Meraba dari bawah hingga atas…
Nama Maluku Utara semakin hari semakin melejit dan kian akrab di telinga kita. Setiap hari kita sering mendengar nama propinsi ini disebut. Ya, kisruh pilkada yang telah melambungkan nama propinsi baru, hasil pemekaran dari propinsi Maluku ini. Sampai tulisan ini dibuat pun belum jelas siapa yang bakal menjadi gubernur propinsi yang ibu kotanya terletak di Ternate ini.
Sebuah keberuntungan bagi saya, untuk dapat berjeng-jeng di Maluku Utara. Perjalanan saya awali dari Malang!
–Yah, sebenarnya saya sudah berada di Malang sejak 21 Februari lalu. Tetapi sesampai di Malang saya terkapar tak berdaya. Badan demam disertai batuk dan perut kembung! Kata dr Hartoyo yang mangkal di pertigaan daging Dinoyo, saya mengalami infeksi pencernaan! Ahhh… masak gara-gara ini ya! Setelah beristirahat dan mengurangi rokok sesuai anjuran Pak Dokter, berangsur-angsur kesadaran kesehatan saya pulih. Minggu, 14 Februari, saya meluncur menuju Tuban untuk menjenguk nenek yang sedang sakit. Ya, saya masih punya nenek. Rabu, 17 Februari kembali ke Malang dan Sabtu, 23 Februari mabur ke Ternate!-
Saya terbang ke Ternate menggunakan MNA dengan satu kali transit di Makassar Maros. Bandara Sultan Hassanudin terletak di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan, bukan di Kota Makassar! Di bandara sudah menunggu Him dan orang ini. Memang kami bertiga akan bersama-sama belajar di Halmahera Barat. Setelah ngeteh dan ngerokok sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju Ternate.
Ternate, sebuah kota yang terletak di tepian laut dengan topografi berbukit, bahkan terdapat sebuah gunung berapi aktif yang seolah menaungi kota ini. Gunung Gamalama yang memiliki ketinggian 1.721 mdpl dengan setia mengepulkan asapnya.
Saya beruntung bisa meluangkan waktu untuk menjelajah Ternate dari bawah hingga atas, dari pantai hingga di puncak bukit. Jeng-jeng ini kami lakukan sehari sebelum meninggalkan Ternate. Kesempatan pertama yang saya kami kunjungi adalah Pantai Sulamadaha. Lokasinya sangat terjangkau, hanya sekitar 12 km dari pusat kota. Akses jalan pun sudah mulus dan juga angkutan umum dapat dengan mudah kita jumpai disini. Tidak mengherankan pada hari libur, pantai ini menjadi tujuan utama untuk jeng-jeng bagi warga Ternate dan sekitarnya. Saya sempat nongkrong memandang lautan lepas sambil menikmati daun muda kelapa muda.
Setelah menyeruput kelapa muda, kami pun bergegas melanjutkan perjalanan. Kami harus bergegas karena harus berkejaran dengan hujan. Masih di jalur yang sama, sekitar 5 km dari Pantai Sulamadaha terdapat sebuah danau yang sangat indah. Danau Tolire, sebuah danau yang sebenarnya merupakan sebuah kaldera gunung berapi. Sejauh mata memandang, kami disuguhi pemandangan hijau yang menyegarkan mata.
Konon, Danau Tolire merupakan wujud amarah Sang Kuasa atas perilaku hambanya. Dahulu wilayah ini merupakan perkampungan, suatu malam diadakan pesta rakyat. Seluruh penduduk kampung berpesta dan menenggak minuman keras hingga mabuk. Pengaruh kuat minuman keras ini menyebabkan seorang ayah bersetubuh dengan anak gadisnya sendiri. Petaka pun datang! Perkampungan ini luluh lantak oleh air dan tergenang menjadi sebuah danau. Sang gadis berusaha lari, namun akhirnya tenggelam dan menjadi sebuah danau pula. Danau ini dikenal dengan Danau Tolire Kecil. Danau Tolire Kecil hanya berjarak 1 km dari Danau Tolire.
Puas berpose di Danau Tolire, jeng-jeng pun kami lanjutkan! Tujuan kami selanjutnya adalah mencapai daerah tertinggi di Kota Ternate. Maksudnya daerah tertinggi dan paling mudah dijangkau. Kalau daerah tertinggi di Ternate ya puncak Gamalama! Sekitar 10 km dari pusat kota, kami menemukan pemandangan menakjubkan! Persis seperti yang tercetak pada uang seribu rupiah! Wowwww….. Pulau Maitara dan Tidore.
Bagaimana dengan Halmahera Barat (Halbar)?
Halbar yang beribukota di Jailolo dapat ditempuh selama 2,5 jam perjalanan laut dari Ternate. Ongkos yang harus dibayar untuk moda transportasi ini relatif murah, Rp. 30.000,- saja. Yah, dibandingkan harus berenang!
