian alias koran, Jawa Pos jawabnya. Yah, karena sedari SD, saya sudah terbiasa atau dibiasakan dengan korannya Dahlan Iskan ini. Saya masih ingat ketika kecil, saya selalu sarapan Jawa Pos terlebih dahulu sebelum berangkat mandi, sarapan dan pergi ke sekolah. Saya bersyukur mas loper sangat rajin mengantarkan koran di kala pagi buta. Paling lambat jam setengah enam pagi, koran telah ada di teras rumah.
Sampai saat ini, saya hanya puas apabila membaca koran Jawa Pos. Entah mengapa? Mungkin karena sedari kecil saya telah teracuni oleh gaya bahasa dan liputan Jawa Pos.
Selain Jawa Pos, masa kecil saya akrab dengan koran corong Soeharto, Suara Karya. Sebuah koran dari Jakarta dengan gambar beringin yang dibonsai pada headernya. Satu koran lagi Karya Dharma, terbitan Surabaya. Saya heran kenapa menggunakan nama Karya? Apa bosnya bernama Karya Wijaya atau Bob Karya atau juga Karya Salim? Hahahahaha….
Dua koran ini merupakan kepanjangan mulut Soeharto di daerah-daerah. Saya tidak bisa membayangkan berapa besar oplahnya, terutama Suara Karya. Semua sekolah negeri dan instansi WAJIB berlangganan koran basi ini. Ya, koran basi karena pada masa itu belum ada teknologi cetak jarak jauh. Anda bisa bayangkan bagaimana kebasiannya.
Lho kenapa saya sampai mendapatkan kedua koran ini? Apalagi kalau bukan pemaksaan khas orde baru. Paling tidak menyeragamkan opini, terutama di kalangan PNS. Betul! Bapak saya adalah seorang guru SD, tepatnya lagi kepala SD. Setiap minggu atau di kala sempat, para kepala SD berkunjung ke Kantor Ranting Dinas P dan K (istilah di jaman itu). Tujuan kunjungan rutin sekaligus wajib ini adalah mengecek ada tidaknya surat sekaligus mengambil jatah koran-koran basi tersebut. Semakin jelas kebasiannya kan? Bisa anda bayangkan bagaimana dengan sekolah-sekolah terpencil, mungkin sebulan sekali baru menerima rapelan koran.
Ketika kecil dulu pun saya sudah muak dengan Suara Karya dan Karya Dharma ini, yah hanya cari-cari komik atau kartun lucu saja atau mungkin berita yang “terlewatkan” oleh Jawa Pos. Gak tahu mengapa? Saya merasa gak sreg dengan gaya bahasa serta liputan yang disajikan kedua koran pengawal Soeharto ini. Ahh, mungkin sudah ada “jiwa pemberontak” pada diri saya. Hahahahaha….
Sampai kini, saya masih setia dengan Jawa Pos. Sesekali saya membeli dua koran sekaligus Jawa Pos dan Kompas. Saya belum berlangganan koran, lha setiap saat bisa mabur kemana-mana kok. Jadi mending tiap hari aja beli di kios atau di perjalanan.
Terkadang saya rindu juga dengan Jawa Pos, terlebih ketika saya berada di Bogor. Walaupun sudah ada Radar Bogor, tapi BEDA BANGET dengan kakak kandungnya. Kalau di kampus saya lebih sering membaca Kompas, yah bacaan para akademisi katanya! Lagi pula kan cuman seribuan! Hahahahaha….
Bagi saya membaca koran masih sebuah keharusan, walaupun sudah ada versi online-nya. Rasanya lebih nyaman ketika di pagi hari kita membaca koran sambil makan pisang goreng plus kopi manis ditemani asap tembakau bakar. Sebuah kenyamanan hidup bagi saya.
Selain koran, saya mempunyai sebuah bacaan wajib. Sebuah majalah bulanan dari kelompok Gramedia. Majalah ini termasuk majalah senior, bagaimana tidak usianya telah mencapai 44 tahun. Intisari….
