Pencantuman gelar akademik dan “Don’t luk de buk jas prom de kaver” ala Tukul.
Pencantuman gelar akademik pada kartu identitas seprti KTP dan SIM ternyata sangat bermanfaat. Bukannya kita mau sok-sokan tapi manfaat pencantuman gelar akademik inilah yang kita inginkan. Lho memang manfaatnya apa? Banyak sekali. Berikut ini terdapat kisah anak cucu Adam yang telah merasakan manfaat pencantuman gelar pada kartu identitas.
Penggunaan gelar akademik sendiri telah diatur melalui Kepmendiknas No 178/U/2001.
Terdapat dua butir yang menurut saya penting untuk dicermati :
- Pencantuman gelar akademik hanya boleh digunakan untuk urusan akdemik dan pekerjaan.
- Gelar akademik yang dicantumkan adalah GELAR TERTINGGI.
Kesadaran untuk menjalankan aturan ini ternyata masih sangat kurang. Kita terlalu sering melihat deretan gelar akademik mulai S-1 hingga S-3 pada satu nama (Dr. Ir. Fulan, MSi.), padahal sesuai aturan tadi harusnya Dr. Fulan saja.
Beberapa institusi memang sudah menyadari “kesalahannya”, namun hanya sebagian kecil saja. Sebagai contoh di Unibraw hanya FMIPA yang melaksanakannya.
Terlepas dari aturan tadi, pencantuman gelar akademik pada kartu identitas ternyata memiliki manfaat yang luar biasa.
Kasus I.
Semalam saya sempat ngobrol (sekaligus ngopi dong!!) dengan pak kos (oh ya, saya anak kos lhoo!!!) yang Dr lulusan Jerman. Ngobrol ngalor ngidul buat refreshing tersebut mengambil tema “kisah masa lalu”. Pak kos bercerita pengalaman saat masih muda dulu yang biasa keluyuran menggunakan motor. Suatu saat beliau “dijebak” oleh oknum polisi dengan rambu-rambu lalin yang “nyelempit tapi mematikan”. Merasa tidak bersalah pak kos langsung beradu argumen dengan “oknum” polisi tadi. Sudah menjadi kebiasaan “oknum” polisi yang “mbulet” serta memberi “umpan” jalan damai daripada sidang. Adu argumen berlangsung cukup lama sehingga membuat polisi kesal dan langsung memberi “umpan” terakhir. KAMU ini siapa? Kok melawan petugas. Pak kos yang masih “darah muda” (saat itu) menjawab “Lho pak saya bukan siapa-siapa. Tapi saya tidak mau mengaku kesalahan yang tidak saya perbuat!”. Sang “oknum” langsung meminta KTP pak kos.
drh. Fulan
“Lho MAS-nya ini dokter hewan ya?” Pemilihan kata ganti KAMU langsung berubah menjadi MAS. “Lain kali mas hati-hati ya, lihat dulu rambunya. Memang sih rambunya agak gak kelihatan” … … … (Rambu gak kelihatan kok dipelihara)
Kasus II.
Kalau ini saya alami sendiri pas di Tuban, pas H-1 tahun baru hijriah kemarin. Waktu itu saya akan menghadiri pesta pernikahan GONDES. Saya dengan HERI TASMEN di prapatan kapur (omah dhewe) mau menuju rumah NYAMIK, eh lampu lalin nyala merah. Wah kelamaan nih kalau nunggu lampu, belok kiri aja. Walaupun saya sudah tahu ada tulisan “BELOK KIRI IKUTI ISYARAT LAMPU” tapi karena “darah muda” ya nekat aja belok. Wah tak tahunya ada pak polisi yang lagi jaga dan memang sengaja mengambil posisi di belokan. Priiitt. Saya disuruh minggir dan bertanya “tahu kesalahannya gak?”. Saya jawab aja gak tahu (padahal TAHU BANGET). Saya diminta menunjukkan surat-surat. Di tengah lampu jalan yang remang-remang, pak polisi tadi membaca SIM saya. Slamet Widodo, SP. (hehehehehe bisa jadi presiden nih, kan dah S-1). Kerja dimana ?
Lho lucu ya kalau mau nilang kan tilang aja, kok tanya pekerjaan.
Saya jawab dengan jujur, PNS. Untuk memperkuat bukti, saya keluarkan KTP. Takut gak percaya, soalnya rambut saya gondrong hehehehe.