Selama seminggu di Maluku Utara, waktu paling banyak kami habiskan di Jailolo. Disini kami belajar dari masyarakat untuk menghidupkan kembali nilai lokal dalam pemerintahan desa. Tulisan serius tentang ini akan saya sajikan disini pada waktu mendatang. Itu pun jika sempat dan ingat!
Di Halbar, kami sempat mengunjungi pantai Susupu. Pantai sepanjang 2 km ini menyuguhkan pemandangan yang cukup menarik. Hamparan pasir hitam dengan kerikil-kerikilnya terasa menggelitik tapak kaki…. Seperti biasa poto-poto dulu!
Ketika kami di pantai Susupu, ombak terasa sangat tenang. Kebetulan, katanya. Biasanya ombaknya tinggi, sehingga pas untuk selancar. Sayang, pantai ini masih belum tersentuh banyak wisatawan. Masih virgin katanya!
Selama di Halbar, kami tidak sempat untuk banyak berjeng-jeng. Kesibukan belajar menjadi alasan kami.
Kalau urusan makanan, bukan hanya orang ini yang suka. Makanan apa yang khas dari daerah ini? Pisang goreng! Hampir setiap hari kami menyantap pisang goreng. Bahkan pisang goreng seolah menjadi menu wajib dalam menyambut tamu. Tapi tunggu dulu! Ini bukan pisang goreng yang sering saya jumpai di Malang atau Bogor. Pisang gorengnya seperti ini :
Ya, selain irisannya yang agak berbeda dengan pisang goreng Jawa, cara penyajiannya pun berbeda. Bagi saya, makan pisang goreng ya pisang gorengnya saja. Tapi disini kami mendapatkan pengalaman berharga dalam menyantap pisang goreng. Ada sambal, ada kacang goreng. Ya, makan pisang goreng dengan sambal pedas sekaligus kacang goreng. Tak lupa ditemani oleh minuman khas, wedang air jahe gula Jawa merah yang hangat. Mak nyus deh…………….
Papeda, makanan yang aneh menurut saya. Terbuat dari sagu atau ubi kayu. Bentuknya persis seperti lem kanji. Papeda disajikan sebagai pengganti nasi. Maka menyantapnya pun tak jauh beda dengan nasi. Papeda disajikan dengan kuah ikan dan sayur. Lho yang aneh apanya? Cara makannya! Bagi saya atau orang Jawa, makan identik dengan mengunyah. Setiap ada suapan atau sendokan benda padat yang masuk ke mulut tentu secara reflek akan kita kunyah. Tapi ini tidak berlaku untuk papeda. Kita disarankan untuk tidak mengunyahnya, tapi langsung saja telan, maksudnya papedanya yang ditelan. Kalau ikan dan sayur ya dikunyah. Konon bagi penduduk ambon, cara memakannya tidak menggunakan bantuan tangan, tapi langsung diseruput! Mak sruttt….
Selain papeda, aneka menu hasil laut menjadi santapan saya sehari-hari. Tapi jangan heran apabila di Ternate maupun Halbar, anda akan berjumpa dengan laskar Persela. Maksudnya, para penjual makanan aneka lalapan ini pastilah orang Lamongan dan sekitarnya. Ikan baik yang digoreng maupun bakar sih sama saja rasanya dengan di Jawa, tapi ada sambal khas yang tidak atau belum pernah saya jumpai di Jawa.
Selain sambal reguler, disajikan pula sambal tambahan berupa irisan tomat, cabe dan bawang merah plus diberi air melon lemon. Wah seger….
NB : Maaf buat mas Iman Brotoseno, gak dapat info tentang dunia perselaman.
Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!

















![PusatLowongan[dot]com](http://pusatlowongan.com/images/lowongan kerja.jpg)



March 8th, 2008 at 1:39 am
wew… sebuah pemandangan yang indah dan eksotis. sungguh beruntung pak slamet bisa berjeng-jeng ria di bumi Ternate. jadi ngiri nih, pak. kapan aku bisa ikutan berjeng-jeng, yak, hiks. apalagi lihat makanan khas yang dihidangkan, wuih, bikin nguiler.