Saya membaca Intisari pertama kali saat masih SD, saya lupa tepatnya kelas berapa. Itu pun hanya sebuah kebetulan saja, bukan sebuah rutinitas. Sangat menarik! Itu yang ada di benak saya kala itu. Sebuah majalah yang nano-nano, banyak artikel dan liputan yang khas dan nyeleneh, jarang dibidik oleh majalah lainnya. Satu lagi, cerita kriminalnya yang “mirip” dengan detektif Conan. Hehehehe…..
Ya, itulah awal perkenalan saya dengan Intisari. Selepas itu kami berpisah. Praktis hingga saya meraih gelar sarjana, saya tidak berjumpa dengan Intisari lagi. Saya larut dengan kehidupan saya atau mungkin telah melupakannya. Ketika saya diterima menjadi CPNS, saya berkenalan sengan seorang kawan baru bernama Cahyo. Dari tangannya pula saya kembali berjumpa dengan Intisari dan saya semakin akrab dengan Intisari ketika calon istri saya (waktu ituh masih calon statusnya) juga menyukai majalah tersebut. Bahkan, calon istri saya mempunyai beberapa koleksi Intisari jadul.
Ketika kami menikah, kami memutuskan untuk memilih Intisari sebagai bacaan keluarga. Sejak itu pula kami memutuskan untuk rutin membeli Intisari dari kios koran dekat rumah. Sering kami harus indent karena kehabisan stok, pernah pula kami ketinggalan hingga saya harus mengubek-ubek Gramedia hingga Gramedia Boker Bogor.
Karena takut kehilangan serta untuk mempermudah mendapatkannya dan yang paling penting menghemat, maka mulai akhir tahun lalu kami memutuskan berlangganan langsung. Lumayan murah dibandingkan membeli eceran, Rp. 302.400,- cukup untuk menebus langganan Intisari selama 2 tahun penuh. Harga Intisari per edisi antara 18 ribu hingga 25 ribu, fluktuatif tergantung tebal tipisnya. Seringkali Intisari menambahkan suplemen khusus atau liputan khusus sehingga pembaca harus merogoh kocek lebih dalam untuk menebusnya.
Intisari Maret 2008 memberikan suplemen tambahan tentang “sekolah tepat, pekerjaan didapat”. Mei 2006 terdapat liputan khusus “Piala Dunia 2006”. Mei 2007 ada sajian khusus “panduan liburan keluarga”. September 2007 ada liputan khusus tentang “medical chek up”.
Artikel Intisari cukup beragam mulai dari liputan sosok terkenal model biografi, artikel kesehatan, teknologi hingga sinopsis buku atau film. Tulisan Arswendo Atmowiloto tentang rumah pertama (lupa edisi kapan? Males bongkar-bongkar!), balada mobil pertama (Agustus 2007) dan perjuangannya untuk mendapatkan mesin ketik pertama (Februari 2008) sangat mengugah perasaan saya. Sebuah semangat untuk menggapai mimpi! Kisah Larry dan Sergey (Februari 2007) yang mampu menguasai dunia melalui google, pasti akan membuat anda lebih bersemangat menjalani hidup dan berusaha. Saya dibuat tertarik sekaligus terkesima oleh tulisan-tulisan Seno Gumira Ajidarma, enak dan mengalir…
Oh, ya, saya kami juga mendapatkan sebuah hengpon dari Intisari. Nokia 5700, hadiah undian bagi para pelanggan. Kedepan saya berkeinginan untuk menambah satu lagi bacaan keluarga, National Geographic Indonesia. Sebenarnya selain Intisari, ada satu buah buletin yang juga menjadi bacaan saya dan istri, Al-Falah, sebuah buletin dari YDSF.
Oke, bagaimana dengan anda? Selamat membaca!……
Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!




![PusatLowongan[dot]com](http://pusatlowongan.com/images/lowongan kerja.jpg)



March 25th, 2008 at 12:11 am
bacaan wajib sampeyan kurang kuwi kang…
tiyangsae dot wp dot crot belum disebutkan
[Reply]
March 25th, 2008 at 5:54 am
wah.. bisa2 dapet hengpon lagi neh dari Intisari gara2 bikin postingan ini, atau bahkan mungkin si Jawa pos juga ikutan ngasih yang lebih.. hehehe..