Karena KTP saya dikeluarkan Kab. Malang, saya semakin PD dengan argumen saya, kalau saya bukan cah tuban, jadi gak begitu tahu aturan BELOK KIRI IKUTI ISYARAT LAMPU di prapatan kapur, kan biasanya belok kiri langsung. (hehehehehe). “Lain kali kalau lihat rambu itu yang jeli ya mas”. Akhirnya saya “dibebaskan”. Trim’s Pak Polisi!!!
Kasus III.
Seorang teman yang bekerja di LSM sedang mengantri di sebuah bank swasta ternama. Yach sesuai dengan bidang kerja LSM yang pro satwa, teman saya datang dengan “kostum hutan”-nya. Teman tadi mau mengambil uang di teller. Mungkin karena sudah jam 15.40, mbak teller sudah capek dan stress, didukung oleh penampilan teman tadi yang rada-rada tidak meyakinkan. Mbak teller dengan tanpa senyum plus ketus bilang, “mana KTP-nya?”. Teman tadi langsung menyodorkan KTP yang bertuliskan Fulan, SPt.
“Ditunggu sebentar ya pak” SMILE….. “Terimakasih”…….. SMILE
Lho tadi disimpan dimana sapaan dan senyumannya!
Banyak kasus lain yang membuktikan bahwa mencantumkan gelar akademik pada kartu identitas (KTP/SIM) ada manfaatnya.
NB: Kasus II jangan ditiru ya!!! PISSSSSSS MEN.
“Don’t luk de buk jas prom de kaver”Tukul
Wah yang ini cerita seru. Empat sekawan yang hobi bilyard sedang kongkow di sebuah rumah bilyard terbesar di Tuban. Empat sekawan tadi kebetulan memakai kostum “sponsor”. Ada yang pakai kaos tipis transparan MILAN keramik (Itu tuh kaos bonus pembelian keramik MILAN), ada yang pakai kaos PDI-P. Satunya lagi pakai kaos KKN (Kuliah Kerja Nyata). Lha kok yang satunya lagi pakai kaos SEPEDA SANTAI HUT SEMEN GRESIK. Wah penuh sponsor deh!!!
Menginjak koin ke-15, mbak score girl datang menghampiri dan berkata “Mas wis akeh lho, mosok nambah maneh” hehehehe gak percaya dengan tampang sang empat sekawan ini rupanya.
Salah seorang dari empat sekawan tersinggung dan langsung mengeluarkan isi saku celananya, dompet, HP, MP3player, USB Flash disk, kunci motor…..
…
Mbak score girl pun kelimpungan dan berlalu begitu saja…
So bener kata Tukul kan!!!
Slamet Widodo, seorang warga negara Republik Indonesia. Sangat mencintai tanah airnya, Merdeka!





May 10th, 2010 at 11:47
Salam kenal pa Slamet,
Sama seperti yang pernah saya alami beberapa waktu yang lalu di Bandung. Waktu itu saya melanggar Lalu Lintas dan memang saya tidak tahu. Kebiasaan setiap sore pulang dari kantor saya lewat sana, dan pada hari minggu siang saya lewat sana juga dan ternyata saya tidak melihat ada aturan kalau minggu siang arah ke jalan tersebut ditutup. Akhirnya pas di perempatan saya distop seorang polisi dan dibawa ke pos dia. Saya ditanya kesalahan saya, dan saya jawab ga tau. Akhirnya dia jelaskan kesalahan saya. Dia minta STNK dan SIM. Saya terus terang mengaku bersalah walau saya berargument tidak melihat larangan. Akhirnya dia bertanya “mau diselesaikan di mana?” saya jawab “ya sudah pa tilang saja”, dia nanya lagi “iya diselesaikannya mau di mana?”, saya jawab lagi “ya di tilang dan diselesaikan di kepolisian Bandung ka Pak?”. Karena jawaban saya ga nyambung dan saya ngerti kalau dia pingin diselesaikan di pos itu seketika itu juga, padahal dia dah siap dengan ballpoint dan struct tilang warna merahnya. Akhirnya dia tanya “memang mau ke mana lewat sini?” saya bilang “mau ke antapani”, trus dia tanya “dulu kuliah di mana?” saya jawab “saya kuliah di unpad”, terus tanya lagi “kerja di mana?”, saya jawab “PNS peneliti”, lalu dia bilang “ya udah lain kali jangan melanggar!”, wahh senangnya…..sambil berlalu dan mengucapkan terima kasih saya berpikir kok polisinya berubah pikiran setelah tahu riwayat pendidikan dan pekerjaan saya…Aneh…:)
Reply