Nasib pertanian kita………
Nasib buah lokal yang semakin terpinggirkan membuat hati saya semakin miris. Bagaimana tidak, buah impor tidak saja merajai lapak-lapak supermarket besar, namun kini di lapak kaki lima pinggir jalan pun, buah impor seolah menjadi raja. Kita lebih mudah melihat apel fuji atau apel washington dibandingkan dengan apel batu.
Dulu, sewaktu saya masih kecil. Buah impor hanya bisa didapatkan di supermarket besar dengan harga yang mahal. Namun kini buah lokal malah relatif lebih mahal dibandingkan buah impor. Bahkan kita bisa mendapatkannya dengan mudah.
Produktivitas pertanian semakin menurun sehingga tidak mampu memenuhi permintaan dalam negeri sendiri. Impor menjadi sebuah keharusan untuk menghadapi krisis pangan. Beras impor, kedelai impor, buah impor, tenaga kerja manusia ekspor!
Kasus terakhir yang juga tidak luput dari pengamatan para blogger adalah melonjaknya harga kedelai karena keterbatasan stok di pasaran. Tahu dan tempe menjadi naik daun dan menjadi topik bahasan oleh para blogger.
Sektor pertanian kita semakin tertinggal jauh dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam. Negara yang ketka orang ini memimpin, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan negara kita. Lalu apa yang salah? Banyak Doktor ilmu pertanian yang ahli pada berbagai kajian pertanian, namun seolah-olah mereka tidak mampu untuk memecahkan masalah bangsa ini. Ahli agronomi akan berkata bahwa telah terjadi penurunan produksi yang disebabkan oleh ketidakmampuan tanah dalam memnuhi kebutuhan hara bagi tanaman. Ahli agroklimatologi akan berkata telah terjadi perubahan iklim sehingga mempengaruhi produktivitas tanaman. Ahli ekonomi pertanian akan berkata bahwa petani tidak efisien. Ahli sosiologi perdesaan akan berkata tentang kesalahan pembangunan pertanian ala revolusi hijau yang tidak ramah lingkungan serta semakin memarjinalkan lahan sekaligus petani.
Semua punya pandangan masing-masing dan tentu saja sesuai dengan bidang ilmunya. Bahkan ahli dalam satu bidang ilmu saja mungkin akan berdebat sesuai dengan madzab-nya masing-masing. Debat ini seolah jauh lebih penting dibandingkan dengan pencarian solusi itu sendiri.
Harus bagaimana?
Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!![PusatLowongan[dot]com](http://pusatlowongan.com/images/lowongan kerja.jpg)






January 31st, 2008 at 2:12 pm
Sudah waktunya ada inter-disciplinary studies. Biar gak ngomong sendiri2. Tapi ya saya sendiri mungkin juga masih begini2 saja.
[Reply]
November 24th, 2008 at 6:32 am
Untuk membangun pertanian yang maju harus melalui pertanian terpadu yang ditunjang oleh organisasi usaha yang betul-betul membangun dunia pertanian indonesia yang berfungsi mengendalikan sepekulan-sepekulan yang ingin mencari keuntungan sendiri. Tugas dari organisasi usaha tersebut yaitu berperan menyediakan sarana dan prasarana pertanian yang terkendali, pembinaan yang berkesinambungan dan pembelian hasil produksi dengan harga yang pantas. Kegiatan usaha ini harus benar-benar milik petani yang semua keuntungannya juga tetap dinikmati oleh petani berupa SHU.
[Reply]