[Reply]
March 8th, 2008 at 6:08 am
pemandangannya keren, jadi pengen kesana. salam kenal dari ngawi pak
[Reply]
March 8th, 2008 at 8:06 am
kisah kisah seperti memang mengukuhkan negeri kita yang kaya dan indah…
* Indonesiaku bukan Indonesiamu, atau Indonesia mereka ( he he he )
[Reply]
March 8th, 2008 at 9:26 am
wah foto pemandangannya, ampuh tenan….bagus mas…
[Reply]
Ramli naisr reply on July 22nd, 2008:
terima kasih anda telah mempromosi daerah saya halbar,tetapi masih banyak lagi misalnya sejara dan wisata alam,taman laut,air panas,dan lain banyak de.sukses buat anda
[Reply]
March 8th, 2008 at 9:34 am
weh.. dokter hartoyo? emang rumahnya mas slamet daerah situ tha? kita tetanggaan dong
[Reply]
March 8th, 2008 at 10:08 am
waduh kpn ya saya isa jln2 yg jauh ke tp2 indah kek gitu..indonesia memang biutipul..
[Reply]
March 8th, 2008 at 10:19 am
gile cantik2 banget pemandangannya…
Maha besar Allah..
suatu catatan yg bener2 kumplit dari atas kebawah…
[Reply]
March 8th, 2008 at 11:16 am
buseettt…!!
gambare cakep2 tapi sing duwe gambar kok kuru men. imana mau merabanya???
[Reply]
March 8th, 2008 at 11:35 am
Met malah kuru ae..makane kuliner ae nang kono…mangan sing akeh cek ndang lemu hehee…
[Reply]
March 8th, 2008 at 12:44 pm
Gimana titipan pesenku ke gubernurnya?
Sudah ditanggapi?
Kapan dibayar?
Eh, aku langganan dokter Hartoyo loh.
[Reply]
March 8th, 2008 at 3:03 pm
seneng bgt ya kayaknya…………..
[Reply]
March 8th, 2008 at 3:42 pm
wah… andai ada yang mengekspos lebih jauh tentang kekayaan dan budaya negeri ini, tentu akan terlihat betapa kayanya kita ini, sayang tak semua berkeinginan dan berkomitmen sama.
[Reply]
March 8th, 2008 at 6:29 pm
halah……gambar panganane marahi ngeces ae kie..
[Reply]
March 8th, 2008 at 8:00 pm
waduh indahnya… pengen jalan jalan terus, tapi….
[Reply]
March 8th, 2008 at 8:22 pm
Foto2ne kereen! Mas, tulisan slametwidodo-ne aja kegedhen to!
[Reply]
March 9th, 2008 at 2:29 am
Wew.. gila keren2 banget itu.. berarti mas kenal sama mas adis yah?? kemaren2 dia juga posting tentang pantai sulamadaha ini
[Reply]
March 9th, 2008 at 6:50 pm
Jadi pengen kesana
[Reply]
March 9th, 2008 at 6:59 pm
enak banget pak! keliling indonesia.. saya paling jauh lampung ama bali.. wekekekekeke.. sayangnya itu juga puluhan tahun lalu.. hehehe
[Reply]
March 9th, 2008 at 7:08 pm
Waks, fotone akeh tenan, mesakke sing podo fakir benwit hehehe…
[Reply]
March 9th, 2008 at 7:33 pm
wah ada papeda, asik asik
*hunting papeda ah..*
[Reply]
March 9th, 2008 at 7:56 pm
Jurnal perjalanannya asyik. Fotonya bagus2. Acara makan2nya juga mantap. Begitu pulang nanti harus sudah ndut ya.
[Reply]
March 10th, 2008 at 2:26 pm
adooooooooooooohh
pengen sruput lem kanji nya donkkkkkkkkkkkkk
*iri mode on
[Reply]
March 14th, 2008 at 1:28 pm
ternate memang keren kalo difoto ya!
hahahahahaha….
—aku ingin pulang—
[Reply]
March 27th, 2008 at 2:40 pm
acara opo JENG JENG mrono cak?
[Reply]
April 25th, 2008 at 1:37 pm
keren banget
aku ingin PuLANG
[Reply]
June 3rd, 2008 at 9:32 am
Foto pemandangannya luar biasa, tapi sayang mas! masih banyak pemandangan Indah di Halbar yang di lewati, tapi sebagai orang halbar pantas diucapin Thanks buat mas widodo yang telah mampir di tempat kami..
[Reply]
September 10th, 2008 at 12:11 pm
ass… hebat! tq dah mempromosikan daerah kami. cb gali lbh dalam lagi tentang tidore. or qta bs jointan sama cowz aku orang tidore yang lg menimba ilmu di malang. bs tuker2 info. tq mas.. slm knl. lia
[Reply]
October 8th, 2008 at 2:33 pm
Mas, mampir baca-baca nih…
kunjungi balik ya….!
[Reply]
November 20th, 2008 at 4:06 am
iyah2 hehee.. cuman bedanya kalo di Luwu itu, sudah dibuat kecil2 jadi kita ndak perlu lagi ambil dari besarnya itu…
hehehe
sudah bercampur kuah
nikmat banget tuh sama ikan bakar…
seafood i like it
[Reply]