[Reply]
March 25th, 2008 at 7:16 am
asik nih….
bisa menjadi ketertarikan yang baruuuu
[Reply]
March 25th, 2008 at 8:30 am
wah kalau saya membaca itu “wajib”. tak hanya sekedar mengisi waktu senggang, tapi memang menyediakan waktu untuk membaca….. saya senang aja siiii
[Reply]
March 25th, 2008 at 8:43 am
Aslkm….
benar mas, membaca adalah suatu kebiasaan dan hobi yang bagus, apalagi bacaan yg bermutu.
kalo baca sudah menjadi budaya bangsa ini, InsyaAllah bangsa ini akan bangkit.
[Reply]
March 25th, 2008 at 8:47 am
Biasane membaca berhubungan dengan menulis, dan bener saja setelah membaca itu trus kang Slamet nulis, hehehe…
[Reply]
March 25th, 2008 at 9:11 am
wah, penggemar Mat Karyo ya.. ha..ha..
[Reply]
March 25th, 2008 at 9:23 am
intisari emang menarik
saya dulu juga suka mbacanya
selain ada kutipan, juga cerber(?) yg ada di situ
juga baca Berita Buana dan Buana Minggu
udah ga ada yak skarang
[Reply]
March 25th, 2008 at 10:08 am
dulu juga suka baca intisari, tp masih yg ukurannya kecil kyk novel itu. kl skrg malah blm pernah baca kl ukurannya dah berubah ukuran hvs.
saya juga suka majalah dari ydsf, meski tipis sarat akan informasi agama. bahkan dulu suka kolom MQ nya aa gym saat beliau masih muda
[Reply]
March 25th, 2008 at 10:27 am
kalo saya tiada hari tanpa SINDO, pagi dan sore
[Reply]
March 25th, 2008 at 10:46 am
hehehe…pas kuliah nang Malang, aku magang nang karya darma, trus kerjo nang Jawa Pos biro Malang. Wah…ngga nyangka kalau keluarga sampeyan langganan karya darma..*meski kepekso.
Kalau aku seneng mbaca Joyo Boyo ama Penjebar Semangat, meskipun nggak tau artine…heheheheh
[Reply]
March 25th, 2008 at 11:13 am
Sejak blog marak, blog merupakan sumber bacaan saya yang baru.
[Reply]
March 25th, 2008 at 11:23 am
hohoohoh
jd inget, tiap kali baca kompas 1000 perak yg dijual siang2 itu
saya cuman baca judul2nya saja
kalo di rumah bacanya japos juga
hidup japos
[Reply]
March 25th, 2008 at 1:10 pm
Wah, sarapannya aja jawa pos. Makan malamnya apa nih? Jangan 2 koran juga. Awas ntar botak lho….He…
[Reply]
March 25th, 2008 at 2:46 pm
wah sampeyan pancen pantes bernama slamet!!!
slamet membaca juga!
[Reply]
March 25th, 2008 at 6:29 pm
Di rumah langganan koran pagi, harian lokal. Tapi nyaris selalu dibaca malamnya, karena aktivitas mburuh. Lah malah lebih dulu liat detik atau situs berita lainnya
tapi salut dengan kebiasaan membaca nya, yah untuk ukuran orang indonesia, sampeyan huebat jreng. Slamet
[Reply]
March 25th, 2008 at 7:23 pm
wew… banyak juga bacaannya pak. masih ditambah koran online ndak, pak?
[Reply]
March 25th, 2008 at 10:47 pm
suara karya … ada hubungannya dengan golongan karya nggak ya? hehehe
membaca itu asik!
[Reply]
March 26th, 2008 at 11:51 am
wah kalo saya ndak ngurangi membaca nanti “mripat” saya mirip gus dur… wekekekekeke
[Reply]
March 27th, 2008 at 8:44 am
klo gak salah Jawa Pos punya sekitar 40 anak perusahaan di bidang penerbitan koran ataupun majalah, eh pabrik kertas juga ada
[Reply]
March 31st, 2008 at 12:15 am
lebih suka baca blog orang, koran online mau beli koran or majalah mahal
[Reply]