Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo adalah seorang warga negara Republik Indonesia


Archive for March, 2008


Kembali ke selera asal…

Berkurang satu maskapai penerbangan kita, Adam Air. Maskapai dengan konsep Low Cost Carrier (LCC) yang sering menghebohkan dunia persilatan penerbangan ini telah resmi dilarang terbang. Bisa dibayangkan dampaknya bagi konsumen penerbangan nasional. Hukum ekonomi pun menghasilkan sebuah keputusan berupa melonjaknya harga tiket. Tentu saja hal ini terjadi, jumlah penerbangan menjadi semakin terbatas. Surabaya-Jakarta, Adam Air mempunyai jadwal penerbangan sebanyak 10 kali per hari. Apa artinya? Penawaran sebuah barang berkurang sebanyak 10 unit so melambunglah harga. Ah, kenapa saya ngurusi Adam Air? Karena saya sering melakukan perjalanan Surabaya-Jakarta dan tentu saja dengan tiket murah. Penghematan waktu menjadi alasan utama saya. Harga yang tidak jauh beda dengan kereta api eksekutif atau bus malam eksekutif menyebabkan saya lebih memilih menggunakan moda transportasi yang satu ini.

Sebenarnya saya jarang menggunakan Adam Air, saya malah pertama kali menggunakan Adam Air setelah peristiwa memilukan di perairan Majene, awal tahun 2007 lalu. Saya lebih terbiasa menggunakan Air Asia. Kenapa? Karena Air Asia merupakan pelopor LCC dan juga kemudahan bertransaksi via internetnya. Seringkali saya iseng dikala online sambil makan siang di kantin sapta, saya cek harga tiket. Dan apabila rindu ini telah memuncak serta dukungan harga tiket yang terjangkau, tanpa ragu saya membelinya. Begitu mudah dan simpel. Bahkan ini menjadi salah satu alasan utama saya untuk membuat kartu kredit. Waktu itu, Lion Air masih harus melakukan pembayaran melalui ATM, ribet menurut saya, seseorang yang telah termanjakan oleh teknologi.

Read More

Asam manisnya kedondong….

Kedondong atau Gedondong atau Dondong (Spondias dulcis Forst) merupakan buah remeh temeh yang tidak pernah dijumpai di supermarket dalam bentuk segar. Namun olahannya berupa manisan dapat kita jumpai disana. Buah yang identik dengan rujak dan manisan ini cukup mudah kita jumpai di pasar tradisional. Buah yang bijinya sering diplesetkan sebagai obat gatal-gatal di tenggorokan ini dapat tumbuh pada dataran rendah hingga ketinggian 700 mdpl.

Dondong…

Read More

Ahhh…uhhh…mhhh…ahhh…

Urusan yang satu ini pasti menyenangkan. Saya bisa melakukannya dimana saja. Sambil nonton tivi, di ruang tamu, bahkan di dapur. Bagi saya dimana saja nikmat.

Suatu sore, ketika istri baru pulang kerja, saya tiba-tiba menginginkannya. Namun saya kasihan dengan istri saya yang capek sepulang kerja belum lagi si kecil yang kangen sama mamanya. Akhirnya saya melakukan sendiri, swalayan katanya. Melakukan sendiri juga tidak kalah enaknya kok. Yah hanya membutuhkan sedikit tenaga dan keterampilan tangan saja, kenikmatan akan saya dapatkan. Biasanya saya melakukannya dengan tangan kanan, genggamannya lebih kuat.

Read More

Bacalah….

Membaca menjadi sebuah pengisi waktu senggang yang mengasyikkan. Apa yang menjadi bacaan saya? Kalau harian alias koran, Jawa Pos jawabnya. Yah, karena sedari SD, saya sudah terbiasa atau dibiasakan dengan korannya Dahlan Iskan ini. Saya masih ingat ketika kecil, saya selalu sarapan Jawa Pos terlebih dahulu sebelum berangkat mandi, sarapan dan pergi ke sekolah. Saya bersyukur mas loper sangat rajin mengantarkan koran di kala pagi buta. Paling lambat jam setengah enam pagi, koran telah ada di teras rumah.

Sampai saat ini, saya hanya puas apabila membaca koran Jawa Pos. Entah mengapa? Mungkin karena sedari kecil saya telah teracuni oleh gaya bahasa dan liputan Jawa Pos.

Selain Jawa Pos, masa kecil saya akrab dengan koran corong Soeharto, Suara Karya. Sebuah koran dari Jakarta dengan gambar beringin yang dibonsai pada headernya. Satu koran lagi Karya Dharma, terbitan Surabaya. Saya heran kenapa menggunakan nama Karya? Apa bosnya bernama Karya Wijaya atau Bob Karya atau juga Karya Salim? Hahahahaha….

Dua koran ini merupakan kepanjangan mulut Soeharto di daerah-daerah. Saya tidak bisa membayangkan berapa besar oplahnya, terutama Suara Karya. Semua sekolah negeri dan instansi WAJIB berlangganan koran basi ini. Ya, koran basi karena pada masa itu belum ada teknologi cetak jarak jauh. Anda bisa bayangkan bagaimana kebasiannya.

Lho kenapa saya sampai mendapatkan kedua koran ini? Apalagi kalau bukan pemaksaan khas orde baru. Paling tidak menyeragamkan opini, terutama di kalangan PNS. Betul! Bapak saya adalah seorang guru SD, tepatnya lagi kepala SD. Setiap minggu atau di kala sempat, para kepala SD berkunjung ke Kantor Ranting Dinas P dan K (istilah di jaman itu). Tujuan kunjungan rutin sekaligus wajib ini adalah mengecek ada tidaknya surat sekaligus mengambil jatah koran-koran basi tersebut. Semakin jelas kebasiannya kan? Bisa anda bayangkan bagaimana dengan sekolah-sekolah terpencil, mungkin sebulan sekali baru menerima rapelan koran.

Read More



Berpikir Merdeka © 2007-2008 All Rights Reserved. I am proudly using WordPress.
27 queries. 0.305 seconds.

Saur 1.2 made by Nurudin Jauhari
Entries and Comments.